Bisnis / Keuangan
Selasa, 14 Oktober 2025 | 09:18 WIB
Pekerja beraktivitas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (30/5/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]
Baca 10 detik
  • IHSG menguat awal sesi didukung sentimen dagang AS-Tiongkok mereda.

  • Penguatan dipicu melunaknya ancaman tarif AS ke Tiongkok mulai November.

  • Laporan keuangan bank besar AS juga jadi katalis positif bagi pasar.

Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat di awal sesi perdagangan, Selasa 14 Oktober 2025. IHSG dibuka menghijau ke level 8.269

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.06WIB, IHSG terus bertahan di zona hijau ke level 8.266 atau naik 0,48 persen.

Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 3,38 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 2,70 triliun, serta frekuensi sebanyak 230.000 kali.

Pekerja beraktivitas dengan latar belakang layar pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta Selatan, Senin (21/2/2022). [Suara.com/Alfian Winanto]

Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 245 saham bergerak naik, sedangkan 229 saham mengalami penurunan, dan 482 saham tidak mengalami pergerakan.

Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, AALI, ADMF, AMMN, ARCI, ASII, CBDK, DSSA, EMAS, ENRG, GGRM, INDR.

Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, BREN, CBRE, CDIA, COIN, CUAN, DATA, EDGE, ITMG, JARR, LIFE, MKPI.

Proyeksi IHSG

IHSG berpotensi melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa (14/10/2025), didukung sentimen positif dari meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan China serta optimisme terhadap laporan keuangan emiten global.

Dalam riset harian Phillip Sekuritas Indonesia, IHSG diproyeksikan bergerak bullish dengan level support di 8.050 dan resistance di 8.350.

Baca Juga: Sentimen Perang Dagang Guncang Asia, IHSG Dibayangi Koreksi Saat Rally Wall Street

"Indeks saham di Asia pagi ini dibuka beragam meskipun indeks saham utama di Wall Street semalam ditutup naik tajam, rebound dari kejatuhan parah di akhir pekan lalu," tulis riset Phillip Sekuritas.

Katalis utama penguatan bursa datang dari langkah Presiden AS Donald Trump yang melunakkan ancamannya untuk mengenakan tarif impor 100 persen atas barang-barang asal Tiongkok mulai 1 November.

Pernyataan itu meredakan kekhawatiran pasar akan pecahnya perang dagang jilid baru antara dua ekonomi terbesar dunia.

Momentum positif kian kuat setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan bahwa perundingan dagang antara negosiator AS dan Tiongkok berjalan sangat intensif sepanjang akhir pekan. Bahkan, pertemuan antara Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping disebut masih berpeluang digelar pada akhir bulan ini.

Selain isu dagang, antusiasme terhadap teknologi kecerdasan buatan (AI) dan dimulainya musim laporan keuangan kuartal III/2025 di AS turut memberi dorongan tambahan bagi pasar.

Sejumlah bank besar seperti JPMorgan Chase, Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Citigroup dijadwalkan merilis laporan keuangan malam ini, disusul Bank of America, Morgan Stanley, dan PNC pada Rabu.

Analis memprediksi profit enam bank besar AS naik 6 persen year-on-year (YoY), sementara laba per saham (EPS) korporasi di indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh 7,9 persen YoY.

Jika proyeksi itu terealisasi, maka laba korporasi AS mencatatkan pertumbuhan positif selama sembilan kuartal berturut-turut, meski melambat dari capaian 12% YoY pada kuartal sebelumnya.

Dari sisi domestik, investor juga akan mencermati pergerakan harga komoditas, terutama emas yang menembus rekor tertinggi di atas USD 4.100 per ons, seiring meningkatnya ketegangan dagang dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Load More