Suara.com - Pasar mata uang kripto menunjukkan geliat positif yang signifikan dalam beberapa hari terakhir, didorong oleh sentimen optimisme investor yang meningkat tajam. Pemicunya tak lain adalah rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan angka lebih rendah dari perkiraan, memicu spekulasi bahwa kebijakan moneter yang lebih longgar dari The Federal Reserve (The Fed) mungkin akan segera terwujud. Pertanyaan besar pun muncul: mampukah aset digital utama seperti Bitcoin kembali mencetak rekor harga tertinggi sepanjang masa?
Pantauan perdagangan hingga Kamis (15/5/2025) pukul 13.07 WIB menunjukkan harga kripto dengan pasar terbesar, Bitcoin mengalami koreksi tipis sebesar 0,68% dan berada di kisaran US$102.855.
Kendati demikian, BTC sempat menyentuh level tertinggi dalam tiga bulan terakhir di angka US$105.751,62 pada 12 Mei lalu, menunjukkan momentum kenaikan yang kuat.
Data terbaru dari AS menjadi angin segar bagi pasar kripto. Indeks Harga Konsumen (CPI) AS dilaporkan turun ke level 2,3%, yang merupakan angka inflasi terendah sejak tahun 2021. Angka ini juga lebih rendah dari proyeksi para ekonom yang sebelumnya memperkirakan inflasi akan berada di angka 2,4%.
Penurunan inflasi ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga di Negeri Paman Sam mulai mereda, sehingga meningkatkan harapan pasar terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter oleh The Fed dalam waktu dekat.
Fahmi Almuttaqin, seorang analis dari platform investasi Reku, mengungkapkan bahwa penurunan angka inflasi AS menjadi salah satu katalis utama yang mendorong penguatan pasar kripto dalam beberapa hari terakhir. "Terlepas dari ketidakpastian yang masih membayangi terkait potensi dampak kebijakan dagang Presiden Trump, perkembangan penurunan inflasi ini menggambarkan kondisi ekonomi AS yang masih cukup solid," ujar Fahmi dalam keterangan tertulisnya pada Kamis (15/5/2025).
Selain faktor inflasi, sentimen positif pasar kripto juga diperkuat oleh kabar baik lainnya, yaitu masuknya bursa kripto terkemuka Coinbase ke dalam indeks bergengsi S&P 500. Langkah ini diyakini akan menarik gelombang investasi institusional yang lebih besar ke pasar kripto, yang pada gilirannya turut mendorong kenaikan harga saham Coinbase (COIN) hingga mencapai lonjakan sebesar 24%.
Penguatan pasar tidak hanya dirasakan oleh Bitcoin. Ethereum, mata uang kripto terbesar kedua berdasarkan kapitalisasi pasar, juga mencatatkan kenaikan signifikan sebesar 9% hingga menembus level US$2.700. Kenaikan Ethereum ini memimpin reli sejumlah altcoin lainnya, menunjukkan sentimen positif yang meluas di seluruh pasar aset digital. Secara umum, momentum positif di pasar kripto ini berjalan seiring dengan penguatan yang terjadi di pasar saham AS.
Pada perdagangan Selasa lalu, bursa saham AS ditutup menguat dengan indeks S&P 500 naik sebesar 0,7%, mencatatkan kinerja positif secara year-to-date (ytd) untuk pertama kalinya sejak Februari. Indeks Nasdaq bahkan melonjak lebih tinggi dengan kenaikan sebesar 1,6%, didorong oleh kinerja impresif saham-saham teknologi seperti Palantir (+8,1%), Super Micro Computer (+16%), Tesla (+4,9%), dan Nvidia (+5,6%). Namun, indeks Dow Jones harus terkoreksi dan ditutup melemah sebesar 0,6% akibat penurunan tajam saham UnitedHealth sebesar 18% setelah CEO-nya mengumumkan pengunduran diri.
Baca Juga: Harga Bitcoin Kembali Tembus US$100.000, Sentimen Trump-China Jadi Penentu
Meskipun sentimen pasar saat ini cenderung optimis, Fahmi Almuttaqin mengingatkan bahwa para investor tetap menunjukkan sikap waspada. Hal ini tercermin dari kenaikan harga emas sebesar 0,6% ke level US$3.240,30 per troy ons, yang sering dianggap sebagai aset safe haven atau lindung nilai di tengah ketidakpastian. Selain itu, terjadi juga aliran dana keluar (outflow) dari Exchange Traded Fund (ETF) Bitcoin spot sebesar US$91,4 juta, mengakhiri tren inflow positif selama empat hari sebelumnya.
