- Pemerintah bangun PLTN bertahap mulai 500 MW hingga target 7 GW pada 2034.
- Nuklir bagian dari target 70 GW listrik baru, dengan 76% berasal dari energi hijau.
- Indonesia buka peluang investasi dan kerja sama teknologi nuklir sipil internasional.
Suara.com - Pemerintah Indonesia berencana melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pengerjaannya dilakukan bertahap hingga tahun 2034 mendatang.
Hal ini disampaikan Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo. Keputusan tersebut dikatakannya menjadi bagian dari arah besar transisi energi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 10 tahun ke depan.
“Pemerintah juga telah memutuskan untuk memulai pengadaan 7 Gigawatt tenaga nuklir,” kata Hashim dalam acara Indonesia Economic Summit (IES), Rabu (4/2/2026).
Hashim menjelaskan, pembangunan PLTN tahap awal dimulai dengan kapasitas 500 megawatt sebelum ditingkatkan secara progresif hingga mencapai 7 gigawatt pada 2034.
“500 Megawatt pada awalnya, seiring waktu hingga tahun 2034, akan menjadi 7 Gigawatt tenaga nuklir,” ujarnya.
Menurut Hashim, keputusan masuk ke energi nuklir tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari strategi besar RUPTL yang telah diumumkan pemerintah. Dalam rencana tersebut, Indonesia menargetkan pembangunan total 70 gigawatt pembangkit listrik dalam 10 tahun ke depan.
“Untuk 10 tahun ke depan, telah diumumkan bahwa 70 Gigawatt akan dibangun,” kata Hashim.
Ia menyebut, mayoritas tambahan kapasitas listrik nasional akan berasal dari sumber energi hijau dan terbarukan. Pemerintah menargetkan 76 persen proyek kelistrikan berasal dari energi bersih.
“76 persen di antaranya akan berasal dari perusahaan sejenis Masdar dan lainnya,” ujarnya.
Baca Juga: Prabowo Bakal Tambah Polisi Hutan Jadi 70.000 Personil
Ia menambahkan, keputusan membangun PLTN juga menarik minat banyak negara untuk terlibat dalam investasi maupun penyediaan teknologi. Pemerintah membuka peluang kerja sama internasional dalam pengembangan nuklir sipil.
“Banyak negara telah menunjukkan niat untuk masuk dan berpartisipasi dalam investasi, juga menjual teknologi dan sebagainya,” ujarnya.
Di luar energi terbarukan dan nuklir, Hashim menyebut gas alam tetap akan digunakan sebagai sumber energi transisi. Pemerintah menilai gas masih dibutuhkan untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional.
“Sisanya akan disediakan oleh gas alam, yang kami anggap sebagai bahan bakar transisi,” kata Hashim.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
Terkini
-
Diam-diam Danantara Beli Saham GOTO, Nilai Transaksinya Dirahasiakan
-
Berapa Besaran Pesangon PHK Menurut UU Cipta Kerja? Pahami Komponen dan Cara Menghitungnya
-
Trump Lontarkan Sinyal Damai dengan Iran saat Cadangan Minyak AS Merosot Tajam
-
BSI Tunjuk Bos Besar MUI jadi Komisaris, Dulu Pernah Kritik Prabowo Agar Keluar dari BoP
-
OJK Bongkar Penipuan di Tren Event Olahraga, Ini Modusnya
-
Banjir Impor Baja Murah asal China, Krakatau Osaka Steel Resmi Umumkan Kebangkrutan
-
Apa Itu Ekspedisi Patriot (TEP)? Program Pemerintah dengan Fasilitas Beasiswa Jepang
-
Harga Pangan Hari Ini: Bawang hingga Cabai Kompak Naik, Beras dan Minyak Goreng Ikut Terkerek
-
Era Bakar Uang Berakhir! Kini Fintech RI Masuk Fase Jaga Kandang dan Akuntabilitas
-
Rupiah Ambyar, Pengamat: RUU Perampasan Aset Bisa Jadi Juru Selamat