- Pembangunan KIP Fakfak dianggap strategis mendorong transformasi ekonomi berkeadilan di Papua melalui penguatan sektor hulu dan hilir.
- Kawasan industri ini berpotensi menurunkan biaya distribusi logistik karena kedekatan geografis Fakfak dengan jalur maritim timur Indonesia.
- Manfaat ekonomi berkelanjutan memerlukan prasyarat inklusif, seperti perlindungan hak adat dan prioritas penyerapan tenaga kerja lokal.
Suara.com - Ekonom menilai pembangunan Kawasan Industri Pupuk (KIP) Fakfak di Papua Barat adalah langkah strategis untuk mendorong transformasi ekonomi di Indonesia Timur, khususnya Papua.
Peneliti dan Pengajar di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (SPPB UI) Mohamad Dian Revindo menyatakan, kehadiran industri pupuk di kawasan ini tidak hanya berdampak pada satu sektor, tetapi berpotensi memicu efek domino melalui penguatan sektor hulu dan hilir serta perluasan aktivitas ekonomi lokal.
Menurutnya, pembangunan industri pupuk di Fakfak dapat sejalan dengan agenda pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan. Ia menyebut struktur ekonomi Papua selama ini masih menghadapi tantangan berupa ketergantungan pada sektor ekstraktif yang minim nilai tambah.
“Rencana pemerintah membangun industri pupuk di Fakfak, Papua, dapat dipandang sebagai langkah strategis dalam mendorong pembangunan ekonomi yang lebih berkeadilan, khususnya melalui penguatan backward linkage atau ke sektor hulu dan forward linkage atau ke hilir,” ujar Revindo, dikutip Kamis (22/1/2026).
Dari sisi hulu, industri pupuk memiliki potensi menyerap berbagai sumber daya lokal mulai dari pemanfaatan gas alam sebagai bahan baku pupuk, hingga keterlibatan sektor pendukung seperti jasa konstruksi, logistik, energi, dan tenaga kerja lokal.
Selain itu, posisi geografis Fakfak yang relatif dekat dengan jalur maritim di kawasan timur Indonesia memberikan keunggulan ekonomi tersendiri.
Kedekatan ini dianggapnya berpotensi menurunkan biaya distribusi pupuk dibandingkan jika seluruh pasokan harus dikirim dari wilayah barat Indonesia.
Revindo berpandangan efisiensi logistik tersebut menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing industri pupuk sekaligus menekan biaya di tingkat pengguna akhir.
Pembangunan industri pengolahan berbasis sumber daya lokal, lanjut Revindo, juga krusial untuk memperluas basis ekonomi daerah dan mengurangi ketergantungan Papua pada eksploitasi sumber daya alam primer.
Baca Juga: Warga Wamena Ngeluh Harga BBM Tembus Rp25 Ribu, Respons 'Datar' Wapres Gibran Jadi Sorotan Tajam
Namun yang terpenting adalah bagaimana ada manfaat nyata dari berkembangnya Kawasan Industri Pupuk Fakfak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal.
Ia mengatakan, keberadaan kawasan industri seharusnya tidak hanya menyerap tenaga kerja di dalam kawasan, tetapi juga mendorong tumbuhnya berbagai usaha pendukung di luar kawasan.
Rantai aktivitas ekonomi tersebut berpotensi memperluas sumber pendapatan masyarakat serta meningkatkan perputaran ekonomi di tingkat lokal.
“Pengalaman di Indonesia menunjukkan bahwa kawasan industri dapat menjadi pengungkit ekonomi daerah apabila terintegrasi dengan ekonomi lokal,” kata Revindo.
Sementara di sisi hilir, ia mengungkapkan kehadiran industri pupuk di Fakfak berpotensi memperkuat basis produksi berbagai komoditas pertanian dan perkebunan di Papua serta kawasan timur Indonesia.
Hal ini juga dapat menciptakan efek pengganda bagi sektor-sektor lain seperti transportasi, perdagangan, dan jasa penunjang.
Berita Terkait
-
Warga Wamena Ngeluh Harga BBM Tembus Rp25 Ribu, Respons 'Datar' Wapres Gibran Jadi Sorotan Tajam
-
Menperin Janji RUU Kawasan Industri Bisa Disahkan Dalam Waktu Dekat
-
Purbaya Serang Balik Ekonom usai Kritik Keponakan Prabowo Masuk BI: Dia Iri
-
Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40.000 Ton
-
Ekonom Nilai Konsumsi Masyarakat Masih Solid di 2025, Begini Datanya
Terpopuler
- Apakah Habis Pakai Cushion Perlu Pakai Bedak? Ini 5 Rekomendasi Cushion SPF 50
- Mulai Tahun Ini Warga RI Mulai Frustasi Hadapi Kondisi Ekonomi, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
- 34 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 20 Januari: Sikat TOTY 115-117 dan 20.000 Gems
- Deretan Mobil Bekas 80 Jutaan Punya Mesin Awet dan Bandel untuk Pemakaian Lama
- Jadwal M7 Mobile Legends Knockout Terbaru: AE di Upper, ONIC Cuma Punya 1 Nyawa
Pilihan
-
Ekonomi Tak Jelas, Gaji Rendah, Warga Jogja Berjuang untuk Hidup
-
Rebut Hadiah Berlimpah! Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel Jadi Penggerak Potensi Daerah
-
ASEAN Para Games 2025: Nurfendi Persembahkan Emas Pertama untuk Indonesia
-
Perbedaan Jaring-jaring Kubus dan Balok, Lengkap dengan Gambar
-
Rupiah Loyo, Modal Asing Kabur Rp 27 Triliun Sejak Awal Tahun
Terkini
-
Bahlil Jamin Sumur Rakyat Mulai Bisa Beroperasi Secara Legal
-
Menperin Pede Industri Makanan dan Minuman Bisa Jadi Andalan ke Depan
-
Pelabuhan Jadi Simpul, 127 Kapal Bantuan Padati Aceh dan Sumut
-
BRI Insurance Ganti Nama BRINS OTO Menjadi OTOMAXY
-
Sinergi BPJS Kesehatan & Mahkamah Agung Didorong untuk Jaga Keberlanjutan Program JKN Nasional
-
Pajak Kripto Meningkat di Tengah Industri yang Lesu
-
Konsisten Dorong Ekonomi Desa, BRI Raih Penghargaan dalam Puncak Peringatan Hari Desa Nasional 2026
-
IHSG 2 Hari Berturut Merosot Hingga ke Level 8.900, Ada Apa?
-
Menperin: Kuasai 79% Pasar, Industri Pati Ubi Kayu Masih Terjepit Impor
-
Rupiah Menguat ke Level Rp 16.895, Sentimen Global Jadi Penopang