Menyikapi kondisi pasar yang dinamis ini, Fahmi menyarankan para investor untuk menyesuaikan strategi investasi mereka berdasarkan tujuan keuangan masing-masing. Bagi investor yang cenderung konservatif, momen kenaikan ini dapat dimanfaatkan untuk mengamankan keuntungan sambil menunggu adanya kepastian arah pasar yang lebih jelas.
"Sedangkan bagi para investor yang memiliki perspektif jangka panjang, strategi hold atau bahkan buy more (membeli lebih banyak) seperti yang baru-baru ini dilakukan oleh MicroStrategy dengan pembelian Bitcoin senilai US$1,34 miliar bisa menjadi opsi yang menarik," tambahnya.
Sebagai informasi tambahan, hingga Rabu (14/5/2025) lalu, harga Bitcoin masih berada di level US$103.874 (sekitar Rp1,71 miliar), yang masih lebih tinggi 1,1% dibandingkan posisi pada hari Selasa. Secara year-to-date (ytd), Bitcoin telah mencatatkan kenaikan sebesar 11,2%. Dalam sepekan terakhir, harga tertinggi Bitcoin tercatat di US$105.751,62, sebuah perbedaan signifikan dibandingkan dengan pekan sebelumnya yang hanya berada di kisaran US$95.724. Level perdagangan terakhir ini merupakan harga tertinggi bulanan Bitcoin selama periode April hingga Mei 2025.
Sementara itu, pandangan mengenai status Bitcoin sebagai kelas aset yang sah juga semakin menguat di kalangan pelaku industri. Anthony Scaramucci, pendiri dan CEO SkyBridge Capital, dalam konferensi CoinDesk's Consensus 2025, menyatakan bahwa kapitalisasi pasar kripto yang mencapai US$3 triliun masih seperti saham teknologi besar, namun jika mencapai US$20 triliun, maka kripto akan diakui sebagai kelas aset yang sesungguhnya. Ia bahkan memprediksi jika Bitcoin mampu mencapai US$500.000, narasi bahwa Bitcoin adalah kelas aset akan semakin kuat.
Dalam diskusi yang sama, Jonathan Steinberg, CEO WisdomTree; Pasqual St-Jean, Presiden dan CEO 3iQ; dan Andy Baehr dari CoinDesk Indices sepakat bahwa kripto sedang menuju ke arah pengakuan institusional, meskipun hal ini membutuhkan lebih dari sekadar kenaikan harga. Pasqual St-Jean berpendapat bahwa Bitcoin telah memenuhi banyak kriteria yang dibutuhkan aset tradisional untuk dianggap layak investasi oleh institusi, seperti mekanisme lindung nilai dan kemudahan pemahaman, menjadikannya "emas digital untuk era digital." Ia juga menyoroti bahwa aset kripto lain seperti token tata kelola dan utilitas masih lebih sulit dipahami oleh alokator dana institusional.
Berita Terkait
-
Siap-siap, Pi Network Bakal Umumkan Langkah Besar dalam Sejarah Aset Kripto
-
IRCA 2025 Dorong Ekosistem Kripto dan Genjot Volume Transaksi Investor dan Trader
-
Harga Pi Network Terus Merangkak Naik, Kini Telah Sentuh Level USD 1
-
Industri Kripto Sumbang Pajak Rp 1,2 Triliun Hingga Maret 2025
-
Sudah Naik 27 Persen, Harga Pi Network Bersiap Tembus 1 Dolar AS
Terpopuler
- Lipstik Warna Apa yang Cocok di Usia 50-an? Ini 5 Pilihan agar Terlihat Fresh dan Lebih Muda
- 5 Rekomendasi Sampo Kemiri Penghitam Rambut dan Penghilang Uban, Mulai Rp10 Ribuan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- Adly Fairuz Nyamar Jadi Jenderal Ahmad, Tipu Korban Rp 3,6 Miliar dengan Janji Lolos Akpol
- Inara Rusli Lihat Bukti Video Syurnya dengan Insanul Fahmi: Burem, Gak Jelas
Pilihan
-
Duduk Perkara Ribut Diego Simeone dengan Vinicius Jr di Laga Derby Madrid
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
Terkini
-
Perpanjangan PPN DTP 100 Persen, Rumah Tapak di Kota Penyangga Jadi Primadona
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK