-
Edukasi publik penting guna bijak energi, subsidi tepat sasaran.
-
Kolaborasi perguruan tinggi percepat riset EBT sesuai kondisi lokal.
-
EBT turunkan biaya produksi, tingkatkan daya saing UMKM kecil.
Suara.com - Pakar kebijakan publik Universitas Nusa Cendana, David BW Pandie, menekankan ada dua poin penting yang perlu diperhatikan pemerintah untuk mewujudkan swasembada energi.
Pertama, edukasi publik soal kondisi energi nasional yang masih rentan terhadap impor dan kebocoran subsidi. Edukasi ini dinilai penting agar masyarakat lebih bijak menggunakan energi dan subsidi bisa tepat sasaran.
Kedua, memperkuat kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mempercepat riset Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang sesuai dengan karakteristik lokal.
"Ilmu kita harus kuat untuk hasilkan EBT sesuai kondisi lokal. Sumber daya manusia dulu yang diperkuat, jadi peran teknologi penting untuk mendorong energi terbarukan lebih cepat. Kalau tidak, transisi akan lama dan tidak berujung," ujarnya seperti dikutip di Jakarta, Kamis (6/11/2025).
Sementara itu, Pakar ekonomi Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW), Frits Fanggidae, menilai pengembangan EBT juga berdampak signifikan terhadap efisiensi biaya produksi dan peningkatan daya saing pelaku usaha kecil.
"EBT akan membuat biaya produksi turun. Kalau energi murah, efisiensi naik, kapasitas produksi tumbuh, dan daya saing meningkat," jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa elektrifikasi melalui EBT saja belum cukup. "Listrik saja tidak cukup. UMKM-nya harus dipersiapkan. Pemerintah perlu rangkul Kementerian UMKM agar industri kecil pindah ke desa-desa yang sudah terang," imbuh Fanggidae.
Adapun pemerintah terus memperkuat ketahanan energi di kawasan timur Indonesia. Salah satunya melalui peresmian Fuel Terminal Labuan Bajo berkapasitas 488 kiloliter (KL) oleh PT Pertamina Patra Niaga, serta Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) yang telah mengalirkan listrik ke 112 rumah di Desa Winebetan, Minahasa, Sulawesi Utara.
Hingga semester I 2025, bauran EBT nasional telah mencapai 16 persen, sedikit di bawah target 17–20 persen untuk tahun ini. Pemerintah optimistis bisa menutup gap tersebut melalui percepatan pembangunan pembangkit EBT yang kini total kapasitasnya mencapai 13.155 MW.
Baca Juga: Genjot Pemanfaatan EBT, RI Targetkan 60 Persen Listrik dari Sumber Terbarukan
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN menargetkan penambahan kapasitas pembangkit baru sebesar 69,5 GW, dengan porsi EBT mencapai 76 persen, termasuk tenaga surya, air, angin, panas bumi, dan bioenergi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- Daftar Pertanyaan Sensus Ekonomi 2026: Petugas BPS Datangi Rumah, Tanya Gaji dan Usaha
Pilihan
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
Terkini
-
Pupuk Indonesia Tembus Australia, Ekspor Urea 250 Ribu Ton Dikebut hingga Akhir 2026
-
Rupiah Meriang Lagi! Ditutup ke Level Rp17.859 per Dolar AS
-
KOSPI dan IHSG Kompak Anjlok Parah, Pasar Saham Merana
-
Khofifah Paparkan Realisasi Pendapatan APBD Jatim 2025 Tembus 104,65 Persen
-
Mengapa Minyakita Selalu Langka? Ekonom Ungkap Masalahnya
-
Tempo Scan (TSPC) Respon Penangkapan Richard Muljadi Terkait Kasus Penipuan
-
Klarifikasi Purbaya soal Patriot Bond Bikin Investor Kebal Pajak-Hukum hingga Pencucian Uang
-
Hutama Karya Catat Kinerja Positif dalam Pengelolaan 14 Ruas Tol di Wilayah Indonesia
-
Minyakita Masih Mahal, CORE Sebut Produsen Sawit Lebih Pilih Ekspor Ketimbang Pasok Dalam Negeri
-
Siapa Richard Muljadi? Cucu Konglomerat Terjerat Penipuan Batu Bara