- BRMS mengklarifikasi penyegelan Satgas PKH hanya di titik pembukaan lahan ilegal, bukan area produksi aktif CPM di Palu.
- Aktivitas produksi tambang emas terbuka River Reef di Poboya berjalan normal tanpa terpengaruh isu penyegelan konsesi tersebut.
- CPM meningkatkan kapasitas pabrik pengolahan menjadi 2.000 ton bijih per hari, ditargetkan selesai Oktober 2026.
Suara.com - Manajemen PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) akhirnya angkat bicara guna meluruskan simpang siur pemberitaan media mengenai isu penyegelan konsesi tambang emas milik perseroan di Palu, Sulawesi Tengah.
Klarifikasi ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai situasi lapangan yang melibatkan anak usaha mereka, PT Citra Palu Minerals (CPM).
Dalam keterangan resminya, manajemen BRMS memaparkan sejumlah fakta krusial untuk menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan dan investor.
Setidaknya ada tiga poin utama yang ditegaskan oleh perusahaan terkait dinamika di wilayah kontrak karya tersebut.
Fakta pertama yang diklarifikasi adalah mengenai tindakan pemerintah melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Manajemen membenarkan adanya penyegelan, namun tindakan tersebut dilakukan di satu titik tertentu yang ditemukan telah terjadi pembukaan lahan tanpa izin oleh pihak penambang liar.
“Area yang disegel tersebut merupakan bagian dari kontrak karya yang dikelola oleh PT Citra Palu Minerals (CPM) di Palu, Sulawesi, yang sampai saat ini masih belum ditambang dan dioperasikan oleh CPM,” ungkap manajemen BRMS, Senin (16/2/2026).
Dengan kata lain, lokasi yang terdampak bukanlah area produksi aktif milik perusahaan, melainkan area yang menjadi sasaran aktivitas ilegal pihak luar.
Poin kedua yang menjadi sorotan adalah keberlanjutan operasional inti perusahaan. BRMS menegaskan bahwa tambang emas River Reef di Poboya, Palu, yang saat ini dikelola CPM dengan metode penambangan terbuka (open pit mining), sama sekali tidak terpengaruh oleh isu tersebut.
Baca Juga: Portofolio Berdarah-darah Saat IHSG Anjlok, Bertahan atau Menyerah?
Seluruh aktivitas produksi di lokasi ini dipastikan berjalan normal seperti biasa guna memenuhi target perusahaan.
Sejalan dengan operasional yang stabil, fakta ketiga menunjukkan bahwa CPM tengah fokus pada ekspansi bisnis. Saat ini, salah satu fasilitas pemrosesan emas milik perusahaan sedang dalam tahap peningkatan kapasitas.
Pabrik yang semula hanya mampu mengolah 500 ton bijih per hari, kini ditingkatkan secara signifikan menjadi 2.000 ton bijih per hari.
Langkah optimasi pabrik tersebut diproyeksikan selesai pada Oktober 2026 mendatang. Keberhasilan peningkatan kapasitas ini diyakini akan memberikan dampak instan terhadap lonjakan volume produksi emas tahunan BRMS di penghujung tahun 2026.
Lebih lanjut, CPM juga tengah mempersiapkan tonggak sejarah baru dengan menargetkan pengoperasian tambang emas bawah tanah (underground mining) pada semester kedua tahun 2027.
Proyek ini menjadi sangat strategis mengingat tambang bawah tanah tersebut memiliki kualitas bijih yang tinggi dengan kadar emas berkisar antara $3,5$ hingga $4,9$ gram per ton (g/t).
Dengan integrasi pabrik yang lebih besar dan mulai beroperasinya tambang bawah tanah berkadar tinggi tersebut, manajemen optimis produksi emas BRMS akan mengalami akselerasi yang lebih masif pada akhir 2027 atau awal 2028.
Berita Terkait
-
Deretan Saham Konsumsi dan Ritel yang Berpotensi Cuan saat Ramadan 2026
-
IHSG Hari Ini Libur atau Tidak? Ini Jadwal Resmi Bursa dan Analisisnya
-
Tak Cuma BUMI, Ini Saham-saham Bakrie yang Harganya Meroket
-
Kapitalisasi Pasar Saham RI Kembali Naik Tembus Rp 14.889 triliun
-
DEWA Tuntaskan Buyback Saham Hampir Rp 1 Triliun, Rampung Lebih Awal
Terpopuler
- Teman Sentil Taqy Malik Ambil Untung Besar dari Wakaf Alquran di Tanah Suci: Jangan Serakah!
- Biar Terlihat Muda Pakai Lipstik Warna Apa? Ini 5 Pilihan Shade yang Cocok
- Link Download 40 Poster Ramadhan 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Edit
- 7 HP Flagship Terkencang Versi AnTuTu Februari 2026, Jagoannya Gamer dan Multitasker
- Kenapa Pajak Kendaraan Jateng Naik, tapi Jogja Tidak? Ini Penjelasannya
Pilihan
-
Jangan ke Petak Sembilan Dulu, 7 Spot Perayaan Imlek di Jakarta Lebih Meriah & Anti Mainstream
-
Opsen Pajak Bikin Resah, Beban Baru Pemilik Motor dan Mobil di Jateng
-
Here We Go! Putra Saparua Susul Tijjani Reijnders Main di Premier League
-
Kabar Baik dari Elkan Baggott untuk Timnas Indonesia
-
Jaminan Kesehatan Dicabut, Ribuan Warga Miskin Magelang Tercekik Cemas: Bagaimana Jika Saya Sakit?
Terkini
-
Dasco Ungkap Pengusaha ASEAN Diculik, Indonesia Kini Jadi 'Surga' bagi Investor
-
Lewat BPBL, Kementerian ESDM dan PLN Wujudkan Penyambungan Listrik Gratis bagi 750 Warga Bengkulu
-
Waspada Modus Penipuan Meniru Petugas Pajak, Ini 6 Cirinya!
-
Rupiah Loyo ke Rp16.823 per Dolar AS, Cek Kurs di Mandiri, BNI, BRI, dan BCA
-
BRI Peduli Salurkan Bantuan Sarana Produksi untuk Dukung UMKM Kreatif Sumbar
-
Purbaya Akui Indonesia Tak Berpihak ke Ekonomi Syariah, Singgung Peran Menteri Agama
-
Bahlil Bongkar Borok Produksi Minyak: 22 Ribu Sumur Nganggur!
-
3 Hari Jelang Ramadan, Harga Cabai Rawit Masih Pedas dan Daging Kerbau Melambung
-
BI: Ekonomi Syariah Jadi Pilar Strategis Hadapi Ketidakpastian Global
-
Prabowo Kumpul Bareng Lima Konglomerat, Janji Perkuat Segala Lini Investasi