- Pada Selasa (2/12/2025), rupiah menguat 0,17% ke Rp16.635 per dolar AS, lebih baik dari penutupan hari sebelumnya.
- Penguatan rupiah didorong faktor eksternal berupa ekspektasi pelonggaran The Fed menekan nilai dolar AS.
- Faktor internal penguatan berasal dari ekspansi manufaktur Indonesia yang mencapai 53,3 pada November 2025.
Suara.com - Nilai tukar rupiah terus menguat pada pembukaan hari ini. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar Selasa (2/12/2025) dibuka di level Rp16.635 dolar Amerika Serikat (AS).
Alhasil, rupiah menguat 0,17 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.663 per dolar AS.
Selain itu, beberapa mata uang Asia menunjukkan fluktuatif terhadap dolar.
Peso Filipina mencatat penguatan terbesar yakni 0,30 persen, disusul rupiah yang menguat 0,20 persen. Lalu, ringgit Malaysia yang menguat 0,03 persen.
Sedangkan mata uang Asia lainnya melemah terhadap dolar AS pagi ini. Baht Thailand melemah 0,14 persen, won Korea melemah 0,10 persen.
Diikuti yen Jepang melemah 0,09 persen, yuan China melemah 0,05 persen, dolar Hong Kong melemah 0,02 persen dan dolar Taiwan melemah 0,003 persen terhadap dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia ada di 99,41, tak berubah dari sehari sebelumnya yang juga ada di level 99,41.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi, menyatakan nilai tukar rupiah menguat dipengaruhi faktor eksternal dan internal.
Dari sisi ekternal disebabkan oleh perubahan tajam ekspektasi pelonggaran The Fed dan laporan bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett muncul sebagai kandidat terdepan untuk menjadi Ketua The Fed berikutnya telah menekan dolar, yang pada hari Jumat mencatat minggu terburuknya dalam empat bulan.
Baca Juga: Rupiah Cuma Menguat Sejengkal, tapi Tetap Lebih Perkasa dari Dolar AS
"Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan, ada kemungkinan besar Presiden Donald Trump akan mengumumkan pilihannya sebelum Natal," katanya.
Selain itu, fokus pasar pada data PMI Manufaktur ISM AS, yang diperkirakan akan sedikit menurun menjadi 48,6 pada bulan November dari 48,7 pada bulan Oktober, kemudian data ISM sektor Jasa untuk bulan November, Produksi Industri, Perubahan Ketenagakerjaan ADP, dan Klaim Pengangguran Awal untuk pekan yang berakhir pada 29 November lalu.
Sedangkan dalam negeri disebabkan oleh laporan terbaru S&P Global, menyebut kondisi ekspansi bulan ini didorong oleh kenaikan volume output dan merupakan pertumbuhan pesanan baru tercepat sejak Agustus 2023.
"Data menunjukkan bahwa perbaikan permintaan didorong oleh pasar domestik, karena pesanan ekspor baru turun pada laju yang cukup kuat. Perbaikan kondisi permintaan secara umum juga memacu meningkatnya kebutuhan tenaga kerja dan aktivitas pembelian," imbuhnya.
Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali menunjukkan ekspansi berturut dalam 4 bulan terakhir.
PMI manufaktur Indonesia pada November 2025 berada di level 53,3 atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya 51,2.
Berita Terkait
-
Tunggu Keputusan BI-Rate, Rupiah Masih Keok Lawan Dolar Amerika
-
Gubernur BI: Redenominasi Rupiah Perlu Waktu 6 Tahun
-
Aksi Jatuh Bareng: Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Terkoreksi
-
Rupiah Kian Tertekan, Dibuka Melemah ke Rp16.754 per Dolar AS
-
Rupiah Melemah, Sentimen Suku Bunga The Fed Jadi Faktor Pemberat
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- Sudah 4 Bulan Ditahan, Bupati Pati Sudewo Sampaikan Pesan Rindu dari Rutan KPK
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Target Tembus Rp563 Miliar, CBDK Optimis Properti PIK 2 Makin Dilirik Investor
-
Awas, Risiko Kebocoran Solar Subsidi Imbas Harga BBM Nonsubsidi Naik Gila-gilaan
-
BBRI atau BMRI? Pakar Senior Ini Ungkap Saham Pilihannya untuk Jangka Panjang
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi