Suara.com - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi alami koreksi pada perdagangan, Selasa, 20 Mei 2025. Meskipun IHSG ditutup di level 7.141 atau naik 0,486 persen pada Senin kemarin, di tengah tekanan sentimen eksternal yang memengaruhi pergerakan pasar Asia secara keseluruhan.
Salah satu sentimen negatif yang sempat menekan IHSG adalah penurunan peringkat utang Amerika Serikat oleh lembaga pemeringkat Moody’s, serta data ekonomi dari Tiongkok yang menunjukkan pelemahan pada bulan April.
Meski begitu, investor memanfaatkan tekanan tersebut untuk melakukan aksi beli, sehingga IHSG mampu berbalik arah dan menguat di akhir perdagangan.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas mencatat bahwa indikator Stochastic saat ini berada di area overbought, yang mengindikasikan adanya potensi tekanan jual dalam jangka pendek.
Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, memperkirakan bahwa IHSG berpotensi mengalami koreksi teknikal dalam waktu dekat.
"IHSG diperkirakan berpotensi koreksi jangka pendek dengan menguji level support di 7.080, mengingat indikator teknikal seperti Stochastic menunjukkan kondisi overbought," ujar Ratna Lim dalam riset hariannya, Selasa (20/5/2025).
Adapun level resistance IHSG berada di kisaran 7.180, dengan pivot di sekitar 7.100. Pergerakan indeks dalam beberapa hari ke depan kemungkinan besar akan dipengaruhi oleh sentimen global, terutama hasil pertemuan para Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral negara-negara G7 yang akan berlangsung pada 20–22 Mei 2025 di Kanada.
Pertemuan tersebut akan membahas berbagai isu penting, termasuk perkembangan ekonomi global, ketahanan ekonomi, situasi geopolitik di Ukraina, kejahatan keuangan, dan perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Hasil dari pertemuan ini akan menjadi bahan pertimbangan utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para Kepala Negara G7 yang dijadwalkan berlangsung pada 15–17 Juni 2025 di Kanada.
Dari Asia, pelaku pasar juga mencermati keputusan suku bunga oleh bank sentral Tiongkok yang dijadwalkan diumumkan hari ini, Selasa (20/5). Setelah mempertahankan suku bunga pinjaman acuan selama enam bulan berturut-turut, pasar memproyeksikan adanya pemangkasan.
Baca Juga: IHSG Berbalik Rebound Menguat Hingga Akhir Perdagangan Senin ke Level 7.141
Suku bunga pinjaman 1 tahun diperkirakan akan diturunkan ke level 3,0 persen dari sebelumnya 3,1 persen di bulan April, sedangkan suku bunga pinjaman 5 tahun diperkirakan turun ke 3,5 persen dari sebelumnya 3,6 persen.
Langkah ini dinilai sebagai respons terhadap tanda-tanda pelemahan aktivitas ekonomi China, di mana data produksi industri bulan April tercatat tumbuh 6,1 persen YoY, lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 7,7 persen YoY. Meski masih lebih tinggi dari estimasi pasar sebesar 5,5 persen YoY, perlambatan terjadi hampir di seluruh sektor utama.
Sementara itu, penjualan ritel China juga menunjukkan tren melambat, hanya tumbuh 5,1 persen YoY pada April, turun dari 5,9 persen YoY di bulan sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan konsumsi domestik yang lebih berhati-hati, di tengah ketidakpastian ekonomi, pertumbuhan pendapatan yang melambat, serta kekhawatiran terhadap dampak kenaikan tarif dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan 19 Mei ditutup menguat. Awalnya, indeks-indeks utama Wall Street sempat tertekan akibat kenaikan yield US-Treasury yang dipicu kekhawatiran atas penurunan peringkat utang AS. Namun penurunan yield selanjutnya dan aksi beli investor yang memanfaatkan koreksi, mendorong rebound di pasar saham.
Obligasi 10 tahun AS dengan imbas hasil atau yield naik 2 basis poin menjadi 4,459 persen, setelah sebelumnya sempat menembus 4,5 persen. Kenaikan yield terjadi akibat penurunan peringkat utang yang menurunkan harga obligasi pemerintah.
Di tengah kondisi tersebut, harga emas naik sekitar 1,4 persen ke level USD3.232 per troy ounce, didorong oleh peningkatan permintaan aset safe haven.
Phintraco Sekuritas menyarankan agar investor tetap selektif dan mencermati pergerakan pasar secara teknikal dan fundamental. Untuk perdagangan hari ini, saham-saham pilihan atau top picks dari Phintraco Sekuritas meliputi: LSIP, ESSA, SSIA, AUTO, dan CLEO
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Motor yang Jadi Mimpi Buruk Mekanik, Montir Langsung Pura-Pura Sibuk
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- realme C100i Jadi Andalan Anak Muda, Baterai Awet 6 Tahun dan Reverse Charging
- Akhir Dilema PCX vs Vario: Skutik Baru Honda Hadir Bawa Kamera Dashcam dan Mesin Lebih Buas
Pilihan
-
Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik S Dayang Resmi Jadi Kepala BGN!
-
674 Korban Kebakaran Kemayoran Mengungsi, Posko Bantuan dan Layanan Kesehatan Disiagakan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
Terkini
-
Diversifikasi Aset ke Luar Negeri, Strategi Timeless Amankan Kekayaan?
-
Dasco: DPR Malam Ini Lembur Kerjakan UU P2SK, Akan Difinalisasi Besok
-
Dadan Hindayana Berencana MBG Dibagikan di Arab Saudi Sebelum Dicopot
-
Neraca Perdagangan RI Surplus 72 Bulan Beruntun di April 2026, Tapi Terendah dalam 5 Tahun
-
Impor RI Melonjak 25,21 Miliar USD April 2026, Sektor Migas Naik Tajam 82%
-
Premi Bisnis Baru Asuransi Jiwa Tumbuh 5 Persen
-
Demi Stok Tak Langka, ESDM Bisa Setiap Saat Stop Ekspor Perusahaan Migas
-
Asurasi Inhealth Ubah Identitas, Jamin Tak Kurangi Layanan ke Nasabah
-
Perusahaan Logistik Gali Cuan Bisnis Jastip di Ajang PRJ
-
Bukan Sekadar Tren, Ini Alasan Web3 Bakal Mengubah Karier dan Bisnis Masa Depan