- Rupiah mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan sore hari Senin.
- Pelemahan ini dipicu keyakinan investor bahwa Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat.
- Ketidakpastian data makroekonomi AS akibat penutupan pemerintah turut menambah tekanan negatif.
Suara.com - Nilai tukar Rupiah menutup perdagangan sore hari Senin dengan hasil yang kurang memuaskan, ditutup melemah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
\Mata uang Garuda tercatat turun 29 poin atau 0,17 persen, menetap pada level Rp16.707 per Dolar AS.
Pelemahan serupa juga terlihat pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang juga melemah ke posisi Rp16.734 per Dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.710.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa tekanan terhadap Rupiah sebagian besar dipengaruhi oleh keyakinan yang menguat di kalangan investor global bahwa Federal Reserve (The Fed) tidak akan melonggarkan kebijakan moneternya dalam waktu dekat.
"Investor semakin yakin bahwa Federal Reserve kemungkinan besar tidak akan melonggarkan kebijakan dalam waktu dekat, sebuah pergeseran yang disampaikan oleh beberapa pembuat kebijakan The Fed yang menekankan bahwa inflasi masih tetap tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja belum melemah secara signifikan," ucap Ibrahim, dikutip dari Antara.
Sentimen pasar hawkish ini diperkuat oleh sejumlah pidato penting dari pejabat The Fed yang dijadwalkan hari itu, termasuk John Williams, Philip Jefferson, Neel Kashkari, dan Christopher Waller.
Para pedagang mengambil isyarat dari pernyataan para pejabat tersebut untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga AS.
Selain faktor moneter, sentimen negatif terhadap Rupiah juga disebabkan oleh penutupan pemerintah AS (government shutdown) yang berlangsung cukup lama.
Situasi fiskal tersebut membuat investor kehilangan indikator makro ekonomi utama selama berminggu-minggu.
Baca Juga: Rupiah Bangkit ke Rp16.716, Namun Ancaman Fiskal dan Geopolitik Bayangi Pasar
Penutupan pemerintah AS itu diketahui menunda publikasi sejumlah data penting dari Biro Statistik Tenaga Kerja, termasuk laporan penggajian non-pertanian (Non-Farm Payrolls/NFP) untuk bulan September, yang kini baru dijadwalkan rilis pada hari Kamis (20/11).
Ketidakpastian data ekonomi AS ini menambah tekanan pada aset berisiko seperti Rupiah.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
-
Darurat Judi Online! OJK Blokir 31.382 Rekening Bank, Angka Terus Meroket di Awal 2026
Terkini
-
OJK Blokir 127 Ribu Rekening Terkait Scam Senilai Rp9 Triliun
-
Bulog Gempur Aceh dengan Tambahan 50.000 Ton Beras: Amankan Pasokan Pasca-Bencana dan Sambut Ramadan
-
Swasembada Beras Sudah Sejak 2018, Apa yang Mau Dirayakan?
-
Kemenperin Adopsi Sistem Pendidikan Vokasi Swiss untuk Kembangkan SDM
-
Dukung Ekonomi Kerakyatan, Bank Mandiri Salurkan KUR Rp 41 Triliun hingga Desember 2025
-
Realisasi Konsumsi Listrik 2025 Tembus 108,2 Persen dari Target
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kementerian PU Percepat Pembangunan Huntara di Aceh Tamiang, 7 Blok Rampung untuk 84 KK
-
Purbaya Yakin MBG Paling Cepat Habiskan Anggaran di Awal 2026
-
Beban Impor LPG Capai 8,4 Juta Ton, DME Diharapkan Jadi Pengganti Efektif