- Saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menunjukkan fluktuasi ekstrem, mencapai Rp685 (20 Jan) lalu turun ke Rp368 (awal Feb).
- Pada 26 Februari 2026, BULL menguat 50,81% ke Rp555 didukung transaksi masif, namun juga mencatat aksi jual asing.
- BULL sedang bertransisi model bisnis menjadi platform energi dan lepas pantai terdiversifikasi, fokus pada aset gas dan FSRU.
Suara.com - Pergerakan saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) kembali menjadi pusat perhatian pelaku pasar setelah menunjukkan fluktuasi harga yang cukup ekstrem dalam dua bulan terakhir.
Setelah sempat menyentuh level tertinggi di Rp685 pada 20 Januari 2026, harga saham emiten pelayaran ini sempat merosot tajam hingga ke titik Rp368 pada awal Februari lalu.
Namun, memasuki akhir Februari, emiten ini mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan.
Pada penutupan sesi I perdagangan Kamis (26/2/2026), BULL sempat melonjak 3,74% ke level Rp555, yang berarti telah menguat sekitar 50,81% dari titik terendahnya di bulan ini.
Aktivitas transaksi pun terpantau sangat masif dengan volume mencapai 1,07 miliar saham dan nilai transaksi menembus Rp602,62 miliar.
Data dari Stockbit Sekuritas mencatat adanya aksi beli bersih (net buy) senilai Rp43,6 miliar pada sesi tersebut.
Meski demikian, volatilitas harian tetap tinggi. Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 14.11 WIB, harga saham BULL kembali terkoreksi ke angka Rp525, atau melemah 1,87% dibandingkan harga pembukaan pasar.
Di sisi lain, pada sesi pertama, BULL juga masuk dalam daftar 10 saham dengan aksi jual bersih oleh investor asing (net foreign sell) terbesar.
BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam ulasan riset terbarunya menilai bahwa BULL tengah berada dalam fase transisi besar.
Baca Juga: IHSG Meloyo di Sesi Pertama Gegara Defisit APBN, 438 Saham Kebakaran
Perusahaan sedang mengubah model bisnisnya dari sekadar operator tanker minyak murni menjadi platform pengiriman energi dan lepas pantai yang terdiversifikasi.
Ekspansi ini mencakup sektor Liquefied Natural Gas (LNG), Floating Storage Regasification Unit (FSRU), hingga Floating Production Storage and Offloading (FPSO/FSO).
Beberapa poin penting dalam ulasan BRIDS meliputi:
- Diversifikasi Pendapatan: Mulai tahun fiskal 2026, aset berbasis gas diproyeksikan bakal menyumbang lebih dari 50% total pendapatan perusahaan. Hal ini diharapkan mampu menekan volatilitas laba yang selama ini terlalu bergantung pada fluktuasi tarif spot tanker.
- Proyek Strategis Nasional: Dalam RUPTL 2025–2034, terdapat rencana pembangunan 5 unit FSRU, di mana BULL telah masuk dalam daftar pendek (shortlist) konsorsium pengembang.
- Prospek Kontrak Jangka Panjang: Ekspansi ke sektor FPSO/FSO di wilayah Asia Tenggara berpotensi mengamankan kontrak jangka panjang dengan durasi 10 hingga 20 tahun, memberikan kepastian arus kas di masa depan.
Secara fundamental, pasar tanker dunia saat ini masih berada dalam kondisi pasokan yang ketat.
DISCLAIMER: Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi. Artikel ini disusun berdasarkan data pasar harian dan ulasan riset dari BRI Danareksa Sekuritas per Februari 2026. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor.
Berita Terkait
-
IHSG Sesi 1 Terkoreksi ke Level 8.255: BUMI Laris Manis, INDS Anjlok Paling Parah
-
Trading Saham Global Kini Bisa 24 Jam Nonstop
-
IHSG Fluktuatif di Awal Perdagangan, Cermati Support 8.200
-
Mantan Bos GoTo Bongkar Asal-Usul Dana Rp809 M di Sidang Chromebook: Hasil 32 Juta Lembar Saham Baru
-
Indonesia Tuan Rumah Red Bull Cliff Diving 2026, Tebing T-Rex Nusa Penida Jadi Panggung Adrenalin
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
Terkini
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Harga Plastik Melonjak Tinggi Gegara Minyak, Sektor Industri Terancam?
-
Kementan Akan Tindak Tegas Mafia Minyak Goreng
-
Wamentan Klaim Indonesia Surplus 800.000 Hewan Kurban
-
Suara Konsumen: Kartu Kredit Maybank Belum Diterima, Tapi Sudah Dipakai
-
Dugaan Manipulasi Ekspor CPO Wilmar dan Musim Mas Jadi Sorotan Dunia
-
Kanwil DJP Intensif Penagihan Aktif, Nunggak Pajak Rekening Bisa Diblokir?
-
Rupiah Melemah Terus-menerus Akibat Kebijakan Pemerintah
-
Taipan RI Berharta Rp243 T Justru Gadai Saham Demi Dapat Utang Bank
-
Alasan Rekening Warga Senilai Rp330 Miliar Tiba-tiba Diblokir Dirjen Pajak