- Pembangunan KIP Fakfak dianggap strategis mendorong transformasi ekonomi berkeadilan di Papua melalui penguatan sektor hulu dan hilir.
- Kawasan industri ini berpotensi menurunkan biaya distribusi logistik karena kedekatan geografis Fakfak dengan jalur maritim timur Indonesia.
- Manfaat ekonomi berkelanjutan memerlukan prasyarat inklusif, seperti perlindungan hak adat dan prioritas penyerapan tenaga kerja lokal.
Menurutnya, Hilirisasi sumber daya alam di Papua dinilai menjadi agenda penting untuk menciptakan nilai tambah ekonomi yang selama ini lebih banyak dinikmati wilayah lain.
Revindo bertutur kalau pengembangan industri pengolahan di Papua, termasuk industri pupuk di Fakfak, dipandang bukan semata sebagai strategi pertumbuhan ekonomi, melainkan juga sebagai upaya pengendalian biaya hidup dan penguatan ketahanan ekonomi wilayah.
Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan perencanaan nasional. Bappenas menegaskan bahwa industrialisasi berbasis wilayah di kawasan timur Indonesia, termasuk Papua, merupakan prasyarat penting untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih seimbang, berkelanjutan, dan berkeadilan secara spasial.
“Dengan demikian, urgensi percepatan pembangunan ekonomi di Papua bukan hanya soal mengejar angka pertumbuhan, tetapi mendesak untuk diarahkan pada diversifikasi ekonomi, penciptaan lapangan kerja lokal, dan penguatan sektor produktif non-ekstraktif agar manfaat pembangunan lebih dirasakan oleh masyarakat,” beber dia.
Kendati begitu Revindo menyatakan terdapat prasyarat khusus seperti pengakuan dan perlindungan hak masyarakat adat, prioritas penyerapan dan pelatihan tenaga kerja lokal, penguatan UMKM Papua dalam rantai pasok industri, serta standar lingkungan yang ketat, agar pembangunan kawasan industri di Papua dapat memberikan manfaat ekonomi berkelanjutan.
“Manfaat tersebut tidak bersifat otomatis, sehingga diperlukan pendekatan pembangunan yang inklusif khususnya di daerah dengan karakter sosial dan budaya yang khas seperti Papua. Bappenas menegaskan bahwa tanpa pendekatan sosial-budaya yang kontekstual, manfaat dari industrialisasi di Papua berisiko tidak akan optimal," tandasnya.
Berita Terkait
-
Warga Wamena Ngeluh Harga BBM Tembus Rp25 Ribu, Respons 'Datar' Wapres Gibran Jadi Sorotan Tajam
-
Menperin Janji RUU Kawasan Industri Bisa Disahkan Dalam Waktu Dekat
-
Purbaya Serang Balik Ekonom usai Kritik Keponakan Prabowo Masuk BI: Dia Iri
-
Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40.000 Ton
-
Ekonom Nilai Konsumsi Masyarakat Masih Solid di 2025, Begini Datanya
Terpopuler
- 5 Kulkas 1 Pintu Anti Bunga Es dan Hemat Listrik, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Tok! Panja DPR Sepakati RUU Polri: Usia Pensiun Bintara 59 Tahun, Perwira 60 Tahun
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Beda Cushion Wardah Colorfit Hijau dan Krem: Intip Harga, Kandungan, dan Manfaatnya
- 5 HP Android dengan Kualitas Setara iPhone 13 Pro dan iPhone 13 Pro Max
Pilihan
-
Haji Bolot Dikabarkan Terkena Serangan Jantung, Posisi Masih di Rumah Sakit
-
Derita Masyarakat RI Bertambah Kini Harga Pertamax Naik, Apa yang Harus Dilakukan?
-
Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
-
Namanya Terseret Isu Dugaan Korupsi BGN, Yahya Golkar: Semua Anggota Komisi IX DPR Tak Terlibat!
-
Perhatian! Harga Pertamax Naik Jadi Rp 16.250/Liter
Terkini
-
Pipa Cisem II Beroperasi Penuh, KITB Dapat Suntikan Energi Baru
-
Borok Investasi Asing Mencuat, Sering Terlantarkan Hak Pekerja
-
Purbaya Pede Rupiah Bisa Menguat hingga Rp 16.800 per Dolar AS Tahun Depan
-
Investasi AI di Indonesia Tetap Jalan Meski Rupiah Lemah
-
Kereta 12 Rangkaian Akan Layani Green Line Tanah Abang - Rangkasbitung
-
Pemerintah Tepat Naikkan Harga Pertamax
-
Ekonom UGM Bongkar Stress Test APBN, Rupiah Rp18.200 Jadi Ambang Kritis
-
Purbaya Klaim Harga BBM Naik Berefek Minim ke Inflasi
-
Kenaikan Pertamax Bikin Kaget, Pengguna Xpander Menjerit: Rp480 Ribu Pun Belum Bisa Full Tank!
-
Terungkap, Harga Pertamax Aslinya Rp21.000 per Liter