- Direktur Celios, Bhima Yudhistira, meminta pemerintah Indonesia menunda ratifikasi perjanjian ART dengan Amerika Serikat.
- Dinamika kebijakan perdagangan Amerika Serikat masih sangat cair dan berpotensi berubah signifikan sewaktu-waktu.
- Bhima menyarankan Indonesia mencermati perkembangan politik dan hukum AS sebelum mengambil keputusan ratifikasi ART.
Suara.com - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara meminta pemerintah Indonesia tidak terburu-buru mengambil langkah ratifikasi perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat.
Ia menilai dinamika kebijakan perdagangan di Negeri Paman Sam masih sangat cair dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Bhima menyabut, perkembangan politik dan hukum di Amerika Serikat perlu dicermati secara hati-hati sebelum Indonesia menentukan sikap terhadap kesepakatan dagang tersebut.
Menurutnya, situasi di Washington belum sepenuhnya stabil, terutama terkait kebijakan tarif global yang diusung Presiden Donald Trump.
“Indonesia harus pasang kuda-kuda, lebih hati hati mencermati perkembangan di AS,” ujar Bhima kepada Suara.com, Minggu (22/2/2026).
Ia menilai keputusan Mahkamah Agung AS yang sebelumnya membatalkan kebijakan tarif resiprokal Trump memang memberi ruang bagi Indonesia.
Namun, Bhima mengingatkan putusan hukum di AS masih bisa berubah seiring dinamika politik yang berkembang.
“Sangat mungkin supreme court kembali menganulir kebijakan tarif Trump," jelasnya.
Karena itu, ia menyarankan pemerintah tidak tergesa melakukan ratifikasi maupun revisi terhadap perjanjian ART. Langkah cepat dinilai berisiko jika nantinya kebijakan perdagangan AS kembali berubah arah.
Baca Juga: Resmi! 3 Pemain Keturunan Indonesia dalam Satu Naungan, Salah Satunya Wonderkid Garuda
“Jangan buru-buru ratifikasi atau revisi ART," sambung dia.
Bhima menilai kehati-hatian diperlukan agar Indonesia tidak terjebak dalam kesepakatan jangka panjang yang bisa merugikan posisi ekonomi nasional. Ia menegaskan, pemerintah perlu memastikan setiap perjanjian dagang benar-benar menguntungkan sebelum disahkan.
Menurutnya, situasi global yang penuh ketidakpastian membuat strategi perdagangan Indonesia harus lebih fleksibel. Pemerintah dinilai perlu menjaga ruang manuver agar tidak terkunci dalam satu skema kerja sama tertentu.
Bhima juga menekankan pentingnya pemerintah menimbang ulang kepentingan nasional sebelum melanjutkan proses pembahasan ART di tingkat parlemen. Ia menilai keputusan ratifikasi sebaiknya menunggu arah kebijakan perdagangan AS benar-benar jelas.
Berita Terkait
-
Pakar UI: Indonesia Wajib Waspada 'Akal Bulus' Israel di Balik Rekonstruksi Gaza dalam BoP
-
Rocky Gerung: Perjanjian Dagang Prabowo-Trump 'Menghina Indonesia'!
-
Apakah Tarif Trump Bagi Indonesia Masih Bisa Diubah, Ini Kata Pemerintah
-
Kapolri Buka Suara soal Kasus Dugaan Penganiayaan Pelajar oleh Anggota Brimob di Maluku Tenggara
-
Maarten Paes Jadi Tembok Sulit Ditembus, Pelatih NEC Frustasi: Harusnya Kami Menang!
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
- Rumah Jampidsus Febrie Adriansyah Dijaga Ketat Tentara Usai Polisi Geledah Kafe deClan Signature
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- 3 Sabun Muka Rekomendasi Dokter Estetika yang Ampuh Jaga Skin Barrier
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
-
Bantah Isu TNI 'Serbu' Polda Metro Usai Ramai Kasus Jampidsus, Kapuspen: Waspada Provokator!
-
Penampakan 50 Pria Baju Loreng Geruduk Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Febrie Adriansyah
-
Mencekam! 50 Pria diduga Tentara Datangi Polda Metro Jaya Usai Penggeledahan Rumah Febrie Adriansyah
Terkini
-
Polemik Pajak JHT, Kenapa Tabungan Hari Tua Bisa Dipotong Pajak hingga 30 Persen?
-
Konsumen Makin Pesimis, Penjualan Ritel Anjlok, Rupiah Ambruk ke Rp18.128 per Dolar AS
-
MSCI Masih Jadi Batu Sandungan, Rp75 T Dana Asing Kabur dari Bursa Meski Fiskal RI Menguat
-
Siap-siap! Tarif 52 Ruas Tol Berpotensi Naik Tahun Ini
-
Status Pekerja Outsourcing Diubah, Ini Penjelasan Lengkap dari Kemnaker
-
Profil Sunaryanto, Direktur Utama Pertamina Hulu Migas yang Baru
-
8 Bank Resmi Merger, OJK Ungkap Alasannya
-
Ekonom Wanti-wanti Defisit APBN Bisa Lebihi 3% Jika Harga Minyak Dunia Tembus Segini
-
OKX Masuk Bisnis AI, Bidik Ekonomi Agen Otonom Bernilai Triliunan Dolar
-
70 Tahun Danamon, Perkuat Komitmen Tumbuh Bersama Nasabah di Setiap Langkah