Pasar masih memperkirakan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga sebanyak dua kali sebelum akhir tahun ini, kemungkinan dimulai pada bulan September. Namun demikian, keyakinan investor terhadap prediksi tersebut mulai melemah.
Data penjualan ritel dan indeks harga produsen (PPI) pekan lalu tidak memberikan sinyal yang cukup kuat untuk mendorong pelonggaran kebijakan moneter. Pengeluaran konsumen tetap cukup tangguh, sementara tekanan harga di tingkat produsen masih terjaga.
Kini, fokus pasar beralih kepada komentar pejabat Federal Reserve dan arah kebijakan moneter yang akan diambil. Di tengah meningkatnya ekspektasi inflasi meskipun CPI inti menunjukkan penurunan, pelaku pasar menanti apakah nada dovish yang sempat muncul dari pembuat kebijakan akan berkembang menjadi langkah nyata atau justru kembali menjadi lebih berhati-hati.
Bagi emas, ketidakpastian ini menjadi hambatan tambahan. Tanpa sinyal yang jelas dari The Fed mengenai pivot kebijakan, ruang kenaikan harga emas cenderung terbatas, sementara tekanan jual masih berpotensi berlanjut.
Memasuki pekan baru, prospek harga emas masih dibayangi sentimen bearish. Meski CPI inti bulan April lebih rendah dari ekspektasi, lonjakan ekspektasi inflasi konsumen jangka panjang hingga 7,3 persen menciptakan keraguan atas kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Situasi ini mendukung dolar dan menambah tekanan pada emas.
Minat institusional terhadap emas juga melemah, dengan pelaku pasar mempertimbangkan kembali potensi aksi The Fed dalam waktu dekat. Kekuatan data penjualan ritel dan PPI menunjukkan bahwa ekonomi masih cukup tangguh untuk menahan inflasi, sementara ekspektasi inflasi yang tinggi bisa mendorong kebijakan moneter tetap ketat.
Tanpa adanya tekanan geopolitik baru atau perubahan sikap dovish yang eksplisit dari The Fed, emas diperkirakan masih akan berada di bawah tekanan.
Kecuali jika komentar mendatang dari The Fed secara tegas menolak prospek kenaikan suku bunga riil atau menyatakan perubahan kebijakan jangka pendek, rotasi modal menuju aset berisiko kemungkinan akan terus berlanjut. Dalam lingkungan dengan permintaan safe haven yang menurun dan ketidakpastian inflasi yang masih tinggi, emas akan terus menghadapi hambatan dalam jangka pendek.
Baca Juga: Harga Emas Resmi Pegadaian Terjun Bebas Lagi Pada Minggu, Berikut Daftarnya
Secara teknikal, harga emas masih berada dalam tren naik jangka menengah, namun momentum jangka pendek mengarah ke bawah. Jika harga bergerak di bawah pivot utama USD 3.166,46, tekanan jual diperkirakan akan meningkat, dengan target selanjutnya di USD 3.018,52.
Dukungan utama berada di swing bottom USD 2.956,56. Apabila level ini ditembus, maka moving average 52 minggu di kisaran USD 2.707,24 akan menjadi target koreksi berikutnya.
Sementara beberapa pedagang mungkin akan membeli saat harga menyentuh level support, kondisi saat ini menunjukkan bahwa aksi jual saat harga naik juga meningkat, mencerminkan perubahan sentimen pasar secara menyeluruh.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Sinergi Strategis Hilirisasi Batu Bara, Wujudkan Kemandirian Energi Nasional
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026