- Indonesia dinilai kalah telak dalam aspek non-tarif pada perjanjian dagang dengan AS.
- RI wajib impor energi US$ 15 miliar & tarif 0% bagi produk AS.
- Hilirisasi terancam gagal akibat pembebasan ekspor mineral kritis mentah ke Amerika.
Suara.com - Kesepakatan dagang teranyar antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika Serikat (AS) menuai kritik pedas. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai posisi Indonesia dalam perundingan tersebut sangat lemah, bahkan cenderung memberikan "karpet merah" bagi kepentingan ekonomi Paman Sam.
Peneliti CELIOS, Nailul Huda, secara blak-blakan menyebut Indonesia kalah telak di hampir semua lini. Meskipun ada kesepakatan tarif 19 persen bagi produk Indonesia, hal itu dianggap bukan sebuah prestasi besar jika dibandingkan dengan konsesi non-tarif yang diberikan Jakarta kepada Washington.
"Saya merasa Indonesia kalah dalam segala aspek di perundingan dagang dengan US. Kesepakatan tarif 19 persen tentu tidak bisa langsung dikatakan 'kemenangan' karena sangat tergantung pada kesepakatan non-tarif," tegas Huda kepada Suara.com, Jumat (20/2/2026).
Huda menyoroti salah satu poin yang dianggap menjerat, yakni kewajiban Indonesia mengimpor produk energi dari AS senilai US$ 15 miliar. Di sisi lain, hampir seluruh produk asal AS yang masuk ke pasar domestik Indonesia dibebaskan dari pajak.
"Masalahnya adalah keharusan impor produk energi dari AS, sementara 98 persen lebih produk AS mendapatkan tarif nol persen ke Indonesia. Ketimpangannya sangat ketara," tambahnya.
Sektor pertambangan tak luput dari sorotan. Perjanjian ini mewajibkan Indonesia memfasilitasi investasi AS mulai dari eksplorasi hingga ekspor mineral kritis. Ironisnya, Indonesia juga dipaksa menghapus pembatasan ekspor komoditas strategis tersebut ke AS.
Huda menilai kebijakan ini akan memicu pembukaan lahan tambang baru secara masif, mengingat cadangan yang ada saat ini sudah banyak dikuasai oleh perusahaan China.
"Perusahaan AS diberikan keleluasaan tinggi. Artinya, akan ada pembukaan lahan tambang baru lagi untuk mereka," ungkap Huda.
Dampak yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan program hilirisasi kebanggaan pemerintah. Dengan diperbolehkannya kembali ekspor bahan mentah secara bebas ke AS, semangat pengolahan di dalam negeri terancam layu sebelum berkembang.
Baca Juga: Berkat Prabowo, Harga Tahu-Tempe Bakal Makin Murah
"Program hilirisasi akan semakin dipertanyakan kelanjutannya. Selain itu, kerusakan lingkungan dipastikan akan semakin besar karena eksploitasi yang kembali terbuka lebar," pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Roy Suryo Menang Praperadilan! Hakim Nyatakan Penangkapan dan Penahanan Tidak Sah
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
Terkini
-
Telkom Perkuat Transformasi Digital UMKM di Wilayah 3T lewat Program Rural Youth AI Facilitator
-
Telkom University Gandeng NUS, Telkom Dorong Talenta Digital Indonesia Berdaya Saing Global
-
RI Sebenarnya Punya Senjata untuk Mitigasi Pemadaman Listrik
-
Purbaya Girang Pendapatan Negara di Semester I 2026 Lebih Tinggi dari Era Sri Mulyani
-
61 Tahun Telkom Indonesia, Gelorakan Semangat Transformasi Digital Nasional
-
Pemerintah Diminta Evaluasi Dampak Komisi Ojol 8 Persen Selama Enam Bulan
-
Saham Tambang Kembali Bersinar, AMMN, ANTM, Hingga BUMI Potensi Cuan Gede
-
Rampungkan Streamlining 10 Entitas, Telkom Perkuat Transformasi Jadi Strategic Holding
-
Zulhas Dorong Sektor Lain Ikuti Langkah Cepat Jalankan Perdagangan Karbon
-
Pelaku Usaha Kembali Dibikin Pusing Pemerintah, Pajak Air Tanah Naik