Meskipun secara fundamental etis, ada beberapa aspek dan praktik turunan dari scalping yang bisa masuk ke wilayah abu-abu atau bahkan tidak etis, seperti:
1. Bukan untuk "Kebaikan Bersama": Kritikus berpendapat bahwa scalper tidak memberikan nilai fundamental apa pun. Mereka tidak berinvestasi pada perusahaan untuk membantunya tumbuh. Aktivitas mereka murni spekulatif untuk keuntungan pribadi dan tidak berkontribusi pada ekonomi riil.
2. Potensi Manipulasi Pasar: Di sinilah garis etika menjadi kabur. Beberapa teknik yang digunakan dalam scalping berkecepatan tinggi (High-Frequency Trading atau HFT) bisa bersifat manipulatif.
Contoh praktik yang ilegal dan tidak etis meliputi spoofing dan front-running.
Spoofing adalah menempatkan order besar lalu membatalkannya. Tujuannya hanya untuk "menipu" pasar agar bergerak ke arah tertentu demi mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang diciptakan.
Sementara front running adalah menggunakan teknologi super cepat untuk mendeteksi order besar yang masuk dari investor institusional.
Lalu dengan cepat membeli aset tersebut sepersekian detik lebih dulu untuk dijual kembali kepada investor tersebut dengan harga lebih tinggi.
Itulah pengertian dari scalper. Pada dasarnya, scalping adalah sebuah alat atau strategi yang netral. Ia menjadi etis atau tidak tergantung pada bagaimana alat itu digunakan.
Dikatakan sah dan etis jika scalper melakukan secara manual atau dengan bot sederhana, mengikuti aturan pasar, dan berusaha mendapatkan keuntungan dari fluktuasi harga kecil.
Baca Juga: 3 Fakta Yudo Sadewa Anak Purbaya Yudhi Sadewa yang Sudah Jadi Miliarder di Usia 18 Tahun
Masalah etika baru muncul ketika scalping dilakukan dalam skala masif dengan niat untuk memanipulasi pasar atau mengeksploitasi kelemahan sistemik.
Praktik-praktik inilah yang menjadi target regulator dan mencoreng citra trading berkecepatan tinggi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Purbaya Tak Berhentikan Posisi Dirjen Bea Cukai Usai Namanya Terseret Dakwaan Suap KPK
-
Penjualan Tanah Komersial CBDK Naik 492 Persen
-
Ini 5 Investasi Aman yang Cocok untuk Pemula, Modal Mulai Rp10 Ribuan Saja!
-
Dony Oskaria Minta ke Purbaya Bebas Pajak untuk Merger BUMN
-
Apa Itu Tabungan Valas? Kenali Keuntungan dan Risikonya
-
Pengusaha Beras Pusing, Harga Gabah Tembus Rp 8.200 per Kg
-
Harga Bitcoin Mulai Meroket Tembus USD 80.000
-
Damai Timur Tengah Bikin Pasar Bergairah, IHSG Masih di Level 7.100 pada Sesi I
-
BRI KPR Take Over Tenor 25 Tahun, Solusi Cicilan Rumah Lebih Ringan
-
Penyebab Harga BBRI Melesat Hari Ini, Sahamnya Diprediksi Rebound Tinggi