- Investor asing melakukan aksi jual bersih saham BBCA senilai Rp5,86 triliun selama periode 19 hingga 27 Januari 2026.
- Penjualan masif asing ini menyebabkan harga saham BBCA merosot tajam sebesar 7,12% atau 575 poin dalam sepekan.
- Pelemahan BBCA yang disertai volume tinggi turut menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara signifikan.
Suara.com - Saham perbankan raksasa, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), tengah menghadapi gelombang aksi jual masif oleh investor asing dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Data perdagangan periode 19 hingga 27 Januari 2026 menunjukkan nilai jual bersih (net foreign sell) pada saham BBCA telah mencapai angka fantastis, yakni Rp5,86 triliun.
Menariknya, nilai tekanan jual pada BBCA ini melampaui total net sell asing di seluruh pasar reguler pada periode yang sama, yang tercatat sebesar Rp4,46 triliun.
Akibat gempuran ini, harga saham BBCA telah merosot tajam sebesar 7,12% atau setara penurunan 575 poin dalam waktu singkat.
Analisis Teknikal: Sinyal Bearish Masih Dominan
Secara teknikal, pergerakan harga BBCA saat ini memberikan sinyal kewaspadaan bagi para pemodal. Beberapa poin penting yang perlu dicermati antara lain:
- Tren Harga: Harga saham BBCA kini bertengger di bawah garis rata-rata bergerak Moving Average (MA) 9 dan MA 50, yang mengonfirmasi bahwa tren penurunan masih menguasai pasar.
- Struktur Pasar: Saham ini membentuk pola lower high-lower low setelah sebelumnya gagal mempertahankan area support kuat di rentang Rp8.800 hingga Rp9.000.
- Volume Transaksi: Penurunan harga yang terjadi saat ini dibarengi dengan volume transaksi yang cukup tinggi, menandakan besarnya tekanan distribusi dari pemegang saham besar.
Pada perdagangan Selasa (27/1/2026), aksi jual asing di BBCA belum juga mereda dengan catatan net sell harian mencapai Rp1,1 triliun pada harga rata-rata Rp7.536,3.
Hal ini menjadikan BBCA sebagai pemberat utama laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Kinerja IHSG sendiri terpantau sangat dinamis. Meski pada penutupan kemarin indeks sempat berbalik arah dan naik tipis 0,05% ke level 8.980,23, namun tekanan besar kembali muncul pada perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga: Pencabutan Izin Tambang Gerus Saham-saham Big Caps, IHSG Masih di Level 8.900
Pelemahan ekstrem IHSG hari ini karena tertekan respon MSCI terkait free float.
Hingga pukul 11.00 WIB, saham BBCA kembali melorot ke posisi Rp7.050. Penurunan ini mencapai 5% jika dikomparasikan dengan harga pembukaan pagi tadi di level Rp7.500.
Nilai hari ini lebih buruk jika dirunut sejak 2022 silam. Sementara, pada Oktober 2025, BBCA sempat anjlok ke level Rp7.250 - Rp7.375, yang merupakan harga penutupan terendah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.
Pelemahan BBCA ini beriringan dengan kondisi pasar yang mayoritas memerah.
Hingga penutupan sesi I hari ini, tercatat sebanyak 441 saham mengalami penurunan, sementara hanya 232 saham yang menguat, dan 130 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi di bursa terpantau sangat tinggi mencapai Rp15,11 triliun dengan frekuensi perdagangan mencapai 2,08 juta kali transaksi, mencerminkan tingginya volatilitas pasar akibat sentimen arus modal keluar.
DISCLAIMER: Saham perbankan seperti BBCA memiliki bobot yang sangat besar terhadap indeks, sehingga fluktuasinya sangat memengaruhi IHSG. Penurunan harga akibat aksi jual asing merupakan bagian dari risiko pasar modal. Artikel ini disusun sebagai referensi berita ekonomi dan bukan merupakan saran untuk melakukan aksi jual atau beli. Selalu pertimbangkan profil risiko dan analisis mandiri sebelum berinvestasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- Kasat Narkoba Tangsel Ditangkap! Diduga Edarkan Narkoba Bersama Enam Anak Buah
- 4 Serum Wardah untuk Mengecilkan Pori, Kulit Halus dan Mulus Bertahap
Pilihan
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
-
Survei SMRC Juli 2026: Elektabilitas Prabowo Anjlok Drastis, Disalip Dedi Mulyadi
-
Malaysia Dikit Lagi Resmi Berstatus Negara Maju, Pendapatan Warga Rp 250 Juta per Tahun
Terkini
-
Industri Hiburan Indonesia Naik Kelas, Teknologi Jadi Senjata Baru di Balik Pengalaman Spektakuler
-
Bale by BTN Permudah Masyarakat Miliki Rumah Lewat Kolaborasi dengan Rumah123
-
BRI dan Kementerian UMKM Perkuat Pembiayaan KUR, Dorong UMKM Bandung Naik Kelas
-
Rambah Hutan Lindung di Batam, PT GTP Jadi Tersangka Korporasi
-
Truk LPG Hantam 11 Kendaraan di Kota Bandung, Pesepeda Wanita Meninggal Dunia
-
TNI Masuk MBG, Aktivis Kritik Pendekatan Militer: Bukan Situasi Perang
-
Atasi Sampah Kabupaten Bogor, PSEL Galuga Siap Dibangun di Atas Lahan Kopassus
-
Kemarau Ekstrem Bikin Warga Krisis Air, Negara Tak Boleh Diam
-
Dirjen Bea dan Cukai Bongkar Peredaran 20 Ribu Botol Miras Legal, Selamatkan Uang Negara Rp 2 M
-
6 Fakta di Balik Munculnya Spanduk 'Tangkap Jokowi' di Lebak Banten