- Rebalancing indeks MSCI pada Februari 2026 berpotensi memicu arus modal asing besar ke saham pilihan di Bursa Efek Indonesia.
- Emiten seperti BUMI dan PANI diprediksi menjadi kandidat kuat masuk Indeks Global Standard dengan potensi dana masuk signifikan.
- Faktor penentu utama kriteria MSCI adalah kapitalisasi pasar dan transparansi kepemilikan saham publik atau free float.
Suara.com - Pasar modal Indonesia kini tengah bersiap menyambut momentum tahunan yang paling dinanti para investor institusi, yaitu rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada periode Februari 2026.
Perubahan komposisi indeks global ini menjadi katalis penting karena berpotensi menggerakkan arus modal asing (foreign inflow) dalam jumlah besar ke saham-saham pilihan.
Berdasarkan riset terbaru dari Samuel Sekuritas Indonesia dan Mirae Asset Sekuritas, terdapat pergeseran signifikan dalam peta kekuatan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sementara beberapa nama besar terancam terdepak, sejumlah emiten lainnya justru menunjukkan peluang besar untuk naik kelas ke jajaran indeks bergengsi tersebut.
Kandidat Terkuat Penghuni Baru MSCI Global Standard
Fokus utama pasar tertuju pada saham-saham yang diproyeksikan masuk ke dalam kategori MSCI Indonesia Global Standard. Berikut adalah deretan emiten yang memiliki peluang paling besar:
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Emiten batubara hasil kolaborasi Grup Bakrie dan Salim ini disebut sebagai kandidat paling unggul. Dengan kapitalisasi pasar menyentuh angka US$ 10,3 miliar dan free float sebesar 28,3%, BUMI memiliki likuiditas yang sangat cair.
Nilai transaksi harian rata-ratanya yang mencapai US$ 36,7 juta menjadi daya tarik utama. Jika resmi masuk, BUMI diperkirakan akan diserbu dana asing sebesar US$ 180 hingga 300 juta.
Baca Juga: IHSG Gagal Tembus Level 9.000, Investor Panik Langsung Buru-buru Lego Saham
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)
Perusahaan properti raksasa ini memiliki kapitalisasi pasar fantastis sekitar US$ 13,3 miliar. Meskipun rasio free float (15,9%) lebih rendah dibanding BUMI, PANI tetap menjadi bidikan utama karena ukurannya yang memenuhi syarat dasar. Potensi aliran dana masuk bagi PANI diprediksi setara dengan BUMI, yakni di kisaran US$ 180–300 juta.
Samuel Sekuritas memperkirakan aliran modal asing jumbo akan menyerbu dua emiten raksasa, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), apabila keduanya resmi masuk ke dalam indeks MSCI Global Standard.
Estimasi nilai dana asing yang masuk (foreign inflow) diprediksi berada di kisaran US$ 180 juta hingga US$ 300 juta (sekitar Rp 3 triliun - Rp 5 triliun).
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR)
Di sektor pertambangan, ADMR terus dipantau sebagai kandidat potensial. Peningkatan likuiditas transaksi harian dan performa operasional yang stabil menempatkan saham ini pada jalur yang tepat untuk menembus standar terbaru MSCI.
PT Petrosea Tbk (PTRO)
Saat ini berada di indeks Small Cap, PTRO memiliki peluang besar untuk naik kelas ke kategori Standard. Konsistensi pertumbuhan laba dan peran strategisnya di sektor jasa tambang memperkuat posisi tawar emiten ini dalam peninjauan Februari mendatang.
Di sisi lain, investor juga perlu waspada terhadap risiko keluarnya beberapa emiten dari daftar indeks MSCI. Samuel Sekuritas menyoroti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) yang berpotensi tergeser dari MSCI Indonesia Global Standard.
Berbeda dengan analis Mirae, Samuel Sekuritas memperkirakan saham-saham lain yang berpotensi masuk MSCI.
Samuel Sekuritas juga mengidentifikasi sederet emiten yang berpeluang besar masuk ke kategori MSCI Indonesia Small Cap. Nama-nama tersebut antara lain:
Sektor Tambang & Energi: DEWA, ADMR, TINS, BIPI, dan BULL.
Sektor Telekomunikasi & Teknologi: ISAT dan COIN.
Sektor Properti & Infrastruktur: SSIA dan BUVA.
Masuknya deretan saham ini ke dalam indeks global diharapkan mampu meningkatkan eksposur dan visibilitas perusahaan di mata manajer investasi internasional menjelang rebalancing periode Februari 2026.
Sementara itu, untuk kategori Small Cap, beberapa saham yang berisiko keluar karena perubahan standar likuiditas dan kapitalisasi antara lain:
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)
PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES)
PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO)
Investor disarankan untuk memantau pergerakan harga saham-saham ini menjelang periode pengumuman resmi, guna mengantisipasi tekanan jual akibat penyesuaian portofolio oleh pengelola dana global.
Faktor penentu utama dalam rebalancing kali ini bukan hanya besarnya kapitalisasi pasar, melainkan transparansi kepemilikan saham publik (free float).
Mirae Asset Sekuritas mengkaji adanya wacana penggunaan data Monthly Holding Composition Report (MHCR) dari KSEI sebagai acuan tambahan perhitungan free float.
DISCLAIMER: Investasi saham melibatkan risiko finansial yang tinggi. Artikel ini disajikan murni untuk tujuan informatif berdasarkan riset sekuritas dan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau perintah untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor dengan mempertimbangkan profil risiko masing-masing. Penulis dan media tidak bertanggung jawab atas kerugian yang mungkin timbul akibat keputusan investasi berdasarkan informasi ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Manggis Subang Tembus China, LPDB Koperasi Siap Perkuat Pembiayaan Hingga Rp20 Miliar
-
Indonesia Emas 2045 Butuh Koperasi Modern dan Generasi Produktif
-
Satu Rumah Dihuni 10 Orang, Pemerintah Bedah 82 Hunian di Menteng Tenggulun
-
Proyek Percontohan Gentengisasi Prabowo Disorot, Kontraktor Jujur: Bukan Genteng, Kita Pakai Spandek
-
Kantongi Sertifikat, Pertamina Bisa Jual Avtur dari Minyak Jelantah Secara Global
-
RI-India Mau Kembangkan Industri Logam
-
Nasib THR Ojol Akan Ditentukan Selasa Pekan Depan
-
MKBD Tembus Rp 1 Triliun, KISI Perkuat Fundamental di Tengah Persaingan Sekuritas
-
Jangan Kehabisan! Penukaran Uang Baru BI Mulai Besok, Wajib Daftar Online Dulu
-
Krisis Batu Bara Ancam PLTU, Pasokan Listrik Aman?