- Saham TOBA menghadapi tekanan jual kuat dan tren penurunan teknikal meskipun pendapatan tumbuh signifikan hingga Kuartal III-2025.
- Manajemen TOBA mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) senilai Rp586,27 miliar hingga Maret 2026.
- Proyeksi satu bulan ke depan menunjukkan harga saham diperkirakan stabil antara Rp740 hingga Rp800 karena aksi korporasi tersebut.
Suara.com - Pergerakan saham PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) tengah menjadi sorotan tajam para pelaku pasar modal di penghujung tahun 2025.
Emiten yang sedang bertransformasi menjadi perusahaan energi hijau ini menghadapi dinamika yang kompleks. Di satu sisi, indikator teknikal dan fundamental perusahaan masih menunjukkan beban yang cukup berat.
Namun, di sisi lain, manajemen meluncurkan aksi korporasi agresif berupa pembelian kembali saham (buyback) dengan nilai mencapai ratusan miliar rupiah.
Berikut adalah bedah tuntas prospek TOBA untuk satu bulan ke depan tanpa mengabaikan realitas pasar yang ada.
Tekanan Teknis: Menghadapi Dominasi Aksi Jual
Secara teknikal, saham TOBA masih terperangkap dalam tren penurunan (downtrend) yang kuat sejak beberapa bulan terakhir.
Meskipun harga sempat jatuh ke bawah level psikologis Rp700 dan kemudian mengalami pemulihan teknis (technical rebound), posisi harga terakhir di level Rp740 masih menunjukkan sinyal waspada.
Kemunculan candle merah dengan volume penawaran (offer) yang besar mengindikasikan bahwa tekanan jual dari pasar belum benar-benar mereda.
Tanpa adanya dorongan sentimen yang luar biasa, saham dengan pola seperti ini biasanya akan bergerak mendatar di area bawah atau justru perlahan merosot kembali.
Baca Juga: IHSG Akhir Tahun 2025, Ini Daftar Saham yang Harganya Naik Terbesar
Saat ini, harga sedang menguji level support di kisaran Rp680 hingga Rp700, dengan batas hambatan atau resistance terdekat pada rentang Rp760 hingga Rp780.
Satu aspek yang membuat pasar cenderung menahan diri adalah rapor keuangan sepanjang 2025.
Meski secara pendapatan (top-line) TOBA menunjukkan pertumbuhan impresif tiap kuartalnya—dari Rp1,17 triliun pada kuartal pertama hingga menyentuh Rp1,89 triliun pada kuartal ketiga—perusahaan belum mampu mencetak laba bersih.
Hingga kuartal III-2025, TOBA masih mencatatkan rugi bersih berjalan sebesar Rp205 miliar.
Walaupun angka kerugian ini menyusut signifikan dibandingkan kuartal pertama yang mencapai Rp964 miliar, beban usaha yang besar tetap menjadi ganjalan utama.
Pasar pada umumnya sulit memberikan penilaian premium bagi perusahaan yang masih terjebak di zona merah, terlepas dari seberapa menarik branding "transisi energi" yang dipresentasikan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
Pertamina Tegaskan Harga BBM Pertamax Cs Belum Naik pada 1 April
-
WFH ASN Daerah: Lokasi Ponsel Akan Dipantau, Wajib Respons Sebelum 5 Menit
-
Konflik Timur Tengah Paksa Pemerintah Terapkan B50 di Juli Tahun Ini
-
Rincian 8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global
-
Bahlil: RI Dapat Pasokan Minyak Baru Pengganti Timur Tengah
-
Skema MBG Diatur Ulang untuk Menghemat Rp20 Triliun di Tengah Krisis Energi
-
Usai ASN, Menaker Segera Berlakukan WFH untuk Karyawan Swasta
-
ASN Wajib WFH Sehari Mulai 1 April Besok
-
Rupiah Terus Melemah Akibat Konflik Timur Tengah, Kemenperin: Gunakan Skema LCT
-
Pemerintah Hemat Rp 260 Triliun dari Kebijakan WFH Hingga Pembatasan BBM