Bisnis / Keuangan
Jum'at, 30 Januari 2026 | 11:38 WIB
Ilustrasi. OSL Group, platform perdagangan aset digital dan pembayaran stablecoin di Asia, resmi mengumumkan perolehan pendanaan ekuitas sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,17 triliun. Foto ist.
Baca 10 detik
  • OSL Group raih pendanaan US$200 juta untuk ekspansi global & teknologi stablecoin.
  • Fokus pada akuisisi strategis dan pengembangan infrastruktur pembayaran digital patuh regulasi.
  • Resmi hadir di Indonesia di bawah pengawasan OJK dengan biaya trading rendah mulai 0,05%

Suara.com - OSL Group, platform perdagangan aset digital dan pembayaran stablecoin di Asia, resmi mengumumkan perolehan pendanaan ekuitas sebesar US$200 juta atau sekitar Rp3,17 triliun.

Langkah strategis ini dirancang untuk memperkokoh struktur permodalan perusahaan sekaligus mempercepat ekspansi global di sektor pembayaran digital.

Manajemen OSL Group menyatakan bahwa dana segar tersebut akan dialokasikan untuk beberapa pilar pertumbuhan utama, di antaranya membidik entitas perdagangan dan pembayaran berlisensi di berbagai yurisdiksi global, pengembangan infrastruktur teknologi untuk solusi pembayaran B2B dan stablecoin dan memperkuat penetrasi di sektor ekonomi riil melalui produk unggulan seperti OSL BizPay dan stablecoin USDGO.

CFO OSL Group, Ivan Wong, menekankan bahwa pendanaan ini merupakan validasi pasar terhadap visi kepatuhan regulasi perusahaan. "Putaran ini memungkinkan kami menangkap peluang tepat waktu untuk mengakuisisi entitas berlisensi di berbagai negara," ujarnya.

Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan di Asia Tenggara, OSL Group kini resmi beroperasi di tanah air melalui OSL Indonesia. Platform ini telah mengantongi izin dan berada di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

OSL Indonesia menawarkan standar keamanan global dengan sentuhan lokal, termasuk biaya trading kompetitif mulai dari 0,05% dan aksesibilitas investasi dengan minimum transaksi hanya Rp2.000. Hal ini diharapkan mampu mendorong adopsi aset digital yang bertanggung jawab di pasar Indonesia yang dinamis.

Load More