Suara.com - “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
Bunyi amanat konstitusi yang tertuang dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 itu kini menemukan momentumnya yang paling krusial.
Di tengah gejolak ekonomi global dan pergeseran rantai pasok dunia, Indonesia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton dan menggali kekayaan alam hanya untuk diekspor mentah-mentah.
Hilirisasi kini tidak hanya jadi kebijakan semata, melainkan sebuah upaya fundamental untuk mengubah “kutukan sumber daya alam” menjadi berkah pembangunan yang berkelanjutan.
Momentum ini tidak jauh berbeda ketika negara ini akhirnya menemukan jalan keluar pasca krisis era 1990-an. Jika kepanikan krisis moneter tahun 1998 menjadi benih lahirnya Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai wujud kehadiran negara dalam menjaga kepercayaan perbankan, maka era ketidakpastian global saat ini memaksa negara hadir lebih pada sektor riil.
Negara, melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Holding Industri Pertambangan MIND ID dan salah satu pilar utamanya, PT Aneka Tambang Tbk (Antam), kini bertindak bukan hanya sebagai regulator, melainkan memiliki peran vital selaku orkestra industri.
Dalam pandangan awam, peran perusahaan tambang mungkin tampak monoton: menggali, menjual, dan mencetak laba. Ibarat kata, fungsinya hanya sebatas mengisi kas negara.
Ini tidak salah, sebab sejarah dan tugas utamanya memang begitu. Namun, memandang Antam hanya dari lensa ini berarti melewatkan sebuah transformasi besar yang sedang berjalan dalam sunyi.
Antam kini beroperasi dengan mesin ganda: mesin pertama memacu kinerja makroekonomi melalui produksi dan proyek-proyek strategis, sementara mesin kedua menggerakkan nadi ekonomi mikro di tingkat akar rumput melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terukur dan berdampak nyata.
Baca Juga: Emas Antam Anjlok, Tapi Harganya Masih Tinggi Rp 2.088.000 per Gram
Mesin Makro: Denyut Laba dan Produksi untuk Negara
Kinerja finansial Antam pada tahun 2024 menjadi bukti sahih dari mesin pertama yang bekerja optimal. Perusahaan berhasil membukukan penjualan bersih tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp69,19 triliun, sebuah lompatan kuantum 69% dari tahun sebelumnya.
Catatan positif ini tidak semata-mata dampak dari harga komoditas, melainkan cerminan dari strategi operasional yang solid, yang juga menghasilkan laba usaha Rp3,00 triliun (tumbuh 15% YoY) dan menjaga total aset tetap kokoh di angka Rp44,52 triliun.
Angka-angka gemilang ini didasari oleh dinamika produksi yang tepat di setiap komoditasnya:
1. Nikel sebagai Tulang Punggung
Dengan produksi bijih nikel yang stabil di 9,94 juta wmt dan feronikel di 20.103 ton pada 2024, Antam memastikan perannya sebagai pemasok utama bagi industri baja nirkarat dan, yang paling krusial, fondasi bagi ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) nasional.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Produk Viva Cosmetics yang Ampuh Atasi Flek Hitam, Harga di Bawah Rp50 Ribu
- Denada Akhirnya Akui Ressa Anak Kandung, Bongkar Gaya Hidup Hedon di Banyuwangi
- 5 Rekomendasi HP Layar AMOLED 120Hz Termurah 2026, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Murah Alternatif Redmi Note 15 5G, Spek Tinggi buat Multitasking
- KUIS: Kalau Hidupmu Jadi Lagu, Genre Apa yang Paling Cocok?
Pilihan
-
Siapa Jeffrey Hendrik yang Ditunjuk Jadi Pjs Dirut BEI?
-
Harga Pertamax Turun Drastis per 1 Februari 2026, Tapi Hanya 6 Daerah Ini
-
Tragis! Bocah 6 Tahun Tewas Jadi Korban Perampokan di Boyolali, Ibunya dalam Kondisi Kritis
-
Pasar Modal Bergejolak, OJK Imbau Investor Rasional di Tengah Mundurnya Dirut BEI
-
5 HP Memori 128 GB di Bawah Rp2 Juta Terbaik Awal 2026: Kapasitas Lega, Harga Ramah di Kantong!
Terkini
-
Seloroh Purbaya Minta Ditraktir Prabowo Jika Ekonomi RI Tembus 6 Persen
-
Rosan Roeslani Tegas Bantah: Tak Ada Rencana Rombak Direksi dan Komisaris Bank Himbara
-
BI Catat Asing Bawa Kabur Dananya Rp 12,40 Triliun dari Pasar Saham
-
Pendampingan PNM Dirasakan Langsung oleh Perempuan Pesisir Kaltim
-
Kampanye Judi Pasti Rugi Makin Masif, Transaksi Judol Anjlok 57 persen
-
Purbaya Bantah Bos BEI dan OJK Ramai-ramai Mundur Gegara Prabowo Marah
-
Saham-saham Milik Konglomerat Terancam Aturan Free Float, Potensi Delisting?
-
Purbaya Pede IHSG Tak Lagi Kebakaran Senin Depan Meski Petinggi BEI dan OJK Mundur
-
Tak Hanya Danantara, Lembaga Keuangan Asing Bisa Jadi Pemegang Saham BEI
-
Pasar Modal Diguncang Mundurnya Pejabat OJK, IHSG Rawan Tekanan Jual