- PT Perkebunan Kandangan Madiun mematangkan proyek PSN hilirisasi susu terpadu di kawasan Madiun sejak Desember 2025.
- Proyek ini akan mengimpor sapi perah F1 unggulan dari AS untuk mencapai produksi susu skala besar domestik.
- Perusahaan akan bermitra dengan petani lokal untuk pasokan pakan guna mendukung program peningkatan gizi nasional.
Roberto mengakui tantangan utama berada di sisi hulu, terutama terkait ketersediaan pakan berkualitas seperti jagung dan hijauan.
Untuk mengatasi hal tersebut, perusahaan menyiapkan skema kemitraan dengan petani lokal guna menjamin pasokan pakan.
“Kami ingin petani lokal terlibat langsung. Mereka memasok jagung untuk pakan sapi. Peternakan berjalan, pertanian juga ikut berkembang,” ucapnya.
Saat ini, sebagian besar kebutuhan susu nasional masih dipenuhi dari impor sehingga industri pengolahan susu dalam negeri belum berkembang optimal.
Melalui proyek PSN ini, PT Perkebunan Kandangan Madiun menargetkan hilirisasi penuh mulai dari produksi, pengolahan, hingga distribusi dalam satu kawasan.
“Selama ini susu diimpor dulu baru diolah di Indonesia. Dengan model ini, seluruh proses dilakukan di dalam negeri dan langsung disalurkan untuk MBG maupun pasar bebas,” ungkap Roberto.
Perusahaan menargetkan kepemilikan 20.000 ekor sapi perah F1 pada 2026 dengan pengiriman bertahap sebanyak 5.000 ekor.
Seluruh fasilitas peternakan disiapkan mengikuti standar internasional, termasuk pengaturan sirkulasi udara, suhu ideal, serta ketersediaan air bersih.
Roberto yakin proyek ini mampu memperkuat kemandirian susu nasional sekaligus sejalan dengan visi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menargetkan provinsinya sebagai pemasok utama susu nasional.
Baca Juga: Ini Strategi Ketergantungan Impor Komponen Kapal Sebesar 80 Persen
Khofifah sebelumnya menyatakan optimisme Jawa Timur dapat meningkatkan produksi susu nasional dan menekan impor.
“Dengan bibit sapi perah yang memiliki genetik unggul, produksi yang sebelumnya 12–15 liter bisa meningkat menjadi 20–25 liter per hari. Harapannya, impor susu yang saat ini masih sekitar 65 persen bisa dikurangi,” ungkapnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) RI tahun 2025, Jawa Timur memproduksi susu segar sebesar 468.712 ton per tahun atau berkontribusi sekitar 58 persen dari total produksi nasional sebesar 808.352 ton per tahun.
Selain memenuhi kebutuhan domestik, Khofifah menilai peluang ekspor susu dan produk olahannya terbuka lebar, terutama keju berbahan susu organik untuk pasar Eropa.
Berita Terkait
-
Pengusaha Sebut 3 Sektor yang Bisa Jadi Andalan Ekonomi RI di Masa Depan
-
Jamin Keaslian Data! Peruri Dorong Hilirisasi Ijazah Digital
-
Bahlil Blak-blakan Hilirisasi Indonesia Beda dari China dan Korea, Ini Penyebabnya
-
Bahlil: Hilirisasi Harus Berkeadilan, Daerah Wajib Dapat Porsi Ekonomi Besar
-
Setahun Berjalan, Hilirisasi Kementerian ESDM Dorong Terciptanya 276 Ribu Lapangan Kerja Baru
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
Terkini
-
Mahasiswa Jangan Khawatir, Industri Petrokimia Butuh Banyak SDM
-
BGN Kembali Efisiensi Anggaran MBG, Purbaya Sebut Kemenkeu Kini Ikut Awasi SPPG
-
Kewajiban NIB bagi Pedagang Online: Solusi atau Beban Baru?
-
Danantara Bentuk BUMN Ekspor DSI, Bidik Kebocoran Devisa Rp 5.500 Triliun Lebih
-
Rupiah Berotot Sore Ini ke Level Rp17.922/USD
-
Pedagang Asing Jualan di E-Commerce RI Sekarang Semakin Sulit
-
Industri Alas Kaki Masih Butuh SDM, Difabel Punya Peluang Besar
-
Purbaya Tunda Penerbitan Panda Bond Usai Dirayu Investor China
-
Purbaya Klaim Pendanaan Rp 304 T dari China Bukan Utang, Terus Apa?
-
Pasokan HGBT Menipis, Apa Aksi Bahlil?