- Menteri PU percepat pemulihan TPA & IPLT Aceh Tamiang guna cegah risiko kesehatan pascabencana.
- Pembersihan infrastruktur gunakan skema padat karya untuk bantu ekonomi warga setempat.
- Kementerian PU targetkan modernisasi sanitasi di Aceh, Sumut, dan Sumbar secara berkelanjutan.
Suara.com - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mempercepat penanganan infrastruktur sanitasi yang terdampak bencana di Kabupaten Aceh Tamiang. Langkah ini dilakukan untuk mencegah risiko gangguan kesehatan lingkungan sekaligus memastikan layanan dasar masyarakat kembali pulih.
Menteri PU Dody Hanggodo turun langsung meninjau Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Rantau dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) Rantau, Selasa (20/1/2026). Kunjungan itu menjadi bagian dari rangkaian pemulihan pascabencana di Aceh Tamiang.
Dody menegaskan, pemulihan sanitasi tidak bisa dipandang sebelah mata dalam penanganan pascabencana. Menurutnya, layanan sanitasi yang baik merupakan kebutuhan dasar yang harus segera dipastikan kembali berjalan.
“Sanitasi yang berfungsi dengan baik adalah kebutuhan dasar masyarakat. Karena itu, penanganan TPA dan IPLT harus dilakukan cepat, bertahap, dan berkelanjutan agar tidak menimbulkan risiko kesehatan di kemudian hari,” kata Dody kepada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Dalam 10 hari terakhir, Kementerian PU melalui Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Aceh sudah melakukan pembersihan intensif di kawasan TPA dan IPLT yang terdampak timbunan material pascabencana. Pekerjaan itu dilakukan untuk mempercepat pemulihan lingkungan sekaligus mengembalikan fungsi layanan sanitasi.
Program pembersihan tersebut turut melibatkan skema padat karya. Selain mempercepat proses penanganan, kegiatan ini juga memberi manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat yang ikut terlibat.
TPA Rantau menjadi salah satu titik yang mendapat prioritas perhatian. Pasalnya, TPA ini masih beroperasi dengan sistem open dumping yang berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan gangguan kesehatan jika tidak segera ditangani.
Adapun fokus pekerjaan yang dilakukan saat ini diarahkan pada pembersihan jalan akses menuju TPA. Selain itu, dilakukan pula penanganan material yang menghambat operasional dan mobilitas di kawasan tersebut.
Memasuki fase rehabilitasi dan rekonstruksi, Kementerian PU tidak hanya menargetkan pemulihan, tetapi juga peningkatan kualitas infrastruktur sanitasi. Tujuannya agar sistem pengelolaan sampah dan air limbah domestik dapat kembali berjalan secara normal dan berkelanjutan.
Baca Juga: Kementerian PU Ingatkan Truk ODOL: Dilarang Lewat Jembatan Bailey di Lokasi Bencana Sumatera
Rencana penanganan yang disiapkan meliputi pengadaan truk tinja, tangki septik beserta bioaktivator, hingga pendampingan tata kelola dan penyusunan studi teknis apabila diperlukan. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat sistem layanan sanitasi di wilayah terdampak.
Khusus untuk TPA Rantau, Kementerian PU menyiapkan perbaikan sel landfill eksisting, pembangunan sel landfill baru, perbaikan jalan akses, serta pengadaan alat berat pendukung operasional.
Sementara untuk IPLT Rantau, penanganan dilakukan melalui pembersihan area serta rehabilitasi unit pengolahan. Perbaikan mencakup bak anaerobik, fakultatif, maturasi, hingga wetland. Saat ini pembersihan kawasan IPLT dan pengangkatan lumpur pada bak pengolahan sudah dilakukan sebagai langkah awal pemulihan fungsi layanan.
Secara keseluruhan di Provinsi Aceh, Kementerian PU tengah melaksanakan peningkatan pelayanan pada 11 TPA sampah di 11 kabupaten/kota serta peningkatan layanan 10 IPLT di 10 kabupaten/kota. Di Provinsi Sumatera Utara, peningkatan pelayanan dilakukan pada dua TPA sampah di dua kabupaten/kota serta satu IPLT di satu kota.
Adapun di Provinsi Sumatera Barat, Kementerian PU melaksanakan peningkatan pelayanan satu TPA sampah di satu kabupaten. Seluruh pekerjaan tersebut saat ini masih berada dalam tahap pelaksanaan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan, mencegah risiko kesehatan masyarakat, dan mempercepat pemulihan layanan dasar pascabencana.
Ke depan, Kementerian PU juga mengusulkan penerapan teknologi sanitasi ramah lingkungan melalui pengadaan Net-Zero Toilet 5.0 sebagai bagian dari inovasi peningkatan layanan sanitasi berkelanjutan di wilayah terdampak bencana.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Soal TNI-Komcad Dikerahkan di Demo Mahasiswa, Ini Reaksi Komisi I DPR
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
- Motor Mirip Harley-Davidson Harga Rasa Matic: Mending Morbidelli C252V atau QJ Motor SRV250?
Pilihan
-
Aksi di DPR Memanas! Peserta Demo Cipayung Menggugat Ngaku Dianiaya Polisi usai Ditangkap
-
Wasit Liga Indonesia 'Berulah', FIFA Investigasi Kemenangan Timnas Jerman vs Curacao
-
Mahasiswa Gelar Demo di DPR, Tagih Janji 19 Juta Lapangan Kerja dan Desak Hentikan MBG
-
Mau Aksi di Patung Kuda, Mahasiswa UBK Sempat Dihadang di Tugu Tani
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari APBD Satu Kabupaten di NTB
Terkini
-
BSI Catat DPK Rp382 Triliun, Percepat Ekspansi Global Lewat Dubai dan Siapkan Cabang di Arab Saudi
-
BRI Perkuat Digitalisasi, BRILink Agen Berpeluang Dapat Emas Gratis
-
Nasib Dana Investor DSI Terjawab, OJK dan LPSK Kawal Restitusi Ribuan Korban
-
IMF Peringatkan Risiko Ekonomi Negara Berkembang di Asia
-
Pengguna Livin by Mandiri Tembus 40,3 Juta, Transaksi Digital Capai Rp2.083 Triliun hingga Mei 2026
-
Rupiah Menuju Rp17.500, Pengamat: Sentimen Positif Pengetatan Anggaran MBG dan KDMP
-
Bahlil Ajukan Anggaran Rp 27,33 Triliun untuk ESDM, Disebut untuk Jaringan Gas Warga
-
Emiten WINE Tebar Dividen Rp3,5 per Saham, Bidik Pertumbuhan Pendapatan Lima Persen pada 2026
-
Harga Minyak Dunia Anjlok Usai AS-Iran Sepakati Perdamaian, Bursa Saham Global Menguat
-
Harga Emas Hari Ini 16 Juni 2026 Naik, Antam Tembus Rp2,83 Juta per Gram