Suara.com - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Partai Demokrat, Fathi, menyatakan keyakinannya terhadap upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang semakin dinamis.
Pernyataan ini disampaikan Fathi menanggapi keyakinan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 tetap mampu menembus angka 5 persen, meskipun Dana Moneter Internasional (IMF) telah merevisi proyeksi ke angka 4,7 persen.
“Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan berbagai stimulus yang pro-rakyat dalam menghadapi gejolak global. Saya yakin strategi ini akan menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi yang solid dan inklusif,” ujar Fathi di Jakarta, Jumat (25/4/2025).
Fathi menilai, berbagai kebijakan fiskal dan moneter yang diterapkan, termasuk keberlanjutan proyek strategis nasional, penguatan sektor manufaktur, serta peningkatan ekspor non-migas, akan menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.
“Kita perlu terus dorong kolaborasi antar-lembaga, mempercepat penyerapan anggaran, serta mendorong UMKM dan sektor produktif lainnya agar tetap tumbuh. Dalam kondisi global yang penuh tekanan, kekuatan domestik harus jadi tumpuan utama,” tegasnya.
Fathi juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperluas pasar ekspor ke kawasan ASEAN, BRICS, hingga Eropa, sebagai bentuk respons adaptif terhadap kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh Amerika Serikat.
“Kepercayaan dan optimisme harus kita jaga, namun tetap dibarengi dengan kewaspadaan dan strategi ekonomi yang konkret. DPR siap mengawal kebijakan yang berpihak pada rakyat dan pertumbuhan berkelanjutan,” tutupnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati tetap yakin bahwa ekonomi Indonesia pada tahun 2025 mampu tumbuh hingga 5 persen. Keyakinan ini diungkapkan Sri Mulyani dalam konferensi pers hasil rapat berkala Komite Stabilitas Keuangan (KSSK) II Tahun 2025 di Jakarta.
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan tetap akan mencapai sekitar 5 persen," tegas Sri Mulyani, menunjukkan optimisme pemerintah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh eskalasi perang dagang.
Baca Juga: Makin Melorot, Bank Dunia Turunkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2025 Jadi 4,7 Persen
Dalam laporan World Economic Outlook edisi April 2025, IMF merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. IMF memprediksi ekonomi Indonesia pada 2025 hanya tumbuh 4,7 persen, lebih rendah dari ramalan sebelumnya sebesar 5,1 persen. Koreksi ini dilakukan seiring dengan meningkatnya eskalasi perang dagang yang dipicu oleh pengumuman tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).
Sri Mulyani mengakui bahwa IMF mengoreksi ramalan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,4 persen lebih rendah dari prediksi sebelumnya. Namun, ia menekankan bahwa koreksi IMF terhadap perekonomian Indonesia relatif lebih baik dibandingkan dengan negara-negara lain.
"Misal Thailand yang direvisi sebesar 1,1 persen lebih rendah dari perkiraan sebelumnya atau Vietnam dikoreksi 0,9 persen lebih rendah. Begitu pun Filipina yang jadi 0,6 persen lebih rendah dan Meksiko yang dikoreksi turun 1,7 persen," jelas Sri Mulyani, menunjukkan bahwa Indonesia relatif lebih tangguh dalam menghadapi guncangan ekonomi global.
Menurut Sri Mulyani, dalamnya penurunan revisi IMF terhadap beberapa negara disebabkan oleh ketergantungan yang besar dari negara-negara tersebut terhadap perdagangan luar negeri. "Exposure dari perdagangan internasional mereka lebih besar dan dampak atau hubungan dari perekonomian mereka terhadap AS juga lebih besar," jelasnya.
Memburuknya dampak perang tarif semakin dirasakan setelah Tiongkok mengumumkan langkah balasan atau retaliasi. Meski lebih banyak negara-negara yang merespons kebijakan tarif resiprokal AS melalui jalur diplomasi atau negosiasi, langkah retaliasi ini, menurut Sri Mulyani, semakin merenggangkan hubungan dagang antara AS dan Tiongkok.
Menghadapi dinamika perekonomian global yang penuh ketidakpastian ini, Indonesia akan terus meningkatkan kewaspadaan. Selain mengambil langkah negosiasi, pemerintah akan memperkuat permintaan domestik agar tetap terjaga, melalui kebijakan fiskal dan moneter.
Sri Mulyani menyampaikan keyakinannya akan peluang pertumbuhan ekonomi yang besar karena adanya keberlanjutan proyek-proyek strategis nasional, meningkatnya konstruksi yang mengungkit investasi, manufaktur Indonesia yang masih ekspansif, dan kinerja ekspor yang diperkirakan tetap baik.
Ekspor Indonesia didukung oleh peningkatan ekspor non-migas, terutama komoditas CPO, besi dan baja, serta mesin dan peralatan elektrik. Pemerintah juga aktif menjajaki potensi perluasan ekspor produk-produk unggulan di pasar ASEAN, BRICS, dan Eropa di tengah kebijakan tarif resiprokal yang diterapkan oleh AS.
"Karena faktor-faktor tersebut, saya memperkirakan pada 2025 ekonomi Indonesia akan tetap mencapai 5 persen," tegas Sri Mulyani, menunjukkan keyakinan pemerintah dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Tabur atau Bedak Padat Dulu? Panduan Makeup Flawless Tahan Lama
- 4 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Sesuai Review Pembeli
- 4 Shio yang Menarik Keberuntungan 12 Juli 2026, Masa Sulit Diprediksi Berakhir
- Aisyah Zakkiyah, Komisaris Baru PTPP yang Viral Punya Gaji dan Tunjangan Miliaran
- Bedak Tabur Apa yang Bikin Glowing dan Tahan Lama? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
-
Garda Revolusi Iran Tutup Lagi Selat Hormuz Sampai Batas Waktu Tak Ditentukan
-
Jadi Tersangka Bareng Eks Jampidsus Febrie, Don Ritto Sudah Ditahan di Rutan Polda Metro Jaya
Terkini
-
Indonesia Bersiap Perang AS-Iran Memanas, Harga Minyak Bisa Makin Melambung
-
Pemerintah Kaji Harga Khusus BBM untuk Kapal Nelayan 30-200 GT
-
Harga Minyak Naik Berkali-kali Sejak Kemarin, AS-Iran Sudah 'Panaskan Mesin' Perang
-
Distribusi BBM Kini Gunakan AI, Begini Caranya
-
Asing Lepas BBCA hingga GOTO, Net Sell Rp274,81 Miliar di Sesi I
-
IMF Pertahankan Target Ekonomi Indonesia, 'Lebih Baik' dari India dan Filipina
-
IHSG Bertahan di Level 5.900-an pada Sesi I, RATU dan BRPT Jadi Pendorong
-
Timnas Argentina Diguncang Skandal Pencucian Uang AFA, FBI Turun Tangan
-
Purbaya Tolak Perpanjang Tenor Dana SAL Rp 200 Triliun Milik Pemerintah ke Himbara
-
Harga Emas Antam Anjlok, Rupiah Ikutan Koreksi Tajam: Apa Penyebabnya?