- Defisit APBN Januari 2026 mencapai Rp 54,6 triliun (0,21% PDB), dianggap terkendali sesuai desain rancangan.
- Realisasi pendapatan negara per Januari 2026 tercatat Rp 172,7 triliun, ditopang kuat oleh penerimaan perpajakan.
- Belanja negara terealisasi Rp 227,3 triliun (tumbuh 25,7% yoy), menunjukkan akselerasi untuk mendorong stabilitas ekonomi nasional.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan kalau defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per Januari 2026 mencapai Rp 54,6 triliun atau 0,21 persen dari Produk Domestik Bruto.
Menkeu Purbaya menilai kalau APBN tekor sebesar Rp 54,6 triliun itu masih dalam tahap kendali dan sesuai dengan rancangan.
“Posisi defisit APBN tercatat mencapai Rp 54,6 triliun atau hanya 0,21 persen dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Februari 2026 di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Senin (23/2/2026).
Sementara itu keseimbangan primer turut mencatatkan defisit Rp 4,2 triliun atau 4,7 persen terhadap APBN.
Penerimaan negara per Januari 2026
Adapun realisasi pendapatan negara tercatat sebesar Rp 172,7 triliun atau 5,5 persen dari target APBN sebesar Rp 3.153,6 triliun.
Angka ini ditopang oleh penerimaan perpajakan dengan realisasi sebesar Rp 138,9 triliun atau 5,2 persen dari target. Ini terdiri dari penerimaan pajak Rp 116,2 triliun (4,9 persen) serta kepabeanan dan cukai Rp 22,6 triliun (6,7 persen).
Sementara itu, pendapatan negara bukan pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 33,9 triliun atau 7,4 persen dari target.
Belanja negara per Januari 2026
Baca Juga: Viral Alumni LPDP Tolak Anak WNI, Purbaya: 20 Tahun Lagi Dia Nyesel!
Sementara itu realisasi belanja negara tercatat Rp 227,3 triliun atau 5,9 persen dari target, tumbuh 25,7 persen (yoy).
Pertumbuhan belanja pemerintah pusat (BPP) mencapai 53,3 persen (yoy) dengan realisasi Rp131,9 triliun atau 4,2 persen dari target.
Angka itu terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 55,8 triliun atau 3,7 persen dan belanja non K/L sebesar Rp 76,1 triliun atau 4,6 persen dari target.
Sedangkan realisasi transfer ke daerah (TKD) mengalami pertumbuhan 0,6 persen (yoy) dengan realisasi Rp 95,3 triliun atau 13,8 persen dari target.
Purbaya menyimpulkan kalau secara keseluruhan APBN 2026 tetap berfungsi optimal sebagai shock absorber sekaligus motor penggerak ekonomi.
“Dengan pendapatan yang tumbuh positif, belanja yang terakselerasi, dan defisit yang tetap terkendali, kita optimis APBN akan terus menjaga stabilitas sekaligus mendukung momentum pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2026,” jelasnya.
Berita Terkait
-
Viral Alumni LPDP Tolak Anak WNI, Purbaya: 20 Tahun Lagi Dia Nyesel!
-
Momen Menkeu Purbaya Live Bareng Anak saat Sahur, Jawab Pertanyaan Netizen Soal Korupsi hingga MBG
-
Anggaran Pendidikan 2026 Naik, Mendikdasmen Pastikan MBG Tak Kurangi Dana Sekolah
-
Pastikan Anggaran Pendidikan Naik, Mendikdasmen Bantah MBG Pangkas Dana Sekolah
-
Modus Underinvoicing, Toko Emas Bening Luxury Disegel Bea Cukai
Terpopuler
- Ogah Bayar Tarif Selat Hormuz ke Iran, Singapura: Ingat Selat Malaka Lebih Strategis!
- Harga Minyak Dunia Turun Drastis Usai Pengumuman Gencatan Senjata Perang Iran
- Proyek PSEL Makassar: Investor Akan Gugat Pemkot Makassar Rp2,4 Triliun
- 5 Rekomendasi Tablet Murah dengan Keyboard Bawaan, Jadi Lebih Praktis
- Sepeda Lipat Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Rekomendasi Terbaik untuk Gowes
Pilihan
-
Mendadak Jakarta Blackout Massal: Sempat Dikira Peringatan Hari Bumi, MRT Terganggu
-
Benjamin Netanyahu Resmi Diseret ke Pengadilan Duduk di Kursi Terdakwa
-
Biadab! Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera di Gaza pakai Serangan Drone
-
Iran Tuduh AS-Israel Langgar Kesepakatan, Gencatan Senjata Terancam Batal
-
Jambret Bersenjata di Halmahera Semarang: Residivis Kambuhan yang Tak Pernah Belajar
Terkini
-
Malaysia Geram Singapura Bawa-bawa Selat Malaka soal Penutupan Selat Hormuz oleh Iran
-
Panen Raya dan Stok Bulog Melimpah, Kenapa Harga Beras Justru Naik?
-
Rencana Kerja 2026: Lima Strategi Pertamina di Tengah Dinamika Geopolitik Global
-
Bank Dunia Puji Hilirisasi RI: Pelopor Industrialisasi Dunia, Potensi Cuan Masih Melimpah!
-
HET Beras di Maluku-Papua Jebol Berbulan-bulan, Pengamat: Janji Pemerintah Gagal Ditepati
-
Bank Dunia Puji Resiliensi Ekonomi RI, Sebut Indonesia Punya 'Tameng' Hadapi Gejolak Energi Dunia
-
Prabowo Gaspol Program 100 GW: Selamat Tinggal Diesel, Indonesia Menuju Mandiri Energi!
-
Alasan Danantara Ngebet Jalankan Proyek PSEL: Masyarakat Tak Mampu Bayar Iuran Sampah
-
Usai Lepas SariWangi ke Grup Djarum, Unilever (UNVR) Kini Jual Buavita?
-
Realisasi BBM Subsidi 2026 Aman, Stok Nasional di Atas 16 Hari