Kelas menengah mampu mewujudkan ini, namun hampir selalu melalui skema kredit atau cicilan. Rumah yang Anda tinggali adalah milik bank hingga 15-20 tahun ke depan, begitu pula mobil yang Anda kendarai.
Aset ini di satu sisi menjadi pencapaian, namun di sisi lain menjadi beban finansial jangka panjang yang menyita sebagian besar pendapatan.
"Kepemilikan aset pribadi" ini seringkali berarti terikat pada utang produktif yang membuat ruang gerak keuangan menjadi sangat terbatas.
3. Pendidikan Anak adalah Segalanya
Salah satu karakteristik paling menonjol dari kelas menengah adalah prioritas tinggi pada pendidikan anak.
Mereka rela mengalokasikan dana yang tidak sedikit untuk memastikan anak-anak mereka mendapatkan pendidikan terbaik, mulai dari sekolah swasta favorit, bimbingan belajar, hingga kursus-kursus penunjang lainnya.
Investasi ini dipandang sebagai cara untuk mobilitas sosial ke atas bagi generasi berikutnya.
Namun, biayanya seringkali harus dibayar dengan mengorbankan pos pengeluaran lain, termasuk dana pensiun pribadi atau dana darurat, menempatkan mereka dalam posisi rentan sebagai sandwich generation.
4. Sadar Finansial: Punya Asuransi dan Dana Pensiun
Baca Juga: Rapor Merah Tim Ekonomi Prabowo: 6 Menteri Ini Dinilai Layak Di-reshuffle, Siapa Saja?
Berbeda dengan kelompok lain, kelas menengah memiliki literasi finansial yang lebih baik. Mereka sadar pentingnya proteksi dan perencanaan masa depan.
Oleh karena itu, memiliki asuransi kesehatan, asuransi jiwa, hingga program dana pensiun (baik dari kantor maupun mandiri) menjadi sebuah keharusan.
Namun, premi dan iuran bulanan ini menjadi 'pengeluaran wajib' yang turut menggerus pendapatan. Di saat pengeluaran pokok terus naik, biaya untuk proteksi masa depan ini terasa sebagai beban tambahan, meski mereka sadar betul akan risikonya jika tidak memilikinya.
5. Masih Bisa 'Nongkrong' dan Liburan (Terencana)
Meskipun dompet sering terasa menipis, kelas menengah bukanlah kelompok yang tidak bisa menikmati hidup.
Mereka masih bisa sesekali makan di restoran, nongkrong di kafe, atau bahkan berlibur setahun sekali. Bedanya, semua aktivitas ini harus melalui perencanaan anggaran yang ketat.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 63 Kode Redeem FF Terbaru 21 Januari: Ada Groza Yuji Itadori, MP40, dan Item Jujutsu
- 36 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 22 Januari: Klaim TOTY 115-117, Voucher, dan Gems
- 5 Motor Bekas 6 Jutaan Cocok untuk Touring dan Kuat Nanjak, Ada Vixion!
- Mobil 7 Seater dengan Harga Mirip Mitsubishi Destinator, Mana yang Paling Bertenaga?
- Alur Lengkap Kasus Dugaan Korupsi Dana Hibah Pariwisata Sleman yang Libatkan Eks Bupati Sri Purnomo
Pilihan
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Fit and Proper Test BI: Solikin M Juhro Ungkap Alasan Kredit Loyo Meski Purbaya Banjiri Likuiditas
-
Dompet Kelas Menengah Makin Memprihatinkan, Mengapa Kondisi Ekonomi Tak Seindah yang Diucapkan?
-
5 Rekomendasi HP Rp1 Jutaan RAM 8 GB Terbaik Januari 2026, Handal untuk Gaming dan Multitasking
-
Harda Kiswaya Jadi Saksi di Sidang Perkara Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
NumoFest 2026 Dukung Ratusan Pelaku UMKM Lewat Gang Dagang, QRIS Tap, Sampai Film Bertema Religi
-
Margin Fee Bulog Naik Jadi 7 Persen, Rizal: Bisa Tambah Semangat dan Kinerja Perusahaan
-
Danantara Borong Investasi dari Yordania di Ajang WEF
-
Klaim Polis Tak Lagi Ribet, IFG Life Tingkatkan Layanan Digital dan Tatap Muka
-
Beroperasi 56 Tahun, Pelita Air Fokus Penguatan Layanan Berbasis Pengalaman Pelanggan
-
Sinergi untuk Akselerasi, Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekonomi Kerakyatan dan UMKM
-
Harga Emas Bisa Tembus Rp168 Juta
-
Bahlil Anggap Target Lifting Minyak 1,6 Juta Barel Mustahil
-
Jelang Ramadan, Bulog Jamin Harga Beras, Minyak, dan Gula Tak Tembus HET
-
Waspada Scam Makin Marak, Ini Modus Phishing dan Cara Lindungi Saldo Digital