- Pada Jumat, 20 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil naik 0,59 persen ke level 8.322 pagi hari.
- Sebanyak 319 saham mengalami kenaikan nilai pada perdagangan tersebut, sementara 193 saham tercatat mengalami penurunan.
- BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG melanjutkan tren positif selama bertahan di atas support 8.230.
Suara.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung berbalik menghijau pada perdagangan, Jumat, 20 Februari 2026. IHSG melesat ke level 8.300.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga pukul 09.07 WIB, IHSG masih betah naik 0,59 persen ke level 8.322.
Pada perdagangan pada waktu itu, sebanyak 2,97 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,70 triliun, serta frekuensi sebanyak 238.100 kali.
Dalam perdagangan di waktu tersebut, sebanyak 319 saham bergerak naik, sedangkan 193 saham mengalami penurunan, dan 446 saham tidak mengalami pergerakan.
Adapun, beberapa saham yang menjadi Top Gainers pada waktu itu diantaranya, SOTS, ARKO, GEMA, AGII, KOCI, KING, MGLV, IPAC, RMKO, BELL, MGNA.
Sedangkan, saham yang masuk dalam Top Loser diantaranya, ROCK, SSTM, SKBM, ARGO, BOLT, NSSS, GRPM, ASPR, SPRE, CSAP, FITT.
Proyeksi IHSG
IHSG menutup perdagangan terakhir dengan koreksi tipis di tengah tekanan pasar global dan aksi jual investor asing.
Meski kemarin terkoreksi, BRI Danareksa Sekuritas menilai pergerakan IHSG masih dalam jalur positif.
Baca Juga: Hanya Bertahan Sehari, IHSG Balik Memerah Lagi di Level 8.200
"Secara teknikal, koreksi ini masih bersifat wajar dan belum mengubah struktur tren bullish jangka menengah. IHSG berpeluang melanjutkan penguatan terbatas selama bertahan di atas area support 8.230, dengan resistance psikologis terdekat di 8.400." tulis manajemen BRI Danareksa Sekuritas.
Artinya, selama IHSG mampu menjaga level 8.230 sebagai area penopang, peluang rebound tetap terbuka dengan target penguatan ke area 8.400 dalam jangka pendek.
Dari sisi sentimen, pelaku pasar akan mencermati rilis data Current Account kuartal IV-2025. Neraca transaksi berjalan diproyeksikan surplus sekitar USD 2 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus USD 4 miliar pada kuartal III-2025.
Selain itu, perkembangan pertemuan Presiden Prabowo dengan Presiden Amerika Serikat terkait potensi kesepakatan tarif juga menjadi perhatian investor. Dinamika hubungan dagang kedua negara berpotensi memengaruhi sentimen pasar keuangan domestik.
Dalam laporan tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham pilihan untuk dicermati, yakni: TINS, ADMR, PSAB.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
IHSG Masih Jatuh ke Jurang di Jumat Pagi, Bertahan di Level 6.000
-
Harga Minyak Bangkit Lagi, Damai AS-Iran Masih Abu-abu
-
Profil 'Super-Trader' Danantara Sumberdaya Indonesia, Sang Penyelamat Rp15.400 Triliun
-
10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga CPO, Modus Operandinya Lintas Negara
-
Rekomendasi Saham Saat IHSG Anjlok Parah dan Ketidakpastian Politik
-
Realisasi KUR Mandiri Tembus Rp14,54 Triliun hingga April 2026
-
Perang Timur Tengah Picu Gejolak Ekonomi Global, Bos BI Waspadai Arus Modal Keluar
-
Moodys: Kontrol Ekspor Tambang oleh SDI Bikin Indonesia Ditinggal Investor
-
Operasi CANTVR Dihentikan, Diduga Tawarkan Investasi Ilegal
-
Produk Ekspor Indonesia Bisa Laku di Karena Rupiah Melemah, Tapi Ada Syaratnya