- Harga minyak bergerak stabil pada Selasa 17 Februari 2026 karena latihan militer Iran di Selat Hormuz mempengaruhi suplai.
- Harga Brent berjangka turun sedikit menjadi $68,59, sementara WTI menguat $63,73 per barel di tengah libur pasar.
- OPEC+ diproyeksikan meningkatkan produksi minyak mulai April untuk mengantisipasi permintaan musim panas dan harga tinggi.
Suara.com - Harga minyak bergerak stabil pada Selasa 17 Februari 2026 karena pelaku pasar memantau potensi hambatan suplai akibat latihan militer Iran di Selat Hormuz.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penantian hasil negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung dalam waktu dekat.
Presiden AS Donald Trump, menyatakan akan memantau negosiasi di Jenewa secara tidak langsung dan optimis bahwa Iran berniat mencapai kesepakatan.
Meski demikian, sebelumnya dia sempat menegaskan bahwa pergantian rezim di Iran merupakan skenario terbaik bagi stabilitas kawasan.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka turun 0,2 persen menjadi 68,59 dolar AS per barel pada pukul 01.06 GMT (08.06 WIB ), setelah mengalami kenaikan 1,3 persen pada hari Senin.
Sementara, harga minyak mentah WTI tercatat menguat 1,34 persen menjadi 63,73 dolar AS per barel.
Kenaikan sebesar 84 sen ini merupakan akumulasi pergerakan harga sejak Senin, mengingat tidak adanya penetapan harga penyelesaian (settlement) pada hari tersebut menyusul libur nasional Presidents Day di AS.
Banyak pasar tutup pada hari Selasa karena libur Tahun Baru Imlek, termasuk di China daratan, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, dan Singapura.
Analis ANZ, Daniel Hynes, dalam laporan risetnya menyatakan bahwa pasar masih fluktuatif akibat ketidakpastian geopolitik yang terus berlanjut.
Baca Juga: PHR Raih Minyak Mentah 1.274 BOPD dari Uji Coba Sumur Libo
"Jika ketegangan di Timur Tengah mereda, atau kemajuan yang berarti dicapai dalam situasi di Ukraina, premi risiko yang saat ini terkandung dalam harga minyak dapat dengan cepat menghilang. Namun, hasil negatif atau eskalasi lebih lanjut justru dapat berdampak positif bagi harga minyak," ujarnya.
Sebagaimana dilaporkan Iran telah memulai latihan militer pada hari Senin di Selat Hormuz, jalur air internasional yang vital dan rute ekspor minyak dari negara-negara Teluk Arab, yang telah menyerukan diplomasi untuk mengakhiri perselisihan tersebut.
Sementara analisis dari Citigroup Inc. memproyeksikan bahwa OPEC+ akan meningkatkan produksi jika hambatan suplai dari Rusia mempertahankan harga Brent pada level 65–70 dolar AS per barel.
Berdasarkan informasi dari internal organisasi, OPEC+ berencana menaikkan output mulai April mendatang guna mengantisipasi lonjakan permintaan di musim panas serta merespons tren penguatan harga akibat eskalasi hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
"Skenario dasar kami adalah kesepakatan Iran dan Rusia-Ukraina akan terjadi pada atau selama musim panas tahun ini, yang berkontribusi pada penurunan harga menjadi 60-62 dolar AS/bbl Brent," tulis Citi dalam anaslisisnya.
Berita Terkait
-
RI Bakal Punya Pembangkit Nuklir, Hashim Djojohadikusumo: 70 Gigawatt Akan Dibangun
-
Mayoritas Harga Pangan Turun, Cabai Rawit Merah Masih Naik Tembus Rp 62.000/kg
-
AS - Iran Memanas di Selat Hormuz, Brent Tembus 67 Dolar AS
-
Efek Venezuela dan Sentimen OPEC+, Harga Minyak Melemah ke Level 69 Dolar AS
-
Tensi AS-Iran dan Cuaca Ekstrem AS Dongkrak Harga Minyak
Terpopuler
- Ratusan Honorer NTB Diberikan Tali Asih Rp3,5 Juta Usai Putus Kontrak
- Lupakan Aerox atau NMAX, Skutik Baru Yamaha Ini Punya Traksi dan Agresivitas Sempurna di Trek Basah
- Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
- 5 Serum Penumbuh Rambut Terbaik untuk Rambut Menipis dan Area Botak
- Anggota DPR RI Mendadak Usul Bangun 1.000 Bioskop di Desa Pakai Dana APBN 2027
Pilihan
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
Terkini
-
Misbakhun Nilai Pelemahan Rupiah Sekarang Tak Seburuk 1998
-
IHSG Bergejolak Karena Ekspor Dikendalikan Danantara, Pemerintah Harus Siapkan Mitigasi
-
Isu Sejumlah Merek Kendaraan Dilarang Beli Pertalite, Pertamina: Hoaks!
-
Pasca-Blackout Sumatra, Pasokan Listrik 8,3 Juta Pelanggan Diklaim PLN Mulai Pulih
-
Indikasi Awal, PLN Sebut Gangguan Cuaca jadi Penyebab Blackout di Sumatera
-
LPS Ajak Generasi Muda Kuasai Teknologi dan Mitigasi Risiko Keuangan
-
Aceh hingga Jambi Mati Blackout, Dirut PLN Minta Maaf!
-
Menkeu Purbaya Dorong Peran Swasta, Optimis Ekonomi Indonesia Tumbuh Lebih Cepat
-
Purbaya Sebut Krisis 1998 Tak Akan Terulang, Optimis 6 Bulan Lagi Orang Susah Berkurang
-
Pertamina Dorong Perempuan Berkontribusi di Industri Energi