Bisnis / Makro
Senin, 25 Mei 2026 | 12:41 WIB
Wakil Menteri Keuangan Juda Agung di acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah yang disaksikan virtual, Senin (25/5/2026). [Screenshot YouTube OJK]
Baca 10 detik
  • Wamenkeu Juda Agung menegaskan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh dari potensi krisis ekonomi nasional.
  • Data APBN hingga Mei 2026 menunjukkan pertumbuhan pendapatan negara dan pajak yang signifikan disertai defisit terkendali.
  • Pemerintah terus menjaga kedisiplinan fiskal melalui APBN yang ekspansif dan terukur di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Suara.com - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengungkapkan kalau Indonesia masih jauh dari krisis ekonomi layaknya periode tahun 1997-1998. Ini sekaligus bantahan terhadap sentimen negatif yang tersebar di media sosial.

Wamenkeu Juda Agung mengklaim kalau Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan ekonomi tinggi, inflasi terkendali, serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang masih terjaga.

Ia lalu memaparkan data APBN KiTa edisi Mei 2026, di mana Pendapatan Negara mencapai Rp 918,4 triliun atau tumbuh 13,3 persen dari tahun sebelumnya (year on year/yoy). Khusus Penerimaan Pajak, kategori ini juga mencapai Rp 646,3 triliun atau tumbuh 16,1 persen yoy.

Sementara itu Belanja Negara mencapai Rp 1.082,8 triliun atau tumbuh 34,3 persen yoy. Berkat pengeluaran lebih besar dari pendapatan, defisit APBN tercatat 0,64 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Dibandingkan dengan bulan Maret atau kuartal satu mengalami penurunan dari 0,92 persen menjadi 0,6 persen," kata Juda Agung di acara Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah yang disaksikan virtual, Senin (25/5/2026).

Sementara itu Keseimbangan Primer mengalami surplus Rp 28 triliun per April 2026. Juda menyebut kalau ini menunjukkan APBN RI dalam tahap ekspansi, namun masih terukur.

Lebih lanjut ia menyatakan kalau dalam situasi global yang tak menentu, Pemerintah mesti menjaga APBN untuk mendorong perekonomian maupun menjaga disiplin fiskal di tengan kenaikan harga minyak dunia.

"Banyak kalangan di media, termasuk media sosial mengatakan, ekonomi kita menuju krisis seperti 97-98. Kalau melihat angka-angka tadi, jauh dari situasi krisis," jelasnya.

Baca Juga: Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Load More