Bisnis / Makro
Selasa, 17 Februari 2026 | 13:14 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. [Dok. Kemenkeu]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya meragukan klaim bahwa industri busana muslim syariah Indonesia adalah yang terbesar di dunia saat ini.
  • Purbaya mengungkapkan bahwa 99 persen produk busana muslim di pasar dalam negeri dikuasai oleh produsen dari Tiongkok.
  • Pemerintah berencana memberikan insentif serta mendorong pembentukan asosiasi untuk meningkatkan penguasaan pasar busana muslim lokal.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa miris dengan stigma industri syariah Indonesia, khususnya busana muslim, dianggap terbesar di dunia. Padahal kenyataannya tidak.

"Ada informasi bahwa, industri syariah kita, baju ya, terbesar di dunia. Ya kalau iya saya syukur, tapi kayaknya enggak begitu," kata Purbaya di acara Sharia Ekonomi Forum 2026, dikutip Selasa (16/2/2026).

Menkeu Purbaya bercerita kalau dirinya pernah datang ke pameran busana muslim yang digelar Bank Indonesia (BI). Ia sempat kagum dengan baju-baju syariah yang dipamerkan dalam acara tersebut.

Namun di pameran itu, ia mendapatkan laporan bahwa kenyataannya 99 persen baju-baju muslim dikuasai oleh produsen China, bukan Indonesia. Ia menduga kalau masuknya produk impor China ilegal itu juga karena ulah oknum pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu.

"Jadi mungkin dari China masuknya sebagian juga ilegal, karena orang Bea Cukai saya mungkin lalai," lanjutnya.

Maka dari itu Purbaya ingin melindungi pasar domestik agar produk buatan dalam negeri, khususnya busana muslim lokal, bisa menguasai pasar.

Ilustrasi busana muslim. Foto: Koleksi busana muslim berbahan satin untuk keluarga rancangan brand fashion, kami. (Suara.com/Ririn Indriani)

Ia juga meminta para pengusaha ekonomi syariah untuk menciptakan iklim usaha yang baik mulai dari manajemen dan finansial agar mereka bisa menguasai pasar domestik. Bendahara Negara juga menyarankan para pelaku usaha untuk membentuk asosiasi ekonomi syariah.

"Pasar muslim besar, dan lain-lain. Cuma kalau kita lihat kondisi dalam negeri, agak memprihatinkan. Enggak ada kan? (Pemimpin asosiasi ekonomi syariah). Nah itu agenda besar, tapi pemimpinnya saja enggak ada, imamnya enggak ada dalam bisnis syariah. Jadi kita mesti serius memperbaiki itu," beber dia.

Purbaya lalu menyayangkan kenapa pengusaha lokal justru tidak menguasai pasar busana muslim, padahal Indonesia memiliki banyak umat Islam. Maka dari itu dia siap memberikan insentif apabila diperlukan.

Baca Juga: Fakta-fakta Toko Tiffany & Co Disegel Purbaya: Barang Selundupan Spanyol, Ada Kongkalikong Bea Cukai

"Kita tahu pasar kita besar. Orang islam makin lama makin banyak jumlahnya. Tapi kita tidak menguasai kapasitas produksi maupun keahlian dalam mengembangkan bisnis yang berbasis syariah. Saya sih mengundang teman-teman untuk membuat strategi kebijakan apa. Nanti diskusi dengan teman-teman di Kementerian Keuangan. Kalau bisa ada insentif yang kita berikan, kita akan berikan. Tapi diskusinya yang benar-benar ya," jelasnya.

Load More