Bisnis / Energi
Kamis, 05 Maret 2026 | 11:59 WIB
Asap mengepul di atas Teheran, Iran setelah serangan udara pada Juni 2025. (Kantor Berita Mehr, PBB)
Baca 10 detik
  • Chandra Asri Group mengumumkan force majeure karena konflik Timur Tengah mengganggu distribusi bahan baku vital perusahaan.
  • Pengumuman resmi disampaikan perusahaan kepada mitra usaha berdasarkan kajian dampak pada pelayanan pelanggan per Kamis (5/3/2026).
  • Sebagai antisipasi, perusahaan mengurangi tingkat operasional pabrik sambil berkoordinasi dengan pelanggan untuk mitigasi dampak.

Suara.com - Perusahaan petrokimia, Chandra Asri Group mengumumkan kondisi darurat (force majeure) akibat konflik militer yang terjadi di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.

Konflik yang terjadi antara Iran dengan AS, serta Israel tersebut mengakibatkan terganggunya distribusi bahan baku dalam rantai pasok perusahaan.

"Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku," kata Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi lewat keterangannya yang dikutip pada Kamis (5/3/2026).

Pengumuman force majeure diputuskan perusahaan sebagai langkah administratif, berdasarkan kajian mendalam terhadap dampak pelayanan pelanggan, sekaligus sebagai wujud transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan.

"Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami," kata Suryandi.

Sebagai langkah mitigasi Chandra Asri Group akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabriknya. Bersamaan dengan itu berkoordinasi dengan pelanggannya untuk memitigasi dampak dari keputusan tersebut.

"Dalam kondisi global yang dinamis ini, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional, ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami," Suryandi.

Load More