- Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok tajam mencapai batas ARB pada Rabu (28/1/2026) akibat keputusan MSCI.
- MSCI menghentikan sementara perubahan indeks Indonesia karena kekhawatiran kurangnya transparansi kepemilikan saham.
- Jika perbaikan transparansi tidak ada hingga Mei 2026, Indonesia terancam penurunan bobot indeks atau status pasar.
Suara.com - Eforia pasar terhadap PT Bumi Resources Tbk (BUMI) seketika berubah menjadi tekanan jual masif pada pembukaan perdagangan Rabu (28/1/2026).
Saham yang sebelumnya dijagokan kuat bakal masuk ke dalam indeks bergengsi MSCI Global Standard ini justru terpantau anjlok tajam hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham emiten batu bara ini merosot 14,53 persen ke posisi Rp294 per lembar.
Pelemahan ini terjadi secara instan sejak bel pembukaan, di mana harga langsung menukik dari area Rp344 tanpa perlawanan berarti.
Fundamental MSCI BUMI Sangat Solid
Padahal, secara statistik, BUMI telah memenuhi kriteria ketat untuk masuk dalam rebalancing MSCI yang dijadwalkan pada 10 Februari mendatang. Riset dari Samuel Sekuritas pada awal Januari 2026 mencatat profil BUMI yang sangat mumpuni:
- Kapitalisasi Pasar: Mencapai USD 10,3 miliar.
- Free Float: Sebesar 28,3 persen.
- Likuiditas Harian: Rata-rata transaksi mencapai USD 36,7 juta.
- Potensi Inflow: Diperkirakan mampu menarik dana asing antara USD 180 juta hingga USD 300 juta.
Menariknya, di tengah kepanikan pasar, terdapat aktivitas akumulasi yang dilakukan secara senyap. Pantauan pada aplikasi RTI sekitar pukul 09.22 WIB menunjukkan adanya net buy senilai Rp238,8 miliar pada saham BUMI.
Angka ini terus merangkak naik meski harga saham masih terkunci di zona merah.
Volume transaksi BUMI juga tergolong luar biasa tebal untuk saham yang sedang ARB. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam perdagangan, sebanyak 1,26 miliar saham telah berpindah tangan dengan frekuensi mencapai 50 ribu kali dan total nilai transaksi menembus Rp372 miliar.
Baca Juga: IHSG Ambruk Hampir 8 Persen
Kejatuhan BUMI tidak terlepas dari keputusan mendadak MSCI pada Selasa (27/1/2026) untuk menghentikan sementara seluruh perubahan indeks yang melibatkan emiten asal Indonesia.
Mengutip laporan BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), keputusan ini didasari oleh kekhawatiran global mengenai:
Kurangnya Transparansi: Data kepemilikan saham di pasar modal Indonesia dinilai masih belum terbuka sepenuhnya.
Konsentrasi Kepemilikan: MSCI menyoroti struktur kepemilikan yang terlalu menumpuk pada pihak-pihak tertentu di perusahaan tercatat.
Risiko Manipulasi: Adanya kecurigaan terhadap praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat merusak pembentukan harga yang wajar secara pasar.
MSCI memberikan peringatan keras kepada otoritas pasar modal Indonesia, termasuk BEI dan KSEI. Jika hingga Mei 2026 belum ada perbaikan signifikan pada transparansi struktur kepemilikan, Indonesia terancam menghadapi konsekuensi fatal:
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Mobil Bekas Irit Bensin Pajak Murah dengan Mesin 1000cc: Masa Pakai Lama, Harga Mulai 50 Jutaan
- 45 Kode Redeem FF Max Terbaru 13 Maret 2026: Kesempatan Raih ShopeePay dan Bundel Joker
- 65 Kode Redeem FF Terbaru 14 Maret 2026: Sikat Evo Scorpio, THR Diamond, dan AK47 Golden
- 26 Kode Redeem FF 13 Maret 2026: Bocoran Rilis SG2 Lumut, Garena Bagi Magic Cube Gratis
- 5 Rekomendasi Parfum di Indomaret yang Tahan Lama untuk Salat Id
Pilihan
-
Dulu Nostalgia, Sekarang Pamer Karir: Mengapa Gen Z Pilih Skip Bukber Alumni?
-
Tutorial S3 Marketing Jalur Asbun: Cara Aldi Taher Jualan Burger Sampe Masuk Trending Topic
-
Dilema Window Shopping: Ketika Mal Cuma Jadi Katalog Fisik Buat Belanja Online
-
Kabar Duka, Jurgen Habermas Filsuf Terakhir Mazhab Frankfurt Meninggal Dunia
-
Korut Tembakkan 10 Rudal Tak Dikenal ke Laut Jepang, Respons Provokasi Freedom Shield
Terkini
-
Menhub Kesal Banyak Truk Masih Wara-wiri Saat Mudik Lebaran
-
Rokok Ilegal Akan Makin Bebas Berkeliaran Gegara Aturan Ini
-
Proyek Geothermal Kamojang Digenjot, Rampung 2 Bulan Lebih Cepat
-
Emas Antam Diproyeksi Turun, Cek Ramalan Harganya untuk Pekan Depan
-
Nasabah Diminta Waspada Penipuan Digital Jelang Idulfitri, Salah Satunya Promo Belanja
-
BCA Ubah Jam Operasional Kantor Cabang Selama Nyepi dan Libur Lebaran, Catat Jadwalnya
-
Saham Energi Bersih Dinilai Menjanjikan di Era Transisi Energi
-
Pemerintah Masih Kaji Batas Nikotin dan Tar Produk Tembakau
-
Kuartal I Nihil IPO, BEI Pede Perdagangan Saham Tetap Ngebut
-
Emiten SMRA Sulap 850 Hektare di Gading Serpong Jadi Kawasan Hunian Terpadu