- Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Uni Eropa mengaktifkan mekanisme anti-koersi untuk melawan ancaman tarif agresif AS.
- Ancaman tarif AS dipicu oleh penolakan Eropa terhadap upaya Washington memaksa kesepakatan geopolitik tertentu.
- Donald Trump mengumumkan tarif baru bagi Eropa mulai Februari 2026, termasuk sanksi khusus pada produk anggur Prancis.
Suara.com - Ketegangan diplomatik antara Eropa dan Amerika Serikat mencapai titik didih baru. Presiden Prancis, Emmanuel Macron, secara tegas menyerukan agar Uni Eropa (UE) mengaktifkan instrumen perdagangan paling agresif mereka, yang dikenal sebagai mekanisme anti-koersi atau "bazoka perdagangan".
Langkah ini diambil guna membalas serangkaian ancaman tarif masif yang dilontarkan Presiden AS, Donald Trump.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026), Macron menuding Washington tengah berupaya menundukkan kedaulatan ekonomi Eropa melalui perjanjian perdagangan yang timpang.
Menurutnya, akumulasi tarif baru yang terus diumumkan AS adalah tindakan yang tidak dapat diterima dan bertujuan untuk melemahkan posisi tawar Benua Biru.
“Eropa saat ini telah memiliki perangkat yang sangat tangguh. Kita wajib menggunakannya ketika martabat dan aturan main internasional diabaikan. Mekanisme anti-koersi adalah senjata kuat yang tidak boleh kita ragu untuk digunakan di tengah lingkungan global yang kian keras ini,” tegas Macron di hadapan para pemimpin dunia, dilansir via Sputnik.
Sentimen anti-AS ini meledak menyusul kebijakan kontroversial Donald Trump pada 17 Januari lalu.
Trump mengumumkan akan membebani tarif tambahan sebesar 10 persen bagi sejumlah negara Eropa, termasuk Prancis, Jerman, Inggris, dan negara-negara Nordik, mulai 1 Februari mendatang.
Beban fiskal ini bahkan diancam bakal melonjak hingga 25 persen pada Juni 2026 jika Amerika Serikat gagal mengakuisisi Greenland.
Tak berhenti di situ, Trump secara spesifik menargetkan Prancis dengan ancaman tarif fantastis sebesar 200 persen untuk produk ikonik mereka, yakni anggur (wine) dan sampanye.
Baca Juga: Jelang Piala Dunia 2026, Internal FIFA Terbelah, Penghargaan kepada Trump Bikin Malu Petinggi
Ancaman tarif 200 persen tersebut dilontarkan Trump sebagai alat pemaksa agar Prancis bersedia bergabung dalam inisiatif "Dewan Perdamaian" Gaza yang dibentuk oleh Gedung Putih.
Trump menyatakan secara terbuka bahwa langkah koersif ini bertujuan untuk menekan Macron agar menyetujui proposal geopolitiknya di Timur Tengah.
"Dewan Perdamaian" Gaza: Diplomasi Ala Trump
Dewan Perdamaian yang digagas Trump saat ini telah diisi oleh sejumlah tokoh kunci, antara lain:
- Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
- Utusan khusus, Steve Witkoff.
- Menantu Trump, Jared Kushner.
- Mantan PM Inggris, Tony Blair.
- Presiden Bank Dunia, Ajay Banga.
Meskipun Trump mengklaim dewan ini dibentuk demi stabilitas kawasan, para pemimpin Eropa seperti Macron melihatnya sebagai agenda sepihak yang dipaksakan melalui ancaman ekonomi.
Penggunaan tarif impor sebagai alat tawar politik untuk menguasai Greenland maupun memaksakan agenda perdamaian di Gaza dianggap telah merusak tatanan perdagangan bebas global.
Kini, dunia menunggu respons kolektif dari Brussels. Jika Uni Eropa benar-benar menarik pelatuk "bazoka perdagangan" mereka, maka perang dagang lintas trans-atlantik dalam skala besar di tahun 2026 dipastikan tidak akan terhindarkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- Peluang Baru Terbuka, Kehidupan 4 Shio Ini Diprediksi Semakin Membaik Mulai 10 Juni 2026
- Beredar 24 Nama Terseret Kasus BGN, Kuasa Hukum Sony Sonjaya: Nama Itu Sudah Diserahkan ke Penyidik
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Penyebab Investor Asing Malas Masuk ke Pasar Saham RI, Karena Judi Bola Piala Dunia?
-
Demonstrasi Mahasiswa Bikin Rupiah Kembali Menguat
-
Harga BBM Naik, Purbaya Pede Tak Semua Warga Pindah ke Pertalite
-
Sinyal Cuan Piala Dunia 2026: 7 Saham Indonesia yang Berpotensi Cetak Gol untuk Investor
-
Rupiah Letoy, Warga RI Ramai-ramai Borong Valas dan Khawatir Ekonomi Memburuk
-
Terbitkan Obligasi USD 1,5 Milar, Danantara Spill Siapa Pembelinya
-
Tak Hanya Saham, Kripto Mulai Jadi Koleksi Warga RI untuk Investasi
-
Mendag Tegaskan Amerika Serikat Negara Tujuan Ekspor Terpenting
-
Sinyal dari Thamrin: Isi Dompet Warga RI Mendadak Ludes, Apa yang Terjadi?
-
Marketeers Tech for Business 2026: Jurus Baru Digital Marketing di Era AI