Suara.com - Maraknya dugaan beredarnya beras oplosan di pasaran membuat masyarakat harus semakin waspada saat membeli bahan pokok tersebut.
Menurut Pakar Teknologi Industri Pertanian dari IPB University, Prof Tajuddin Bantacut, masyarakat bisa dengan mudah membedakan beras oplosan dengan diamati secara kasat mata.
Ia menjelaskan, beras oplosan umumnya memiliki warna yang tidak seragam, ukuran butiran yang berbeda-beda, dan akan menghasilkan nasi yang lembek setelah dimasak.
"Jika menemukan nasi yang berbeda dari biasanya seperti warna, bau (aroma), tekstur dan butiran maka dapat ‘dicurigai’ sebagai beras yang telah dioplos dalam arti terdapat kerusakan mutu atau keberadaan benda asing," ujar Tajuddin seperti dikutip dari laman resmi IPB, Selasa (15/7/2025).
Lebih lanjut, Ia menuturkan, dalam beberapa kasus, beras oplosan bahkan dicampur dengan zat tambahan berbahaya seperti pewarna atau pengawet yang bisa membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi terus-menerus.
Karena itu, Tajuddin mengimbau agar masyarakat lebih selektif dan berhati-hati, terutama saat menemukan beras yang terlihat aneh atau mengeluarkan bau yang tidak biasa.
"Hindari membeli beras tanpa label atau dari sumber yang tidak jelas. Cuci beras sebelum dimasak dan waspadai bila ada benda asing yang mengambang," katanya.
Dari sisi daya simpan, Tajuddin menegaskan bahwa idealnya beras hanya disimpan maksimal enam bulan untuk menjaga kualitasnya tetap baik.
Sebab, meskipun disimpan dalam tempat terkendali, beras tetap dapat rusak karena faktor lingkungan, hama, maupun mikroorganisme.
Baca Juga: Peluncuran Koperasi Merah Putih Mundur Terus Jadi 21 Juli 2025
"Beras yang rusak bisa dipoles ulang. Namun, jika kerusakannya sudah parah, baik secara fisik, kimiawi, maupun mikrobiologis, maka tidak layak untuk dikonsumsi. Terlebih apabila mengandung bahan kimia atau pengawet, bisa berbahaya untuk kesehatan," bebernya.
Ia juga menjelaskan ada tiga jenis beras yang kerap dikaitkan dengan praktik oplosan. Pertama, beras yang dicampur dengan bahan lain seperti jagung, umumnya ditemukan di beberapa daerah.
Kedua, beras blended atau hasil campuran dari berbagai jenis beras yang ditujukan untuk memperbaiki rasa dan tekstur. Ketiga, beras yang sudah rusak dan kemudian dipoles ulang agar tampak bagus, padahal kualitas mutunya telah menurun drastis.
Tajuddin mengajak masyarakat agar lebih teliti saat membeli beras serta menghindari penipuan kualitas yang bisa membahayakan kesehatan. Menurutnya, edukasi publik soal kualitas dan keamanan pangan perlu terus ditingkatkan.
"Jika dikelola dengan baik, sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada distribusi dan konsumsi beras secara merata dan aman," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
- 7 HP Murah di Bawah Rp1 Juta Paling Layak Beli di 2026, Performa Oke Buat Harian
- AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
- 67 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 April 2026: Sikat Item Undersea, Evo Draco, dan AK47
- 5 Rekomendasi Parfum Lokal yang Wanginya Segar seperti Malaikat Subuh
Pilihan
-
Solidaritas Tanpa Batas: Donasi WNI untuk Rakyat Iran Tembus Rp9 Miliar
-
CFD Ampera Bikin Macet, Akademisi: Ada yang Salah dari Cara Kota Diatur
-
Polisi: Begal Petugas Damkar Tertangkap Saat Pesta Narkoba Didampingi Wanita di Pluit
-
Warga Sambeng Borobudur Terancam Kehilangan Mata Air, Sendang Ngudal Dikepung Tambang
-
Rivera Park Tebo Terancam Lagi, Tambang Ilegal Kembali Beroperasi Saat Wisatawan Membludak
Terkini
-
Fundamental Ekonomi Kuat di tengah Ketidakpastian, Indonesia Kian Dilirik Investor Global
-
Harga Nikel Langsung Terkerek Aturan Baru ESDM, Tapi Tekan Industri Smelter
-
Program 3 Juta Rumah Libatkan 185 Industri dan Serap Tenaga Kerja
-
Program Gentengisasi Digeber, 40 Ribu Rumah di Jabar Dapat Bantuan
-
Anggaran Subsidi Energi Terus Bengkak, Insentif EV Perlu Diberlakukan Lagi?
-
Alasan Harga Emas Justru Turun di Tengah Konflik
-
Di saat Harga Avtur Melambung, Maskapai Vietnam Justru Agresif Tambah Frekuensi Penerbangan
-
Pemerintah Umumkan Respons Pembelaan Investigasi Dagang AS Hari Ini
-
Airlangga Akui AS Penyumbang Surplus Perdagangan dan Destinasi Ekspor Terbesar RI
-
Airlangga Ungkap Alasan Cicilan Kopdes Merah Putih Dibayar dari APBN