Bisnis / Makro
Senin, 25 Mei 2026 | 12:27 WIB
Transmisi Terganggu Akibat Cuaca, Polri Pastikan Pasokan Listrik Wilayah Sumatera Telah Normal Pasca Blackout [Suara.com/Faqih]
Baca 10 detik
  • Polri dan PLN memastikan pasokan listrik di wilayah Sumatra telah pulih sepenuhnya pada Senin, 25 Mei 2026.
  • Pemadaman massal terjadi akibat cuaca ekstrem di Jambi yang merusak jaringan transmisi SUTET pada 22 Mei 2026.
  • Penyelidikan mendalam kepolisian menyimpulkan tidak ditemukan unsur sabotase maupun kelalaian manusia dalam gangguan kelistrikan tersebut.

Suara.com - Korps Bhayangkara bersama PT PLN (Persero) membawa kabar baik terkait krisis energi yang sempat melumpuhkan aktivitas di Pulau Sumatra.

Wakil Kepala Bareskrim (Wakabareskrim) Polri, Irjen Pol Nunung Syaifuddin, memastikan bahwa pasokan setrum untuk seluruh wilayah terdampak pasca-pemadaman massal (blackout) kini telah kembali normal.

“Saat ini kondisi sistem kelistrikan di wilayah Sumatra telah berhasil dipulihkan sepenuhnya,” ujar Nunung dalam konferensi pers bersama manajemen PLN di Mabes Polri, Jakarta, Senin (25/5/2026).

Nunung menguraikan, pasokan daya sebesar 5.579 megawatt (MW) kini telah berhasil dialirkan kembali ke 1.770 jaringan distribusi pelanggan yang sebelumnya terdampak pemadaman. Sistem kelistrikan dilaporkan berada dalam performa stabil, namun pengawasan ketat terus berjalan demi menjaga kontinuitas pasokan energi bagi pemukiman masyarakat dan fasilitas publik.

Berdasarkan laporan resmi PLN, interkoneksi di seluruh Sumatra sudah pulih 100 persen serta beroperasi secara aman.

Akar Masalah: Cuaca Ekstrem Jambi Picu Efek Domino
Berdasarkan hasil penyelidikan tim gabungan, duduk perkara ambruknya sistem kelistrikan ini murni disebabkan oleh faktor alam.

“Hasil identifikasi awal diketahui bahwa pada Jumat tanggal 22 Mei 2026 sekitar pukul 18.44 WIB, telah terjadi gangguan pada jaringan transmisi SUTET 275 kV jalur Muara Bungo - Sungai Rumpeh di wilayah Jambi,” papar Nunung.

Hantaman cuaca buruk di lokasi tersebut memicu kerusakan fisik yang memaksa jalur transmisi utama ini keluar dari sistem interkoneksi kelistrikan Sumatra. Putusnya jalur ini seketika memisahkan sistem kelistrikan Sumatra Bagian Utara (SBU) dan Sumatra Bagian Tengah (SBT).

Pemisahan jalur secara mendadak ini memicu ketidakseimbangan beban (load) yang sangat besar dalam waktu singkat. Akibat beban pembangkit yang terlampau berat, frekuensi listrik langsung merosot drastis dan memicu efek domino.

Baca Juga: iCar V23 Gebrak Pasar Indonesia Harga Mulai Rp 389 Juta Siap Tantang Kompetitor SUV Listrik

Demi melindungi perangkat dari kerusakan fatal akibat lonjakan tegangan (over supply), sejumlah pembangkit listrik secara otomatis melakukan trip atau mematikan sistem pertahanan diri secara mandiri. Insiden ini berujung pada lumpuhnya 176 gardu induk dan membuat sebagian besar wilayah Sumatra gelap gulita.

Puslabfor Periksa Konduktor SUTET yang Terputus

Meski indikasi awal mengarah pada faktor alam, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri tetap melakukan investigasi mendalam untuk memastikan tidak adanya unsur kelalaian ataupun sabotase.

Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Irhamni, menyatakan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim khusus ke titik putus sambungan SUTET tiang 175 - 176 di Desa Tempino, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi pada Minggu (24/5/2026).

“Tim Direktorat Tipidter Bareskrim Polri didampingi oleh Puslabfor Bareskrim Polri dan PLN melakukan pengecekan lokasi. Barang bukti berupa konduktor yang putus dibawa ke Puslabfor Bareskrim dan Litbang PLN untuk diperiksa lebih lanjut,” jelas Irhamni.

Hingga saat ini, proses uji laboratorium terhadap material kabel konduktor raksasa tersebut masih berjalan. Namun, Irhamni menegaskan bahwa dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), pihak kepolisian belum menemukan adanya indikasi tindak pidana.

“Sejauh ini belum ditemukan indikasi kesengajaan manusia dalam putusnya konduktor itu,” pungkasnya.

Load More