- IHSG ditutup melemah 0,46% pada akhir pekan dengan aksi jual asing Rp117 miliar, namun diprediksi dapat rebound hari ini.
- Analis BNI Sekuritas merekomendasikan *trading* saham seperti ANTM dan CUAN, sementara Mandiri Sekuritas menyarankan TLKM dan ADRO.
- Bursa Wall Street bervariasi; sektor semikonduktor naik didorong Nvidia, sementara isu Greenland dan keputusan suku bunga BOJ Jepang memengaruhi sentimen.
Suara.com - Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan pekan ini, Senin (26/1/2026), menjadi perhatian serius para investor setelah ditutup melemah 0,46% pada akhir pekan lalu.
Koreksi tersebut turut dibarengi dengan aksi jual bersih (net sell) oleh investor asing senilai kurang lebih Rp117 miliar, dengan tekanan utama pada saham-saham blue chip seperti BBCA, BBNI, serta saham lainnya seperti GOTO, BUMI, dan PBSA.
Fanny Suherman, Head of Retail Research Analyst BNI Sekuritas dalam kajiannya, memproyeksikan IHSG memiliki potensi untuk berbalik arah atau rebound hari ini.
Syarat utamanya adalah indeks harus mampu bertahan di atas level dukungan (support) kuatnya.
Support IHSG: 8880 – 8900
Resistance IHSG: 9000 – 9050
Ide Trading dan Rekomendasi Saham
Berdasarkan analisis teknikal dari beberapa sekuritas terkemuka, berikut adalah daftar saham yang layak dicermati oleh pelaku pasar hari ini:
BNI Sekuritas: Merekomendasikan strategi trading pada saham ANTM, CDIA, CUAN, BRPT, RAJA, dan AMMN.
Mandiri Sekuritas: Tim analis teknikal yang dipimpin oleh Hadiyansyah memberikan sinyal positif untuk saham TLKM, ADRO, dan DEWA.
Baca Juga: Investor Asing Borong Saham Rp4,05 Triliun Sejak Awal Tahun
Sentimen Global: Wall Street Bervariasi dan Isu Greenland
Pasar saham Amerika Serikat ditutup dengan performa beragam pada Jumat malam. Sementara Nasdaq dan S&P 500 menguat tipis berkat sokongan sektor teknologi, Dow Jones justru tergelincir 0,58% akibat anjloknya saham Goldman Sachs.
Sektor semikonduktor menjadi penyelamat lewat kenaikan saham Nvidia dan AMD, yang dipicu oleh kabar rencana kunjungan CEO Nvidia, Jensen Huang, ke Tiongkok.
Di sisi lain, saham Intel mengalami kejatuhan drastis hingga 17% setelah merilis proyeksi kinerja kuartal I-2026 yang jauh di bawah ekspektasi pasar.
Dari sisi geopolitik, pengumuman Presiden Donald Trump mengenai kesepakatan awal terkait Greenland dengan NATO sempat menenangkan pasar.
Meski demikian, isu ini masih menyimpan ketidakpastian setelah PM Greenland menegaskan bahwa kedaulatan wilayah mereka harus tetap dihormati dan menyatakan belum mengetahui detail kesepakatan tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Indomaret 12-18 Maret: Sirup Mulai Rp7 Ribuan, Biskuit Kaleng Rp15 Ribuan Jelang Lebaran
- Media Israel Jawab Kabar Benjamin Netanyahu Meninggal Dunia saat Melarikan Diri
- Netanyahu Siap Gunakan Bom Nuklir? Eks Kolonel AS Lawrence Wilkerson Bongkar Skenario Kiamat Iran
- 10 Singkatan THR Lucu yang Bikin Ngakak, Bukan Tunjangan Hari Raya!
- 35 Kode Redeem FF Max Terbaru Aktif 11 Maret 2026: Klaim MP40, Diamond, dan Sayap Ungu
Pilihan
-
Teror Beruntun di AS: Sinagoge Diserang, Eks Tentara Garda Nasional Tembaki Kampus
-
KPK OTT Bupati Cilacap, Masih Berlangsung!
-
Detik-Detik Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast di YLBHI
-
Indonesia Beli Rudal Supersonik Brahmos Rp 5,9 Triliun! Terancam Sanksi Donald Trump
-
Kronologi Lengkap Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast Militerisme
Terkini
-
Jika Prabowo-DPR Sepakat, Purbaya Siap Naikkan Defisit APBN 3 Persen
-
Sumber Daya Air Dipastikan Aman Jelang Libur Lebaran 2026
-
Tembus 1.134 Konsultasi, Posko THR Kemnaker Kini Layani Pengaduan Pekerja
-
Hutama Karya Jamin Jalur TarutungSibolga Siap Dilalui Pemudik
-
Meski Kuota Penuh, Masyarakat Masih Punya Kesempatan Daftar Mudik Motor Gratis
-
Petani Tembakau Peringatkan Ancaman Pandemi Ekonomi Jilid II
-
Danantara Tunjuk Perusahaan China Garap Proyek Listrik Jadi Sampah di Bogor
-
Harga Minyak Dunia Membara, RI Mulai Lirik Pasokan dari Rusia? Begini Kata Wamen ESDM
-
Waspada! IHSG Bisa Menuju Level 6.000 Lagi, Ini Pemicunya
-
OJK Bakal Rombak Aturan Papan Pemantauan Khusus, Sinyal Positif bagi Investor?