Bisnis / Energi
Minggu, 01 Maret 2026 | 11:47 WIB
Pasukan Garda Nasional Iran dilaporkan telah menutup akses di Selat Hormuz, jalur ekspor minyak dunia yang sangat penting tidak saja bagi negara-negara penghasil minyak sepert Arab Saudi, Qatar dan Iran tetapi juga bagi negara industri seperti China, Korsel dan Jepang. [Google Maps]
Baca 10 detik
  • Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, menghentikan pelayaran strategis.
  • Penutupan tersebut menyebabkan kapal tanker menumpuk di dekat pelabuhan seperti Fujairah karena transmisi radio Garda Revolusi Iran melarang melintas.
  • Jalur vital energi dunia ini dilalui 20 persen pasokan minyak global, memicu peringatan navigasi dari AS dan imbauan Yunani.

Suara.com - Iran dilaporkan menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan gabungan yang disebut melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Penutupan jalur pelayaran strategis tersebut memicu penghentian sementara pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair (LNG) oleh sejumlah pemilik kapal tanker, perusahaan energi besar, serta rumah dagang global.

Salah satu sumber Reuters menyebutkan, negara dengan Ibu Kota Teheran itu telah menghentikan aktivits pelayaran di perairan tersebut.

"Kapal-kapal kami akan tetap berada di posisi selama beberapa hari,” ujar seorang eksekutif senior di salah satu meja perdagangan minyak utama dikutip Reuters, Minggu (1/3/2026).

Kapal tanker minyak melewati selat hormuz (Reuters/Hamad I Mohammed)

Citra satelit dari pelacak kapal tanker menunjukkan sejumlah kapal menumpuk di dekat pelabuhan-pelabuhan besar, termasuk Fujairah di Uni Emirat Arab, dan tidak bergerak melintasi Selat Hormuz.

Seorang pejabat dari misi angkatan laut Uni Eropa, Aspides, mengatakan beberapa kapal di kawasan tersebut menerima transmisi radio VHF dari Garda Revolusi Iran yang menyatakan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi Selat Hormuz.

Sementara itu, Angkatan Laut Inggris menyatakan bahwa perintah Iran tidak memiliki kekuatan hukum internasional dan menyarankan kapal-kapal untuk tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi.

Asosiasi tanker internasional INTERTANKO menyebut Angkatan Laut AS telah memperingatkan risiko navigasi di seluruh kawasan Teluk Persia, Teluk Oman, Laut Arab Utara, hingga Selat Hormuz, dengan memberi tanda tak ada jaminan keselamatan pelayaran.

Kementerian Pelayaran Yunani juga mengeluarkan imbauan kepada kapal-kapal berbendera Yunani untuk menghindari wilayah Teluk Persia, Teluk Oman, dan Selat Hormuz, menurut dokumen penasihat yang dilihat Reuters.

Untuk diketaui, Selat Hormuz merupakan jalur vital energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global dari produsen utama seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Irak, Kuwait, dan Iran melintasi perairan sempit tersebut. Selain itu, volume besar LNG dari Qatar juga dikirim melalui jalur yang sama.

Baca Juga: Iran-AS Memanas! Daftar 17 Jadwal Penerbangan ke Timur Tengah yang Dibatalkan

Load More