- Toba Pulp Lestari dituding menjadi salah satu biang kerok penyebab banjir dan longsor Sumatra.
- Meski demikian perusahaan membantah tudingan itu.
- TPL sendiri adalah salah satu perusahaan pulp & paper yang selama ini disebut-sebut sebagai pemain besar di industri kertas.
Suara.com - Setelah gelombang banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah kabupaten di Pulau Sumatra, sorotan publik mengarah ke aktivitas penebangan dan konversi lahan di kawasan hulu dan salah satu nama yang disebut-sebut adalah PT Toba Pulp Lestari Tbk (INRU).
Tuduhan bahwa operasi perusahaan pulp itu memperparah banjir memicu kontroversi luas, sambil menimbulkan pertanyaan tentang siapa pemilik TPL, apa bisnis intinya, serta seberapa besar pengaruhnya terhadap industri kertas nasional.
Warga dan sejumlah aktivis lingkungan menuduh bahwa pembukaan lahan, penebangan, dan praktik pengelolaan hutan di wilayah hulu berkontribusi pada hilangnya tutupan vegetasi sehingga saat hujan ekstrem terjadi, daerah menjadi lebih rentan terhadap aliran deras, longsor, dan “tsunami kayu” yang menghanyutkan rumah dan infrastruktur.
Laporan internasional dan lokal menyebutkan hilangnya tutupan hutan sebagai faktor penting yang memperparah dampak bencana.
Menanggapi tudingan publik, PT Toba Pulp Lestari mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah peran mereka sebagai pemicu banjir, mengatakan kegiatan operasional dilakukan sesuai prinsip Pengelolaan Hutan Lestari dan standar lingkungan yang berlaku, serta menyatakan kesediaan untuk bersinergi dengan pemeriksaan dan dialog resmi.
Siapa Toba Pulp Lestari?
PT Toba Pulp Lestari (sering disingkat TPL) adalah salah satu perusahaan pulp & paper yang selama ini disebut-sebut sebagai pemain besar di sektor pulp di Indonesia bagian Sumatra. Jejak perusahaan ini bermula dari perusahaan-perusahaan pulp yang berdiri pada dekade 1980-an; dalam beberapa liputan media disebut pula bahwa TPL memiliki sejarah penamaan dan struktur yang berubah, salah satunya terkait nama lama seperti INRU/Inti Indorayon pada tahap tertentu.
Itu tidak salah, pada awalnya Toba Pulp Lestari bernama Inti Indorayon Utama. Perusahaan ini pertama kali melantai di Bursa Efek Indonesia pada 18 Juni 1990. Berdasarkan prospektus IPO, konglomerat Sukanto Tanoto menggenggam 27,7% saham Indorayon. Selain itu juga tercatat nama Polar Yanto Tanoto memegang 6,5% saham Indorayon sebelum IPO.
Kala itu Sukanto tercatat sebagai komisaris utama dan Yanto sebagai direktur. Dalam prospektus juga disebutkan bahwa Indorayon merupakan bagian dari Raja Garuda Mas, yang kini disebut Royal Golden Eagle.
Baca Juga: DPR Sentil Pejabat Panggul Beras Bantuan: Gak Perlu Pencitraan, Serahkan Langsung!
Hingga per 31 Oktober 2025, mayoritas saham Toba Pulp Lestari dimilik oleh Allied Hill Limited. Perusahaan yang beralamat di Hong Kong tersebut memiliki 1.285.265.467 saham atau 92,54%. Pemegang manfaat akhir perusahaan adalah Joseph Oetomo.
Secara operasional, TPL bergerak pada pengelolaan tanaman pulp (hutan tanaman industri / HTI), produksi pulp (serat kayu untuk bahan baku kertas), dan penjualan bahan baku pulp ke industri kertas domestik dan ekspor.
Perusahaan ini memasok serat untuk pabrik-pabrik kertas dan produk turunan yang menyokong rantai pasok industri kertas nasional.
Kepemilikan: benarkah Luhut atau Sukanto Tanoto?
Dalam pemberitaan awal setelah bencana, muncul juga klaim beragam soal siapa pemilik di balik TPL — ada hoaks dan spekulasi yang menyebut nama-nama politikus atau pengusaha terkenal. Namun verifikasi media dan catatan publik menunjukkan nama yang paling sering dikaitkan adalah Sukanto Tanoto, pendiri dan ketua Royal Golden Eagle (RGE), yang sejak lama dikenal berkecimpung di sektor pulp, kelapa sawit, dan industri terkait. Jejak kepemilikan dan struktur grup bisnis memang kompleks dan berubah-ubah sepanjang waktu sehingga klaim kepemilikan tunggal harus dilihat berdasarkan data pendaftaran saham dan akta terakhir.
Sementara itu, isu yang beredar di media sosial menyebutkan keterkaitan Luhut Binsar Pandjaitan dengan TPL. Pada 4 Desember 2025, Luhut melalui juru bicara resmi membantah keras bahwa ia memiliki, berafiliasi, atau terlibat secara finansial dengan PT Toba Pulp Lestari. Pernyataan ini dilaporkan media dan disampaikan untuk meredam rumor yang mulai viral. Pernyataan bantahan Luhut menegaskan bahwa klaim kepemilikannya adalah tidak benar.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Sunscreen Menghilangkan Flek Hitam Usia 40 Tahun
- Jejak Pendidikan Noe Letto, Kini Jabat Tenaga Ahli di Dewan Pertahanan Nasional
- 5 Bedak Murah Mengandung SPF untuk Dipakai Sehari-hari, Mulai Rp19 Ribuan
- 6 Mobil Bekas Keren di Bawah 50 Juta untuk Mahasiswa, Efisien buat Jangka Panjang
- 50 Kode Redeem FF Terbaru 17 Januari 2026, Klaim Hadiah Gojo Gratis
Pilihan
-
Siapa Ario Damar? Tokoh Penting Palembang yang Makamnya Kini Dikritik Usai Direvitalisasi
-
Fadli Zon Kaget! Acara Serah Terima SK Keraton Solo Diserbu Protes, Mikrofon Direbut
-
Tim SAR Temukan Serpihan Pesawat ATR42-500 Berukuran Besar
-
KLH Gugat 6 Perusahaan Rp 4,8 Trliun, Termasuk Tambang Emas Astra dan Toba Pulp Lestari?
-
Bursa Transfer Liga Inggris: Manchester United Bidik Murillo sebagai Pengganti Harry Maguire
Terkini
-
Daftar Kode SWIFT BNI dan Cara Pakai untuk Transfer Internasional
-
Bencana Sumatera Jadi Alarm Keras: Pemerintah Didesak Perketat Standar Tata Kelola Tambang
-
Rentetan Penelitian Ungkap Kerusakan Permanen Akibat Tambang Ilegal
-
Pergerakan Saham BUMI: Dilepas Asing, Diborong Lokal, Proyeksi Masih Kuat?
-
Membangun Fondasi Ekonomi Masa Depan Melalui Pendidikan Dini
-
Proyeksi IHSG 19 Januari: Menimbang BI Rate di Tengah Gejolak Tarif Global
-
Alasan Proof of Reserve (PoR) Penting dalam Bursa Kripto, Ini Penjelasannya
-
Nilai Tukar Won Merosot, Laba Korean Air Ikut Anjlok 20%
-
Target Harga BBRI saat Sahamnya Ramai Diborong Investor Asing
-
82 Perjalanan Kereta Api Dibatalkan Gegara Banjir Tutupi Rel