- Penggulingan Presiden Venezuela oleh Donald Trump mengguncang pasar energi, khususnya harga minyak dunia, mengingat status negara tersebut sebagai produsen minyak besar.
- Meskipun terjadi pergantian politik, dampak langsung terhadap harga minyak mentah Brent diprediksi hanya kenaikan minim karena pasar global mengalami kelebihan pasokan.
- Analisis jangka menengah memprediksi harga minyak bisa tertekan negatif jika pemerintahan baru Venezuela berhasil meningkatkan produksi hingga 3 juta barel per hari.
Suara.com - Kabar Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang menggulingkan Presiden Venezuela Nicolas Maduro mengguncangkan pasar, terutama sektor energi. Salah satu dampaknya, terkait dengan harga minyak dunia, apalagi Venezuela dikenal sebagai negara penghasil minyak terbesar.
Seperti dilansir CNBC, meskipun ada dampak, namun efek dari kudeta itu hanya minim. Sebab, dunia kini dihadapkan dengan kelebihan pasokan.
Kepala analis dan kepala penelitian di A/S Global Risk Management, Arne Lohmann Rasmussen, menjelaskan kudeta tersebut memang akan mempengaruhi sedikit ekspor minyak.
Untuk diketahui, Venezuela yang merupakan salah satu pendiri OPEC memang memiliki cadangan minyak terbukti terbesar di dunia.
Namun saat ini negara tersebut hanya memproduksi kurang dari 1 juta barel per hari, atau kurang dari 1 persen produksi minyak global. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 500.000 barel per hari yang diekspor.
Rasmussen memperkirakan bahwa harga minyak mentah jenis Brent akan naik sekitar USD 1 hingga USD 2, saat perdagangan berjangka dibuka pada Minggu malam
"Meskipun ini merupakan peristiwa geopolitik besar yang biasanya diharapkan berdampak positif atau mendorong kenaikan harga minyak. Intinya adalah masih ada terlalu banyak minyak di pasar, dan itulah mengapa harga minyak tidak akan meroket," ujarnya seperti dikutip, Minggu (4/1/2026).
Pandangan serupa disampaikan analis Rapidan Energy, Bob McNally. Ia menyebut sekitar sepertiga produksi minyak Venezuela berisiko terhenti, namun gangguan tersebut dinilai belum cukup signifikan untuk mengguncang pasar minyak dalam jangka pendek.
Secara historis, pasar minyak memang tengah berada di bawah tekanan. Sepanjang 2025, harga minyak mencatat penurunan tahunan terbesar dalam lima tahun terakhir.
Baca Juga: Trump Sebut AS Bakal 'Keruk' Minyak Venezuela Usai Tangkap Presiden Maduro
Minyak mentah Brent anjlok sekitar 19 persen, sementara minyak mentah AS turun hampir 20 persen. Tekanan datang dari meningkatnya produksi OPEC+ serta produksi minyak AS yang mencapai rekor 13,8 juta barel per hari.
Menariknya, para analis menilai penggulingan rezim di Venezuela justru berpotensi berdampak negatif bagi harga minyak dalam jangka menengah hingga panjang.
Kepala riset energi MST Financial, Saul Kavonic, memperkirakan produksi Venezuela bisa melonjak hingga 3 juta barel per hari apabila pemerintahan baru berhasil mencabut sanksi dan membuka keran investasi asing.
Meski demikian, ketidakpastian politik masih menjadi ganjalan. Trump menyatakan embargo minyak Venezuela masih berlaku, meskipun ia mengklaim perusahaan minyak AS siap menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun kembali sektor energi negara tersebut
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Siswa Madrasah Tewas usai Diduga Dipukul Helm Oknum Brimob di Kota Tual Maluku
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
Terkini
-
Ekonom Nilai Indonesia Rugi Banyak dari Kesepakatan Dagang dengan AS
-
Lebih dari 500 Regulasi Kepung IHT, Ancaman PHK dan Kemiskinan Mengintai
-
Impor 105 Ribu Truk dari India, Bos Agrinas Pangan: Agar Tak Ganggu Produksi Lokal
-
RI-AS Sepakati Perjanjian Tarif, Garuda Indonesia Bakal Beli 50 Pesawat Boeing
-
RI Keok! CELIOS Bongkar Borok Perjanjian Dagang Prabowo-Trump
-
Tak Hanya Bandara, Holding BUMN Aviasi Gaspol InJourney Green dari Pantai
-
Bukan Sekadar Data, Timing Berita Jadi 'Senjata Rahasia' Trader Cuan di Pasar Modal
-
Aturan Baru Purbaya, Peserta Program Magang Nasional Resmi Dapat Insentif Pajak
-
Waspada! IKAPPI Endus Tiga Fase Ledakan Harga Pangan Selama Ramadan-Lebaran
-
Takut Bernasib Sama dengan Sri Mulyani, Purbaya Langsung Buru-buru Klarifikasi soal Guru Honorer