- Chandra Asri Group mengumumkan force majeure karena konflik Timur Tengah mengganggu distribusi bahan baku vital perusahaan.
- Pengumuman resmi disampaikan perusahaan kepada mitra usaha berdasarkan kajian dampak pada pelayanan pelanggan per Kamis (5/3/2026).
- Sebagai antisipasi, perusahaan mengurangi tingkat operasional pabrik sambil berkoordinasi dengan pelanggan untuk mitigasi dampak.
Suara.com - Perusahaan petrokimia, Chandra Asri Group mengumumkan kondisi darurat (force majeure) akibat konflik militer yang terjadi di kawasan Selat Hormuz, Timur Tengah.
Konflik yang terjadi antara Iran dengan AS, serta Israel tersebut mengakibatkan terganggunya distribusi bahan baku dalam rantai pasok perusahaan.
"Perusahaan telah menyampaikan pemberitahuan force majeure kepada mitra usaha sesuai ketentuan kontraktual yang berlaku," kata Direktur Sumber Daya Manusia dan Urusan Korporat Chandra Asri Group, Suryandi lewat keterangannya yang dikutip pada Kamis (5/3/2026).
Pengumuman force majeure diputuskan perusahaan sebagai langkah administratif, berdasarkan kajian mendalam terhadap dampak pelayanan pelanggan, sekaligus sebagai wujud transparansi kepada seluruh pemangku kepentingan.
"Kami secara aktif memantau perkembangan situasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkembang, dan mengambil langkah antisipatif untuk memastikan ketahanan operasional di seluruh unit bisnis kami," kata Suryandi.
Sebagai langkah mitigasi Chandra Asri Group akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabriknya. Bersamaan dengan itu berkoordinasi dengan pelanggannya untuk memitigasi dampak dari keputusan tersebut.
"Dalam kondisi global yang dinamis ini, kami berkomitmen menjaga kesinambungan operasional, ketahanan bisnis serta terus mengevaluasi potensi dampak terhadap kegiatan usaha kami," Suryandi.
Berita Terkait
-
Selat Hormuz Membara, Bahlil Putar Haluan Impor Minyak ke Amerika
-
Selat Hormuz Lumpuh: Harga Minyak Melambung
-
Garda Revolusi Iran Serang Tanker Minyak, Pasokan Energi Dunia Terancam Lumpuh
-
Konflik Timur Tengah Memanas, Pertamina Upayakan 2 Kapal Keluar dari Area Teluk
-
Perang AS & Israel vs Iran Kunci Selat Hormuz, Krisis BBM di Indonesia?
Terpopuler
- Terjaring OTT KPK, Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Langsung Dibawa ke Jakarta
- Profil dan Biodata Anis Syarifah Istri Bos HS Meninggal Karena Kecelakaan Moge
- Daftar Lokasi ATM Pecahan Rp10 Ribu dan Rp20 Ribu di Surabaya
- Rekam Jejak Muhammad Suryo: Pebisnis dari Nol hingga Jadi Bos Rokok HS
- Prabowo-Gibran Beri Penghormatan Terakhir di Pemakaman Try Sutrisno: Momen Khidmat di TMP Kalibata
Pilihan
-
Skandal Saham BEBS Dibongkar OJK: Rp14,5 Triliun Dibekukan, Kantor Mirae Asset Digeledah!
-
Detik-detik Remaja di Makassar Tewas Tertembak, Perwira Polisi Jadi Tersangka
-
100 Hari Jelang Piala Dunia 2026, FIFA Belum Kantongi Izin dari Dewan Kota
-
Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
-
Hasil BRI Super League: Lewat Duel Sengit, Persija Jakarta Harus Puas Ditahan Borneo FC
Terkini
-
Emiten BUMI Bangkit, Investor Serok Saham di Tengah Teka-teki Hilangnya Chengdong
-
SMF Bakal Ajukan PMN Rp5,39 Triliun untuk Pembiayaan FLPP 2026
-
Emas Antam Mulai Perlahan Naik Lagi, Harganya Kini Rp 3.049.000/Gram
-
Antam Borong 6 Ton Emas per Tahun dari Anak Usaha Merdeka Group
-
Perancis dan Spanyol 'Lawan AS', Tidak Takut Ancaman Embargo Dagang Trump
-
Hormuz Terblokade: Harga Minyak Brent Melonjak ke 83 Dolar AS
-
Sasar Momentum THR, Sarinah Tebar Diskon hingga 50%
-
Bursa Kripto CFX Manjakan PAKD dengan Layanan Rekonsiliasi Transaksi yang Kian Fleksibel
-
Rasio Kredit Bermasalah KPR Meningkat, SMF Sebut Bukan karena Tenor Diperpanjang hingga 30 Tahun
-
Indonesia Bernegosiasi untuk Loloskan Kapal Tanker Pertamina dari Selat Hormuz