Suara.com - Perusahaan Otobus (PO) transportasi angkutan darat, PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (kode saham:LRNA) menempuh strategi transformasi bisnis berbasis teknologi dan elektrifikasi armada untuk bertahan di tengah persaingan ketat industri transportasi.
Dalam Paparan Publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2024, manajemen menyatakan fokus pada efisiensi, kolaborasi digital, dan ekspansi layanan lintas segmen.
Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, Rianta Soerbakti menyebutkan, era digital menuntut perusahaan beradaptasi melalui teknologi kolaboratif agar bisa saling melengkapi dengan mitra strategis.
“Kita bisa melakukan teknologi kolaborasi dengan partner sehingga saling menguntungkan dan meringankan beban perusahaan,” ujar Rianta Soerbakti, Jumat (27/6/2025).
Perseroan juga menargetkan peremajaan armada dengan mengadopsi kendaraan listrik. Meski diakui masih terdapat tantangan seperti keterbatasan infrastruktur pengisian daya dan bengkel perawatan di rute jarak jauh. Rianta memaparkan pula, langkah ini penting untuk efisiensi biaya operasional.
“Ini jadi target kami di 2025 dan ke depan. Tapi tentu butuh peran aktif dari Pemerintah,” ucapnya.
Saat ini, Perseroan mengoperasikan bus listrik untuk mendukung program akselerasi ekosistem transportasi publik berbasis listrik yang digagas Kementerian Perhubungan dan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek.
Perseroan, tidak hanya bergantung pada layanan Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), LRNA juga terus memperkuat lini bisnis lain seperti Airport Connexion (JAC), Trans Jabodetabek Reguler (TJR), Jabodetabek Residence Connexion (JRC), dan jasa sewa bus jangka panjang.
“Kami perkuat layanan komuter dan renta, karena AKAP makin ketat dan kompetisinya tidak sehat,” jelas Rianta.
Perseroan juga berencana untuk meluncurkan layanan cargo/pengiriman barang yang berkolaborasi dengan ESL Express yang merupakan “sister company” perusahaan.
Baca Juga: Peringkat Daya Saing RI Anjlok 13 Peringkat! Perang Tarif dan Pengangguran jadi Biang Keroknya
Di tengah tantangan eksternal dan ketatnya persaingan, LRNA membukukan pendapatan sebesar Rp80,93 miliar sepanjang 2024. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari segmen AKAP sebesar Rp62,23 miliar, diikuti shuttle bus senilai Rp14,22 miliar, bus bandara Rp2,47 miliar, serta AKAP dengan jarak pendek senilai Rp1,98 miliar.
Rianta mengungkapkan, aset Perseroan turun 6,73% menjadi Rp334,6 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp358,76 miliar. Sementara ekuitas terkoreksi 5,44% menjadi Rp289,87 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp306,57 miliar.
Liabilitas tercatat menurun 14,27% menjadi Rp44,73 miliar dibandingkan periode sama 2023 sebesar Rp52,18 miliar.
Perseroan menyoroti semakin padatnya pasar AKAP oleh pemain baru serta kurangnya regulasi yang melindungi operator lama sebagai penyebab menurunnya kinerja. Perang tarif dan banyaknya angkutan ilegal membuat industri ini tidak sehat. Penertiban pun masih lemah.
Lebih lanjut Rianta menambahkan, “Sebagai langkah efisiensi, Perseroan menutup rute-rute yang tak lagi menguntungkan, memperkuat layanan komuter dan meningkatkan keikutsertaan dalam tender jasa sewa bus. Perseroan juga terus memperluas implementasi sistem pembayaran nontunai (Cashless Payment Method) untuk meningkatkan transparansi dan kontrol keuangan. Setiap akhir tahun, kami evaluasi strategi dan langsung ambil kebijakan bila ada kendala yang muncul di tengah jalan.”
Dalam RUPST, seluruh agenda disetujui pemegang saham, termasuk laporan tahunan 2024, penetapan penggunaan laba/rugi, penunjukan Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk laporan keuangan tahun buku 2024, dan perubahan susunan direksi serta komisaris. Namun, manajemen memutuskan tidak membagikan dividen untuk tahun buku 2024.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
-
Prediksi Meksiko vs Afrika Selatan: Head to Head, Susunan Pemain dan Fakta Menarik
-
Rekor Gila ARMY Indonesia! Belum Genap Sejam, Ratusan Ribu Tiket Konser OT7 BTS Ludes Tanpa Sisa
-
PTBA Kembangkan 500 Itik Petelur di Muara Enim, Hasilkan 200 Telur Omega per Hari
-
Raffi Ahmad Terseret Kasus Suap Impor, Padahal Cuma Basa-basi Titip Barang ke PT Blueray
Terkini
-
Meski Makin Melek Keuangan, Gen Z Masih Terjebak FOMO
-
Saham Perbankan Masih Jadi Rekomendasi Beli, BBCA Paling Aman
-
Ratusan Mahasiswa RI Kuliah Gratis di Rusia, Ini Jurusan yang Paling Diburu
-
Kurangi Ketergantungan Dolar AS, Bank Mandiri Resmi Masuk Sistem Pembayaran China CIPS
-
Kabar Baik untuk Eksportir, BI dan China Perluas Transaksi Rupiah - Yuan Tanpa Dolar AS
-
KWP Bareng BNI Salurkan 2000 Paket Alat Sekolah di Tiga Daerah
-
Indonesia Gandeng Uni Emirat Arab Ajak Investasi Ketahanan Pangan Nasional
-
Airlangga Klaim Investasi Sektor Hilirisasi Terus Berkembang, Realisasi Tembus Rp 498,79 T
-
Purbaya dan DPR Sepakati KEM-PPKF 2027: Defisit APBN 2,4 Persen, Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen
-
Target Penerimaan Negara Naik di 2027, Purbaya Bakal Andalkan Coretax