- Harga emas Antam 1 gram pada Kamis, 15 Januari 2026, ditetapkan Rp 2.675.000, naik Rp 10.000 dari hari sebelumnya.
- Harga buyback emas Antam juga mengalami kenaikan Rp 8.000, mencapai Rp 2.521.000 per gram pada hari tersebut.
- Emas dunia menguat mendekati USD 4.615 akibat ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran independensi Federal Reserve.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Kamis, 15 Januari 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.675.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu terus ke level tertinggi dengan naik Rp 10.000 dibandingkan hari Rabu, 13 Januari 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.521.000 per gram.
Harga buyback itu juga terus naik Rp 8.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Selasa kemarin.
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam pada hari ini:
- Emas 0,5 Gram Rp 1.387.500
- Emas 1 Gram Rp 2.675.000
- Emas 2 gram Rp 5.290.000
- Emas 3 gram Rp 7.910.000
- Emas 5 gram Rp 13.100.000
- Emas 10 gram Rp 26.245.000
- Emas 25 gram Rp 65.487.000
- Emas 50 gram Rp 130.895.000
- Emas 100 gram Rp 261.712.000
- Emas 250 gram Rp 654.015.000
- Emas 500 gram Rp 1.307.820.000
- Emas 1.000 gram Rp 2.615.600.000
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.
Harga Emas Dunia Pecah Rekor
Harga emas dunia kembali menguat seiring meningkatnya ketidakpastian global. Logam mulia emas (XAU/USD) naik mendekati level USD 4.615 dan diperkirakan akan menguji ulang rekor tertinggi pada perdagangan sesi awal Asia, Kamis.
Seperti dikutip dari FXStreet, kenaikan harga emas terjadi karena para pelaku pasar berbondong-bondong memburu aset safe haven di tengah risiko geopolitik dan ekonomi global yang masih tinggi. Investor juga tengah bersiap menanti rilis data Klaim Pengangguran Awal AS mingguan yang dijadwalkan keluar pada Kamis waktu setempat.
Baca Juga: Harga Emas Antam Nggak Bosan Naik, Hari Ini Tembus Rp 2.665.000/Gram
Sentimen geopolitik menjadi salah satu pendorong utama penguatan emas. Ketegangan di Iran dilaporkan meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengambil tindakan atas penindakan keras terhadap para demonstran.
AS bahkan disebut telah memindahkan personel militernya, sementara pemerintah Iran memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak membantu potensi serangan.
Pada Selasa lalu, Trump juga membatalkan seluruh pertemuan dengan pejabat Iran dan berjanji kepada para demonstran bahwa bantuan sedang dalam perjalanan, meski tanpa merinci bentuk bantuan tersebut.
Situasi ini dinilai meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai tradisional, karena investor mencari perlindungan dari potensi eskalasi konflik.
Selain faktor geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve (The Fed) turut menopang harga emas.
Ketua The Fed Jerome Powell mengungkapkan bahwa bank sentral AS menerima surat panggilan dari Departemen Kehakiman terkait pernyataannya di hadapan Kongres mengenai pembengkakan biaya proyek renovasi gedung The Fed senilai USD 2,5 miliar di Washington. Powell menyebut ancaman tersebut sebagai “dalih” untuk menekan The Fed agar memangkas suku bunga.
Meski demikian, penguatan harga emas berpotensi tertahan oleh ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya tetap stabil dalam beberapa bulan ke depan. Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kurang menarik di tengah suku bunga tinggi.
Data ekonomi AS juga memberikan sinyal campuran. Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan tingkat pengangguran AS sedikit menurun menjadi 4,4 persen pada Desember.
Selain itu, data terbaru menunjukkan harga produsen AS mengalami kenaikan tipis pada November, sementara penjualan ritel tumbuh lebih tinggi dari perkiraan pada periode yang sama.
Kombinasi ketegangan geopolitik dan dinamika kebijakan moneter global membuat pergerakan harga emas ke depan diperkirakan tetap volatil, dengan peluang melanjutkan penguatan selama sentimen ketidakpastian masih membayangi pasar global.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Harga BBM SPBU Shell, Vivo dan BP Naik, Ini Rinciannya
-
OJK Bongkar Skema Dana IPO IPPE, Denda KGI Sekuritas Rp4,6 Miliar
-
IHSG Loyo, Kapitalisasi BEI Merosot 1,03% Pekan Ini, Jadi Rp 14.787 triliun
-
Iran Tutup Pelayaran Selat Hormuz, Pasokan Minyak Mentah Bisa Terganggu
-
Iran-AS Memanas! Daftar 17 Jadwal Penerbangan ke Timur Tengah yang Dibatalkan
-
Gandeng BDO, Kawasan Rebana Disiapkan Jadi Magnet Investasi Global Berbasis ESG
-
Harga BBM Pertamina Melonjak per 1 Maret, Pertamax Dibanderol Rp 12.300/Liter
-
Usaha Mining Bitcoin Milik Donald Trump Rugi Besar
-
IHSG Melemah Sepekan, Saham BUMI Jadi Salah Satu Faktor
-
Realisasi Penjualan CLEO Kuartal III 2023 Capai Rp2,09 Triliun