- Bursa Kripto CFX memandang positif prospek aset kripto 2026 meski kondisi global tidak menentu.
- CFX berencana memperkuat ekosistem dengan mengembangkan produk aset kripto berizin mulai tahun 2026.
- CFX menurunkan biaya transaksi secara bertahap menjadi 0,01% untuk menarik pelaku industri dan pasar domestik.
Suara.com - Bursa aset kripto, Bursa Kripto CFX tetap optimistis prospek pasar aset kripto di 2026, meski adanya ketidakpastian kondisi global. Bursa Kripto CFX memandang, minat masyarakat akan aset kripto tetap tinggi, apalagi sebagai pilihan investasi selain saham.
Direktur Utama CFX, Subani, mengatakan Bursa Kripto CFX sebagai bursa aset kripto pertama yang berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), memperkirakan pasar aset kripto memasuki tahun 2026 akan tetap terdampak kondisi global yang dinamis meski adopsi korporasi meningkat secara perlahan.
"Fokus bursa kripto CFX pada 2026 adalah mendorong penguatan ekosistem, salah satunya melalui pengembangan produk aset kripto yang berizin," ujar Subani.
Subani menuturkan, kondisi makroekonomi global masih menjadi faktor penentu pertumbuan industri aset kripto di Indonesia. Namun, instabilita global tidak cukup untuk menghilangkan minat konsumen dalam berinvestasi di aset kripto.
"Karena itu, aset kripto diperkirakan masih akan menunjukkan tren tang relatif positif memasuki tahun 2026," katanya.
Bursa CFX mencatat, hingga saat ini jumlah konsumen aset kripto di Indonesia tercatat mencapai 19,56 juta orang.
Sementara itu, sebanyak 973 korporasi diketahui telah memiliki aset digital dalam portofolio investasinya. Lalu, nilai transaksi kripto sepanjang 2025 mencapai Rp 482,23 triliun.
Untuk memantik banyaknya Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) untuk menjadi anggota, Bursa CFX pun melakukan inovasi dengan menurunkan biaya transaksi secara bertahap.
Saat ini, biaya transaksi bursa berada di level 0,04 persen per transaksi. Subani mengatakan, biaya tersebut akan diturunkan menjadi 0,02 persen mulai 1 Maret 2026, dan kembali dipangkas menjadi 0,01 persen pada 1 Oktober 2026.
Baca Juga: Harvard Borong Ethereum Rp1,4 Triliun, Pasar Kripto Kembali Bergairah
"Dengan biaya transaksi yang lebih kompetitif, kita sedang membangun pangsa pasar yang lebih besar," katanya.
Kebijakan ini disambut positif para pelaku industri. CEO Indodax William Sutanto meyakini bahwa efisiensi struktur biaya adalah kunci untuk keberlanjutan industri aset kripto secara jangka panjang.
Ia menjelaskan, salah satu permasalahan di industri aset kripto adalah struktur biaya yang dinilai lebih mahal sehingga mengakibatkan konsumen bertransaksi aset kripto di platform luar negeri yang sebenarnya tidak berizin resmi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Struktur biaya yang lebih efisien dan kompetitif merupakan angin segar bagi industri aset kripto karena dapat mendorong frekuensi transaksi yang lebih tinggi. Hal tersebut juga dapat menarik kembali para konsumen yang selama ini bertransaksi di platform luar untuk kembali masuk ke dalam negeri. Jangka panjangnya, ini dapat memperdalam likuiditas pasar domestik serta membuat ekosistem kita menjadi lebih kompetitif dibanding pasar global,” sambut William.
Berita Terkait
-
Dirut Bursa Kripto CFX: Volume Kripto Offshore 2,5 Kali Lebih Besar dari Dalam Negeri
-
CFX Perkecil Biaya Transaksi Demi Dongkrak Daya Saing Pasar Kripto RI
-
Bursa Kripto Jadi Acuan Harga Emas Dunia saat Pasar AS Tutup di Tengah Perang
-
Industri Kripto di Dalam Negeri Tumbuh Lebih Sehat Usai Bursa CFX Pangkas Biaya Transaksi
-
Pertama di Dunia! Perusahaan Ini Bayar Dividen Pakai Emas Kripto
Terpopuler
- Sejumlah Harga BBM Naik Hari Ini, JK: Tidak Bisa Tahan Lagi Negara Ini, Keuangannya Defisit
- 5 HP Xiaomi yang Awet Dipakai Bertahun-tahun, Performa Tetap Mantap
- Tak Perlu Mahal! Ini 3 Mobil Bekas Keluarga yang Keren dan Nyaman
- Bedak Sekaligus Foundation Namanya Apa? Ini 4 Rekomendasi yang Ringan di Wajah
- 5 Tinted Sunscreen yang Bagus untuk Flek Hitam dan Melasma
Pilihan
-
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, IRGC: Amerika Serikat Perompak!
-
Selat Hormuz Kembali Ditutup? Iran Dituding Tembak Kapal Tanker di Dekat Oman
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
Terkini
-
Target Tembus Rp563 Miliar, CBDK Optimis Properti PIK 2 Makin Dilirik Investor
-
Awas, Risiko Kebocoran Solar Subsidi Imbas Harga BBM Nonsubsidi Naik Gila-gilaan
-
BBRI atau BMRI? Pakar Senior Ini Ungkap Saham Pilihannya untuk Jangka Panjang
-
Cara Andi Hakim Tilap Dana Nasabah Rp28 Miliar, Modus 'BNI Deposito Investment'
-
Viral Gerakan Tutup Rekening, BNI Janji Kembalikan Dana Gereja di Aek Nabara
-
Skandal Dana Umat di Aek Nabara, BNI Janji Dana Gereja Dikembalikan Sepenuhnya
-
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz Sampai Waktu yang Tak Ditentukan, Gegara Ulah Trump
-
Pemerintah Segera Tutup Praktik Open Dumping di Seluruh TPA
-
Pemerintah Mulai Kaji Kereta Papua, Rute Sentani-Kota Jayapura Jadi Proyek Awal
-
Harga BBM Naik, Ini Warga RI yang 'Halal' Beli Bensin Subsidi