- Pemerintah RI dan AS telah menyepakati isu utama Perjanjian Tarif Resiprokal (ART), kelanjutan pertemuan Airlangga dan USTR.
- Tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap 19 persen, termasuk pengecualian untuk produk unggulan seperti sawit dan kopi.
- Tahap selanjutnya adalah perapihan legal drafting, ditargetkan selesai dan ditandatangani sebelum akhir Januari 2026.
Suara.com - Pemerintah Indonesia memastikan hasil negosiasi perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) tidak mengubah tarif resiprokal yang telah disepakati sebelumnya.
Tarif ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetap berada di level 19 persen, disertai pengecualian tarif untuk sejumlah produk unggulan nasional.
Kepastian tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, usai pertemuan dengan Ambassador Jameson Greer dari United States Trade Representative (USTR) di Washington DC.
Pertemuan itu membahas kelanjutan dokumen Agreement on Reciprocal Tariff (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Airlangga menyebut, seluruh isu utama dan teknis dalam perjanjian ART telah dibahas dan disepakati kedua belah pihak.
Tahapan selanjutnya masuk ke proses perapihan bahasa hukum atau legal drafting.
“Seluruh isu substansi yang telah diatur di dalam dokumen ART sudah dapat disepakati kedua belah pihak, baik isu-isu utama maupun isu teknis yang akan diselesaikan bahasanya dalam legal drafting dan proses teknis selanjutnya,” kata Airlangga dalam konferensi pers secara daring dari Washington DC, Selasa (23/12/2025).
Ia menjelaskan, perjanjian tersebut merupakan kelanjutan dari kesepakatan kedua negara pada 22 Juli lalu.
Dalam kesepakatan tersebut, tarif Indonesia diturunkan dari sebelumnya 32 persen menjadi 19 persen.
Baca Juga: Prabowo Mau Temui Donald Trump, Bahas 'Kesepakatan Baru' Tarif Dagang?
“Perjanjian ini melanjutkan kesepakatan tanggal 22 Juli yang lalu, di mana tarif Indonesia diturunkan dari 32 persen menjadi 19 persen,” tuturnya.
Selain penurunan tarif, Indonesia juga memperoleh pengecualian tarif khusus untuk sejumlah produk unggulan ekspor.
Produk tersebut mencakup minyak kelapa sawit, kopi, kakao, teh, dan sejumlah komoditas lainnya.
“Salah satu tentu Amerika Serikat memberikan pengecualian kepada tarif produk unggulan kita seperti minyak sawit, kopi, teh,” ucap Airlangga.
Ia menilai hasil negosiasi ini berdampak langsung terhadap sektor industri nasional, khususnya sektor padat karya.
Airlangga menyebut, sektor-sektor tersebut mempekerjakan sekitar 5 juta tenaga kerja di Indonesia.
Berita Terkait
-
Airlangga Gaspol Kejar Tarif Impor AS 0 Persen, Demi Selamatkan 5 Juta Pekerja RI
-
Kementerian ESDM Buka Peluang Impor Gas dari AS untuk Penuhi Kebutuhan LPG 3Kg
-
Hadapi Tarif Baru AS, Pemerintah Dorong IKM Furnitur Garap Pasar Nontradisional
-
Ekspor Kakao Indonesia Terancam Turun Akibat Ulah Donald Trump
-
Daftar Rincian Diskon Tarif Transportasi untuk Libur Akhir Tahun
Terpopuler
- 5 Pelembap Viva Cosmetics untuk Mencerahkan Wajah dan Hilangkan Flek Hitam, Dijamin Ampuh
- Siapa Saja Tokoh Indonesia di Epstein Files? Ini 6 Nama yang Tertera dalam Dokumen
- 24 Nama Tokoh Besar yang Muncul di Epstein Files, Ada Figur dari Indonesia
- 5 Smart TV 43 Inci Full HD Paling Murah, Watt Rendah Nyaman Buat Nonton
- Adu Tajam! Persija Punya Mauro Zijlstra, Persib Ada Sergio Castel, Siapa Bomber Haus Gol?
Pilihan
-
Ketika Hujan Tak Selalu Berkah, Dilema Petani Sukoharjo Menjaga Dapur Tetap Ngebul
-
KPK Cecar Eks Menteri BUMN Rini Soemarno Soal Holding Minyak dan Gas
-
Diduga Nikah Lagi Padahal Masih Bersuami, Kakak Ipar Nakula Sadewa Dipolisikan
-
Lebih dari 150 Ribu Warga Jogja Dinonaktifkan dari PBI JK, Warga Kaget dan Bingung Nasib Pengobatan
-
Gempa Pacitan Guncang Jogja, 15 Warga Terluka dan 14 KA Berhenti Luar Biasa
Terkini
-
Siapkan Alat Berat, Kementerian PU Bantu Tangani Jalan Provinsi di Gayo Lues
-
Kementerian PU Uji Coba Pengaliran Air di Daerah Irigasi Jambo Aye
-
Holding Mitra Mikro Perluas Inklusi Keuangan Lewat 430 Ribu Agen BRILink Mekaar
-
IHSG dan Rupiah Rontok Gara-gara Moody's, Apa yang Sebenarnya Terjadi?
-
Purbaya Rotasi Pegawai Pajak usai OTT KPK, Kali Ketiga dalam Sebulan
-
Mendag Ungkap Harga CPO Hingga Batu Bara Anjlok di 2025
-
Meski Transaksi Digital Masif, BCA Tetap Gas Tambah Kantor Cabang
-
Belanja di Korsel Masih Bisa Bayar Pakai QRIS Hingga April 2026
-
Transaksi Digital Melesat, BCA Perketat Sistem Anti-Penipuan
-
BRI Perkuat CSR Lewat Aksi Bersih-Bersih Pantai Dukung Gerakan Indonesia ASRI