- BP BUMN tengah mengintensifkan kajian merger BUMN Karya.
- Proses konsolidasi ini dilaksanakan melalui kolaborasi erat dengan BPI Danantar.
- Keputusan akhir mengenai nasib PT Waskita Karya, termasuk wacana delisting, akan ditentukan seiring dengan pembentukan klaster BUMN Karya yang baru.
Suara.com - Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) terus mengintensifkan kajian mendalam terkait rencana besar penggabungan (merger) sejumlah perusahaan BUMN yang bergerak di sektor konstruksi atau yang dikenal sebagai BUMN Karya.
Langkah strategis ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menyehatkan dan meningkatkan efisiensi perusahaan pelat merah di tengah tantangan kinerja yang cukup berat.
BP BUMN telah menetapkan target yang ambisius: proses penggabungan klaster BUMN Karya ini diharapkan dapat diselesaikan pada Desember 2025.
"Sedang kami kaji bagaimana merger kelompok BUMN karya, mudah-mudahan Desember ini selesai," kata Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf saat berbicara dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2025 di Jakarta, Rabu (20/11/2025).
Aminuddin menjelaskan, pihaknya tidak bekerja sendiri dalam melaksanakan konsolidasi besar ini. BP BUMN akan berkolaborasi erat dengan tim dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Danantara (BPI Danantara).
Kerja sama ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh proses penggabungan, mulai dari kajian finansial hingga legal, berjalan dengan tata kelola yang baik dan transparan.
Kolaborasi antara BP BUMN dan Danantara ini sebelumnya telah dicanangkan oleh Kepala BP BUMN, Dony Oskaria. Dony menyatakan, kerja sama ini adalah kunci untuk mendorong efektivitas dan efisiensi kinerja BUMN secara keseluruhan.
"Kita ingin mempercepat transformasi BUMN, jadi diharapkan nanti kolaborasi antara BP BUMN dan Danantara mempercepat konsolidasi," ujar Dony di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, beberapa waktu lalu.
Transformasi dan konsolidasi yang sedang dijalankan ini merupakan langkah penting agar BUMN-BUMN tersebut mampu beradaptasi dengan tantangan baru, sekaligus menjadi perusahaan yang semakin kompetitif, baik di tingkat nasional maupun di panggung global.
Baca Juga: BUMN Hotel Cari Peruntungan di Liburan Akhir Tahun
Isu yang tak kalah penting dalam rencana penggabungan BUMN Karya adalah nasib perusahaan-perusahaan yang tengah menghadapi tekanan finansial, seperti PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT).
Terkait wacana delisting atau penghapusan saham Waskita Karya dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf meminta publik untuk menunggu hasil kajian akhir.
Wacana delisting ini akan diputuskan seiring dengan pembentukan klaster BUMN Karya yang baru.
"Nanti tunggu aja, nanti kita buat kluster beberapa BUMN untuk yang BUMN karya," ucapnya.
Keputusan mengenai Waskita menjadi krusial mengingat perusahaan tersebut telah menjadi sorotan utama terkait restrukturisasi utang dan penyehatan keuangan, sehingga masa depannya sangat bergantung pada skema penggabungan dan klasterisasi yang disusun oleh BP BUMN.
Sebagai informasi, pada September 2025 mengalami kerugian bersih sebesar Rp3,17 triliun, naik dari Rp3 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, karena penurunan pendapatan yang signifikan meskipun beban usaha dapat ditekan.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Mobil Sedan Bekas di Bawah 30 Juta Mudah Dirawat, Performa Juara!
- 5 Rekomendasi Sepatu Jalan Kaki dengan Sol Karet Anti Slip Terbaik, Cocok untuk Lansia
- Bupati Mempawah Lantik 25 Pejabat, Berikut Nama-namanya
- 4 Rekomendasi HP Murah Layar AMOLED dengan Baterai Jumbo Terbaik Januari 2025
- Stargazer vs Xpander: 10 Fakta Penentu MPV 7 Seater Paling Layak Dibeli
Pilihan
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
5 HP Infinix Memori 256 GB Paling Murah untuk Gaming Lancar dan Simpan Foto Lega
-
John Herdman Teratas Soal Pelatih ASEAN dengan Bayaran Tertinggi
-
Coca-Cola Umumkan PHK Karyawan
-
Unilever Jual Sariwangi ke Grup Djarum Senilai Rp1,5 Triliun
Terkini
-
Banjir Bandang Susulan Terjang Agam, Kementerian PU Fokus Pulihkan Akses dan Air Bersih
-
IHSG Sesi I: Selangkah Lagi 9.000, Sektor Energi Pimpin Reli Penguatan
-
Cadangan Devisa Indonesia Meroket Tembus Rp2.629 Triliun di Akhir Tahun 2025
-
Insentif Rumah Diperpanjang Purbaya, Menperin Ungkap Efeknya Bagi Industri
-
Bangkrut, OJK Cabut Izin Usaha PT Bank Perekonomian Rakyat Suliki Gunung Mas
-
Investor Besar Tak Ada Jaminan, Pinjol Milik Grup Astra Resmi Gulung Tikar
-
Rupiah Masih Lemas, Berikut Harga Kurs Dolar AS di Mandiri, BNI, BRI dan BCA
-
UU APBN 2026: Defisit Anggaran Dipatok 2,68% Tahun Ini
-
UU APBN 2026: Belanja Negara Tembus Rp 3.842 Triliun
-
UU APBN 2026 Akhirnya Terbit, Penerimaan Pajak Ditarget Rp 2.693 Triliun