Bisnis / Makro
Kamis, 26 Februari 2026 | 14:41 WIB
Kapal tanker PT Buana Lintas Lautan Tbk.
Baca 10 detik
  • Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menunjukkan fluktuasi ekstrem, mencapai Rp685 (20 Jan) lalu turun ke Rp368 (awal Feb).
  • Pada 26 Februari 2026, BULL menguat 50,81% ke Rp555 didukung transaksi masif, namun juga mencatat aksi jual asing.
  • BULL sedang bertransisi model bisnis menjadi platform energi dan lepas pantai terdiversifikasi, fokus pada aset gas dan FSRU.

Suara.com - Pergerakan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar setelah menunjukkan fluktuasi harga yang cukup ekstrem dalam dua bulan terakhir.

Setelah sempat menyentuh level tertinggi di Rp685 pada 20 Januari 2026, harga saham emiten pelayaran ini sempat merosot tajam hingga ke titik Rp368 pada awal Februari lalu.

Namun, memasuki akhir Februari, emiten ini mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.

Pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (26/2/2026), BULL sempat melonjak 3,74% ke level Rp555, yang berarti telah menguat sekitar 50,81% dari titik terendahnya di bulan ini.

Aktivitas transaksi pun terpantau sangat masif dengan volume mencapai 1,07 miliar saham dan nilai transaksi menembus Rp602,62 miliar.

Data dari Stockbit Sekuritas mencatat adanya aksi beli bersih (net buy) senilai Rp43,6 miliar pada sesi tersebut.

Meski demikian, volatilitas harian tetap tinggi. Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 14.11 WIB, harga saham BULL kembali terkoreksi ke angka Rp525, atau melemah 1,87% dibandingkan harga pembukaan pasar.

Di sisi lain, pada sesi pertama, BULL juga masuk dalam daftar 10 saham dengan aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) terbesar.

BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam ulasan riset terbarunya menilai bahwa BULL tengah berada dalam fase transisi besar.

Baca Juga: IHSG Meloyo di Sesi Pertama Gegara Defisit APBN, 438 Saham Kebakaran

Perusahaan sedang mengubah model bisnisnya dari sekadar operator tanker minyak murni menjadi platform pengiriman energi dan lepas pantai yang terdiversifikasi.

Ekspansi ini mencakup sektor Liquefied Natural Gas (LNG), Floating Storage Regasification Unit (FSRU), hingga Floating Production Storage and Offloading (FPSO/FSO).

Beberapa poin penting dalam ulasan BRIDS meliputi:

  • Diversifikasi Pendapatan: Mulai tahun fiskal 2026, aset berbasis gas diproyeksikan bakal menyumbang lebih dari 50% total pendapatan perusahaan. Hal ini diharapkan mampu menekan volatilitas laba yang selama ini terlalu bergantung pada fluktuasi tarif spot tanker.
  • Proyek Strategis Nasional: Dalam RUPTL 2025–2034, terdapat rencana pembangunan 5 unit FSRU, di mana BULL telah masuk dalam daftar pendek (shortlist) konsorsium pengembang.
  • Prospek Kontrak Jangka Panjang: Ekspansi ke sektor FPSO/FSO di wilayah Asia Tenggara berpotensi mengamankan kontrak jangka panjang dengan durasi 10 hingga 20 tahun, memberikan kepastian arus kas di masa depan.

Secara fundamental, pasar tanker dunia saat ini masih berada dalam kondisi pasokan yang ketat.

DISCLAIMER: Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Artikel ini disusun berdasarkan data pasar harian dan ulasan riset dari BRI Danareksa Sekuritas per Februari 2026. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.

Load More