- PT Elnusa Petrofin mengimplementasikan Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Banten, untuk bisnis energi rendah karbon.
- Green Terminal adalah sertifikasi fasilitas pelabuhan berbasis delapan pilar keberlanjutan guna mendukung NZE 2060.
- Terminal ini mendukung distribusi Green Hydrogen dari PGE untuk operasional listrik terminal, menurunkan emisi tidak langsung.
Suara.com - PT Elnusa Petrofin (EPN), anak usaha PT Elnusa Tbl. (ELSA) mulai menjalankan bisnis energi rendah karbon dengan implementasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari penguatan praktik ESG sekaligus membuka ruang ekspansi bisnis berbasis green energy di lingkungan Pertamina Group.
Keterlibatan Elnusa Petrofin dinilai sebagai langkah strategis jangka panjang. Perusahaan mulai mempertegas positioning sebagai penyedia jasa energi terintegrasi yang adaptif terhadap tren transisi energi global dan target Net Zero Emission (NZE) 2060.
Program Green Terminal sendiri dirancang sebagai skema sertifikasi fasilitas pelabuhan berbasis delapan pilar keberlanjutan. Pilar tersebut mencakup sistem manajemen lingkungan, infrastruktur berstandar internasional, digitalisasi operasional, teknologi ramah lingkungan, ekonomi sirkuler, pengendalian kualitas lingkungan, perlindungan biodiversitas, hingga penguatan kapasitas SDM.
Transformasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat daya saing aset energi nasional di tengah tuntutan pasar global yang semakin ESG-driven.
Direktur Transformasi & Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono, menyampaikan bahwa Green Terminal merupakan bagian dari pengembangan ekosistem green energy dan implementasi Roadmap NZE 2060 Pertamina.
"Inisiatif ini sekaligus sebagai upaya memperkuat daya saing perusahaan dalam menghadapi tuntutan global terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab," ujarnya seperti dikutip, Rabu (18/2/2026).
Terminal LPG Tanjung Sekong dipilih sebagai proyek percontohan karena perannya yang strategis dalam infrastruktur energi nasional. Terminal ini berkontribusi sekitar 35–40 persen terhadap kebutuhan LPG nasional, memiliki kapasitas penyimpanan 98.000 metrik ton, serta dermaga berkapasitas hingga 65.000 DWT.
Bagi Elnusa Petrofin, peran dalam proyek ini tidak berhenti pada aspek operasional. Perusahaan terlibat sebagai mitra logistik dalam rantai nilai green energy Pertamina, khususnya mendukung distribusi Green Hydrogen yang diproduksi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) dari panas bumi Ulubelu.
Baca Juga: Transisi Energi Tak Cuma Proyek Jumbo, Kini Startup Energi Hijau Ikut Tancap Gas
Green Hydrogen tersebut dimanfaatkan untuk mendukung operasional pembangkit listrik rendah karbon milik PT Pertamina Energy Terminal (PET) di Tanjung Sekong.
Pemanfaatan pembangkit berbasis hidrogen hijau ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal sekaligus menurunkan emisi tidak langsung (Scope 2).
Direktur Utama PT Elnusa Petrofin, Doni Indrawan, menegaskan dukungan terhadap Green Terminal menjadi bagian dari transformasi bisnis perusahaan menuju layanan logistik energi yang lebih berkelanjutan.
Melalui partisipasi dalam rantai distribusi energi rendah karbon, Elnusa Group menilai terdapat potensi recurring revenue baru di segmen transisi energi.
Diversifikasi ini diharapkan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham sekaligus memperkuat posisi perusahaan dalam lanskap industri energi yang tengah bergerak menuju dekarbonisasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
Pilihan
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
-
Regime Change! Kongres AS Usul Donald Trump dan Menteri Perang Dicopot Pekan Depan
-
Kebakaran di Gedung Satreskrim Polres Jakarta Barat, 13 Mobil Damkar Dikerahkan
Terkini
-
CFX Dorong Kepercayaan Aset Digital Lewat Forum Diskusi CFX Connect Vol.2
-
Selat Malaka Milik Siapa? Bikin Singapura Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz
-
Proyeksi Ekonomi RI Turun, Purbaya Tantang Balik World Bank Suruh Minta Maaf
-
14 Hari Penentu Nasib Dunia: Perundingan AS-Iran Gagal, Ekonomi di Ambang Kehancuran
-
Purbaya Kecolongan soal Motor Listrik MBG, Ada Miskom dengan Anak Buah
-
Mimpi Besar Prabowo Terancam, World Bank Beri Catatan Ini
-
Banyak Investor Ambil Untung, IHSG Merah Lagi di Sesi I
-
Berapa Tarif yang Dikenakan Iran untuk Lewati Selat Hormuz?
-
BRI Jadi Merek Paling Bernilai di Indonesia Versi Brand Finance Global 500 2026
-
Akui Harga Plastik Naik, Industri Mulai Cari Bahan Baku Lain di Luar Timur Tengah