Bisnis / Energi
Selasa, 13 Januari 2026 | 13:07 WIB
BUMI
Baca 10 detik
  • Chengdong Investment Corp melakukan divestasi bertahap saham BUMI dari Desember 2025 hingga Januari 2026, kepemilikan turun dari 5,99% menjadi 4,99%.
  • Aksi jual ini terjadi di tengah volatilitas harga saham BUMI dan beriringan dengan masuknya ribuan investor ritel baru.
  • Peluang BUMI masuk indeks MSCI pada Februari 2026 menjadi katalis utama sentimen positif meski telah terjadi kenaikan harga.

Angka ini hanya berada di bawah raksasa perbankan BBRI dan BBCA, serta perusahaan teknologi GOTO. Minat masyarakat yang begitu tinggi ini mencerminkan optimisme terhadap prospek bisnis batubara di bawah naungan kolaborasi Grup Salim dan Grup Bakrie.

Grup Salim sendiri, melalui Mach Energy (Hong Kong) Limited, saat ini memegang kendali mayoritas sebesar 45,78 persen.

Sementara itu, Grup Bakrie tetap memperkuat posisinya sebagai pengendali melalui PT Bakrie Capital Indonesia beserta entitas afiliasi lainnya.

Sentimen Ekspansi dan Ambisi Indeks MSCI

Lonjakan harga saham BUMI yang mencapai 301 persen dalam setahun terakhir tidak terlepas dari beragam sentimen positif. Selain perbaikan kinerja keuangan, BUMI juga tengah melakukan diversifikasi bisnis ke sektor non-batubara, seperti pengembangan bisnis bauksit-alumina melalui Laman Mining.

Ekspansi ini dinilai sebagai langkah tepat untuk menjaga keberlanjutan perusahaan di tengah tren transisi energi.

Namun, katalis utama yang paling dinantikan pasar adalah peluang BUMI untuk masuk kembali ke dalam indeks global bergengsi, MSCI (Morgan Stanley Capital International), dalam rebalancing periode Februari 2026.

Riset dari Indo Premier pada akhir 2025 menyebutkan bahwa BUMI merupakan kandidat dengan probabilitas tertinggi untuk masuk ke dalam MSCI Standard Cap.

Secara teknikal, kapitalisasi pasar BUMI telah jauh melampaui ambang batas minimum yang disyaratkan.

Baca Juga: Rekomendasi Saham-saham yang Patut Dicermati Senin 12 Januari 2026

Meskipun harga sahamnya mengalami reli hingga 83 persen dalam satu bulan terakhir, analis menilai kenaikan tersebut masih dalam kategori wajar dan tidak melanggar ketentuan extreme price increase yang ditetapkan oleh MSCI.

Jika BUMI resmi masuk ke indeks global tersebut, diprediksi akan terjadi arus masuk dana asing yang jauh lebih besar untuk menggantikan posisi investor yang melakukan divestasi saat ini.

Load More