- Informasi tanpa kecepatan eksekusi hanya menjadi data basi bagi trader.
- Sentimen investor lebih dominan menggerakkan pasar dibanding angka statistik mentah.
- Investor pro lebih percaya riset broker dibanding opini finfluencer.
Suara.com - Di tengah dinamisnya pasar keuangan global, informasi mentah kini tak lagi menjadi jaminan keuntungan. Bagi para pelaku pasar, kekuatan sesungguhnya bukan lagi terletak pada apa yang mereka ketahui, melainkan seberapa cepat mereka bereaksi terhadap momentum tersebut.
Broker global independen, Kar Yong Ang, Elev8 Analyst mengungkapkan bahwa memantau pergerakan berita (news monitoring) telah berevolusi menjadi "kekuatan super" bagi seorang trader. Mengandalkan ringkasan keputusan bank sentral sehari setelah kejadian mungkin cukup bagi investor jangka menengah, namun bagi day trader, itu adalah resep menuju kegagalan karena momentum telah menguap.
"Tanpa informasi yang tepat waktu, strategi paling matang sekalipun bisa kandas. Trader tanpa informasi berita ibarat anak kucing buta yang menavigasi jalan raya yang ramai; mereka terpapar risiko yang sebenarnya bisa diantisipasi," tulis analisis Kar Yong Ang, dikutip Jumat (20/2/2026).
Elev8 menyoroti tiga alasan fundamental mengapa berita menjadi navigasi utama di pasar:
1. Volatilitas Mengikuti Narasi
Pasar seringkali tidak merespons data secara mentah, melainkan bagaimana data tersebut diinterpretasikan. Sebagai contoh, rilis data inflasi (CPI) bisa saja diabaikan pasar jika isu geopolitik sedang mendominasi obrolan investor. Sebaliknya, jika inflasi jadi fokus utama, pergeseran angka sekecil apa pun bisa memicu stop loss massal.
2. Fenomena 'Buy the Rumor, Sell the News'
Pasar keuangan bersifat prospektif atau melihat ke depan. Harga aset seringkali sudah naik jauh sebelum pengumuman resmi (seperti laporan keuangan atau bunga acuan) karena spekulasi. Begitu berita resmi keluar, harga justru berbalik turun karena trader melakukan aksi ambil untung (profit taking).
3. Mewaspadai Risiko 'Grey Swan'
Baca Juga: IHSG Berakhir Meloyo pada Jumat Sore, 401 Saham Memerah
Kesadaran akan berita membantu trader mengidentifikasi risiko yang sudah terlihat namun belum terwujud (grey swan). Contoh nyatanya adalah fenomena "melawan The Fed" pada 2013-2015, di mana banyak trader gagal saat melakukan short selling karena mereka mengabaikan narasi pelonggaran kebijakan bank sentral yang sangat kuat.
Menariknya, riset dari Yayasan FINRA menunjukkan bahwa 26% investor—terutama pemula dengan pengalaman di bawah dua tahun—masih sangat bergantung pada influencer media sosial (finfluencer) dalam mengambil keputusan.
Namun, investor berpengalaman cenderung menghindari opini subjektif tersebut. Mereka lebih mempercayai data dan alat analisis yang disediakan oleh perusahaan broker resmi.
"Broker seperti Elev8 menjembatani celah ini dengan menyediakan data real-time dan interpretasi ahli. Ini membantu trader memahami dampak peristiwa ekonomi secara objektif, bukan sekadar mengikuti tren media sosial yang berisiko tinggi," tutup laporan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Hanya di Jateng, DIY Berlakukan Pajak Opsen 66 Persen, Pajak Kendaraan Tak Naik
- 5 Rekomendasi HP Layar Besar untuk Orang Tua Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Lingkar Sumbing Wonosobo Resmi Beroperasi, Dongkrak Ekonomi Tani dan Wisata Pegunungan
- 5 Sepatu Tanpa Tali 'Kembaran' Skechers Versi Murah, Praktis dan Empuk
- 10 Rekomendasi Cream Memutihkan Wajah dalam 7 Hari BPOM
Pilihan
-
Impor Mobil India Rp 24 Triliun Berpotensi Lumpuhkan Manufaktur Nasional
-
Jadwal Imsak Jakarta Hari Ini 20 Februari 2026, Lengkap Waktu Subuh dan Magrib
-
Tok! Eks Kapolres Bima AKBP Didik Resmi Dipecat Buntut Kasus Narkoba
-
Bisnis Dihimpit Opsen, Pengusaha Rental Mobil Tuntut Transparansi Pajak
-
Pesawat Pengangkut BBM Jatuh di Krayan Timur, Pencarian Masuk ke Hutan Belantara
Terkini
-
Aturan Baru Purbaya, Peserta Program Magang Nasional Resmi Dapat Insentif Pajak
-
Waspada! IKAPPI Endus Tiga Fase Ledakan Harga Pangan Selama Ramadan-Lebaran
-
Takut Bernasib Sama dengan Sri Mulyani, Purbaya Langsung Buru-buru Klarifikasi soal Guru Honorer
-
Berkat Prabowo, Harga Tahu-Tempe Bakal Makin Murah
-
IHSG Berakhir Meloyo pada Jumat Sore, 401 Saham Memerah
-
Dana Desa buat Kopdes Merah Putih Tembus Rp 34,57 T, Purbaya: Hitungan Saya Lebih Besar
-
Genjot Fasilitas, IPC TPK Pastikan Arus Barang Ramadan 1447 H Aman Terkendali
-
Kemenkeu Klarifikasi Pernyataan Purbaya soal Gugatan Guru Honorer untuk Anggaran MBG UU APBN 2026
-
Gegara Intervensi BI, Rupiah Berjaya di Jumat Sore ke Level Rp 16.888/USD
-
Kini Giliran Kimia Farma Kembali Raih Gelar Persero