- Banyak perusahaan pun mulai mencari solusi yang lebih fleksibel dari NVR konvensional. Di sinilah perangkat NAS mulai dilirik sebagai solusi NVR modern.
- Perusahaan membutuhkan sistem yang dapat diskalakan seiring kebutuhan bisnis, mendukung banyak kamera sekaligus, serta menjamin keamanan data tanpa biaya langganan cloud bulanan.
- NAS dikenal sebagai perangkat penyimpanan data, sehingga ketika digunakan untuk sistem NVR, perangkat ini mampu menjawab tantangan kebutuhan data yang terus meningkat.
Suara.com - Selama ini, banyak perusahaan masih mengandalkan sistem CCTV berbasis DVR (Digital Video Recorder) untuk kebutuhan monitor keamanan.
Sistem ini memang sederhana, kamera dihubungkan lewat kabel koaksial, lalu hasil rekamannya tersimpan di hard drive lokal. Mudah digunakan, tapi kapasitasnya terbatas dan sulit diskalakan.
Seiring perkembangan teknologi dan semakin populernya kamera IP, muncul NVR (Network Video Recorder) yang menawarkan kualitas gambar lebih tinggi serta akses jarak jauh yang lebih praktis.
Namun, kini kebutuhan sistem CCTV semakin kompleks. Mulai dari resolusi tinggi, durasi penyimpanan panjang, akses jarak jauh, hingga manajemen untuk berbagai lokasi.
Banyak perusahaan pun mulai mencari solusi yang lebih fleksibel dari NVR konvensional. Di sinilah perangkat NAS mulai dilirik sebagai solusi NVR modern.
Kebutuhan pengawasan kini tidak lagi sekadar soal merekam video. Perusahaan membutuhkan sistem yang dapat diskalakan seiring kebutuhan bisnis, mendukung banyak kamera sekaligus, serta menjamin keamanan data tanpa biaya langganan cloud bulanan.
DVR maupun NVR tradisional cenderung memiliki batasan, seperti kompatibilitas kamera yang terbatas dan kapasitas penyimpanan yang sulit diperluas. Sebaliknya, sistem NVR berbasis NAS (Network Attached Storage) hadir sebagai solusi yang lebih dinamis.
NAS dikenal sebagai perangkat penyimpanan data, sehingga ketika digunakan untuk sistem NVR, perangkat ini mampu menjawab tantangan kebutuhan data yang terus meningkat, memberikan fleksibilitas dalam memilih kamera dari berbagai merek, dan menghadirkan lapisan keamanan data yang lebih kuat.
"Banyak organisasi di Indonesia mulai sadar bahwa sistem surveillance bukan lagi sekadar pasang kamera," ujar Clara Hsu, Country Manager Indonesia di Synology.
"Mereka membutuhkan sistem CCTV yang lebih cerdas dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan bisnis."
Berbeda dari NVR tradisional yang mengikat pengguna pada satu vendor tertentu, salah satu keunggulan utama NAS adalah fleksibilitasnya. NAS sebagai perangkat penyimpanan membuat integrasi antara penyimpanan dan sistem pengawasan menjadi lebih efisien.
Sebagai contoh, salah satu brand NAS, Synology, mendukung ribuan model kamera IP dari berbagai merek, sehingga pengguna tidak perlu terpaku pada satu vendor saja. Selain itu, seluruh data dapat disimpan dan dikelola secara terpusat, mulai dari pemantauan langsung, pemutaran ulang, hingga analitik video.
Karena data disimpan di lokasi sendiri (on-premise), perusahaan juga memiliki kendali penuh atas keamanan datanya. Hal ini penting, terutama bagi bisnis yang memiliki kebijakan internal atau regulasi ketat terkait perlindungan data.
"Perusahaan sekarang mulai peduli dengan kepemilikan data," lanjut Clara.
"Dengan NAS, data CCTV tetap berada di infrastruktur mereka sendiri, tapi tetap bisa dimanfaatkan untuk analisis pintar dan pemantauan lintas cabang," imbuhnya.
Berita Terkait
-
Pantau Rumah dari HP, Ini 5 CCTV Outdoor Murah yang Layak Dibeli
-
Bukan Virgoun, Sosok Diduga Penyebar Rekaman CCTV Rumah Inara Rusli Berinisial A
-
Link CCTV dan Kapal Pelabuhan Merak untuk Pantau Arus Mudik Nataru 2025 Real-Time
-
Bukan Zina, Insanul Fahmi Akhirnya Ngaku Sudah Nikahi Inara Rusli dan Jawab Isu Hamil Duluan
-
Dulu Besi Tangganya Dicuri, Kini Kabel CCTV JPO Daan Mogot Ditemukan Putus
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif