- IKAPPI prediksi 3 fase lonjakan harga pangan selama Ramadan hingga pasca-Lebaran.
- Fase pertama dipicu cabai rawit; fase kedua kenaikan serentak jelang Idulfitri.
- Fase ketiga terjadi pasca-Lebaran akibat minimnya pedagang yang berjualan di pasar.
Suara.com - Masyarakat diminta bersiap merogoh kocek lebih dalam. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) memprediksi lonjakan harga bahan pokok tidak hanya terjadi di awal Ramadan, melainkan akan berulang dalam tiga fase krusial hingga pasca-Lebaran 2026.
Sekretaris Jenderal IKAPPI, Reynaldi Sarijowan mengungkapkan, pola kenaikan harga ini merupakan siklus tahunan yang dipicu oleh dinamika permintaan dan pasokan yang tidak seimbang.
“Kami menyebut kenaikan harga ini ada di tiga fase,” ujar Reynaldi kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Reynaldi menjelaskan, fase pertama terjadi sepekan menjelang bulan suci. Pada periode ini, permintaan mulai merangkak naik sementara pasokan di pasar belum sepenuhnya bertambah secara signifikan.
“Fase pertama itu ialah H-7 menjelang atau memasuki bulan suci Ramadan. Yang paling terasa puncaknya itu adalah cabai rawit,” katanya.
Setelah melewati fase awal, harga diprediksi tidak akan langsung melandai ke titik normal. Memasuki minggu kedua dan ketiga puasa, harga cenderung akan tertahan di level tinggi atau stuck.
Memasuki fase kedua, tekanan harga dipastikan kian hebat. Tepat tiga hari sebelum Idulfitri, IKAPPI memproyeksi seluruh komoditas pangan akan mengalami kenaikan harga secara serentak.
“Ini kompak nanti seragam, seluruh komoditas. Pemicunya karena rumah tangga akan memasok seluruh bahan baku untuk makan bersama keluarga saat Lebaran,” jelas Reynaldi.
Alih-alih turun setelah hari raya, harga pangan justru diprediksi kembali melonjak pada H+2 hingga H+7 Lebaran. Hal ini terjadi bukan karena tingginya permintaan, melainkan karena rantai distribusi yang tersendat.
Baca Juga: Berkat Prabowo, Harga Tahu-Tempe Bakal Makin Murah
“Banyak pedagang yang belum aktif di kios karena masih mudik. Aktivitas perdagangan belum normal, sehingga distribusi barang ke pasar tradisional belum optimal,” pungkasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
Terkini
-
Saham BBCA Ambles, Grup Djarum Mau Bawa SUPR Keluar dari Bursa
-
Suhu Global Mendidih! Ultimatum Trump di Selat Hormuz Bakar Harga Minyak ke Level USD 113
-
Dongkrak Daya Beli, Indodana Finance dan Sharp Perkuat Ekosistem Cicilan Digital
-
Ngebulnya Pasar Rokok Ilegal di RI
-
Rupiah Masih Mimpi Buruk, Bertahan di Level Rp 17.078/USD
-
Dana Asing Kabur Rp 23 Triliun, IHSG Anjlok 14% Sepanjang Maret
-
BPMA Gandeng BUMN, Industri Migas Aceh Prioritaskan Gunakan Produk Lokal
-
IHSG Mulai Gaspol, Dibuka Menguat ke Level 7.001
-
Harga Emas Antam dan Galeri 24 di Pegadaian Turun, UBS Ikutan Anjlok!
-
DPR Usul Pembelian Gas 3 Kg Pakai Sidik Jari atau Retina, Ini Tujuannya