- George Soros dikenal sebagai filantropis melalui OSF dan spekulan kontroversial yang sukses meruntuhkan nilai tukar pound sterling tahun 1992.
- OSF, didirikan tahun 1984 oleh Soros, bertujuan mendukung demokrasi liberal dan hak asasi manusia di berbagai negara global.
- Dokumen menuduh OSF menyalurkan dana ke masyarakat sipil Indonesia untuk mengkonsolidasikan gerakan menjelang kerusuhan Agustus 2025.
Suara.com - Nama miliarder global, George Soros, selalu menjadi sorotan, tidak hanya karena statusnya sebagai filantropis melalui Open Society Foundations (OSF) tetapi juga karena strategi bisnisnya yang kontroversial yang membuatnya dijuluki sebagai dalang di balik gejolak ekonomi sejumlah negara.
OSF sendiri disebut-sebut sebagai kaki tangan langsung Soros. OSF, menurut keterangan resminya, adalah jaringan yayasan global terbesar yang didirikan Soros pada 1984.
Klaimnya adalah mendukung kelompok masyarakat sipil di seluruh dunia yang memperjuangkan hak asasi manusia, demokrasi, kesetaraan, dan keadilan.
Soros mendirikan OSF dengan motivasi menjauhkan sejumlah negara dari komunisme, didorong oleh pengalaman pribadinya yang tumbuh di Hongaria di bawah pendudukan Nazi dan kemudian rezim Komunis. Fokus utamanya adalah mempromosikan nilai-nilai demokrasi liberal.
Strategi Contrarian dan Tuduhan 'Menghancurkan' Ekonomi
Di balik citra filantropi, Soros dikenal karena strategi keuangan berisiko tinggi, terutama memanfaatkan celah nilai tukar mata uang, yang sering memicu tuduhan sebagai dalang kejatuhan ekonomi di berbagai negara.
Strategi George Soros didasarkan pada strategi makro global dan Teori Refleksivitas, yang memungkinkannya mengambil posisi besar (spekulasi) terhadap mata uang yang dianggapnya salah harga atau rentan devaluasi.
Ia menganut konsep Contrarian, berani melawan arus pasar dan menggali keuntungan pada investasi yang dianggap tak populer atau terlalu berisiko.
Puncak popularitas—dan kontroversi—Soros terjadi pada September 1992, ketika pemerintah Inggris terpaksa mendevaluasi pound sterling.
Baca Juga: Kewajiban Neto Indonesia Meroket di Kuartal III 2025, Apa Dampaknya Bagi Ekonomi?
Melalui Quantum Fund, Soros menjual miliaran pound sterling dengan uang pinjaman, lalu membelinya kembali setelah nilai mata uang itu jatuh. Dari strategi ini, Soros meraup keuntungan sekitar 1 miliar dolar AS dalam waktu singkat, membuatnya dijuluki "orang yang menghancurkan Bank of England."
Nama Soros kembali mencuat saat Krisis Finansial Asia 1997. Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, menuduhnya sebagai biang keladi kejatuhan ringgit dan memicu krisis, tuduhan yang dibantah Soros.
Soros dan Soros Fund Management memang melakukan short selling mata uang Thailand (baht) dan Malaysia (ringgit) sebelum krisis, namun ia mengklaim hanya memanfaatkan ketidakseimbangan pasar yang sudah ada.
Meskipun dituduh, dana Soros faktanya juga ikut menderita kerugian miliaran dolar selama krisis 1997, meskipun ia kemudian bangkit lewat keuntungan saham internet pada 1999.
Isu keterlibatan Soros kembali mengemuka di Indonesia. Sebuah dokumen internal terbaru yang ditinjau oleh The Sunday Guardian menuduh adanya mekanisme penyaluran jutaan dolar oleh OSF—melalui agennya di Jakarta—ke jaringan masyarakat sipil yang aktif selama aksi protes di Indonesia pada Agustus hingga September 2025.
Bahkan media asing seperti Sputnik dari Rusia mengaitkan Soros sebagai "dalang" protes di RI.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Profil Mitchell Baker Bomber Keturunan Semarang-Yogya Harapan Baru Timnas Indonesia
-
BGN Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Menu MBG
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
RUU Sisdiknas Dikritik, Wewenang Menteri Pilih Rektor Dinilai Ancam Demokrasi Kampus
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Review Viva Peeling Serum, Harga Rp20 Ribuan tapi Ampuh Bikin Wajah Glowing?
-
Dinamika atau Ancaman? Ini Kata Sekjen Golkar soal Kaesang Incar Kursi DPR di Jateng
-
Starting XI Timnas Indonesia vs Kamboja: Mitchell Baker Jadi Andalan!
-
Mendagri Ungkap Anggaran Pemulihan Banjir Sumatra Capai Rp 100,1 Triliun
-
Insentif Kendaraan Listrik Bakal Diprioritaskan untuk Produk Nasional