- Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menguat 3,42% menjadi Rp240 pada Kamis, 5 Maret 2026, setelah aksi akumulasi signifikan.
- Analisis teknikal mengindikasikan potensi *rebound* didukung formasi *hammer candlestick* pada kerangka waktu empat jam.
- HSBC–FUND SVS A/C Chengdong Investment Corporation (CIC) tidak lagi tercatat pemegang saham di atas 1% per 27 Februari 2026.
Suara.com - Saham raksasa PT Bumi Resources Tbk (BUMI) terpantau bergerak atraktif pada sesi pertama perdagangan Kamis, 5 Maret 2026.
Harga saham emiten milik kolaborasi Grup Bakrie dan Grup Salim ini berhasil parkir di level Rp240, atau mencatatkan penguatan sebesar 3,42%.
Volume perdagangan BUMI terlihat sangat masif dengan lebih dari 1,9 miliar lembar saham berpindah tangan. Aktivitas transaksi ini mencatatkan nilai yang fantastis, yakni mendekati angka Rp500 miliar.
Lonjakan ini seolah menjadi pembalikan arah yang melegakan setelah pada perdagangan sehari sebelumnya BUMI sempat tersungkur hingga 7,14%.
Menariknya, penurunan harga kemarin justru dimanfaatkan banyak pihak untuk melakukan aksi akumulasi atau "serok bawah".
Sinyal Rebound Formasi Hammer
Semesta Indovest melihat adanya potensi kenaikan lanjutan bagi BUMI. Secara teknikal, pergerakan harga pada kerangka waktu 4 jam (time frame 4H) menunjukkan penolakan pada area support yang membentuk pola hammer candlestick.
"Setelah sempat terdistribusi, harga tertahan di level support dan membentuk pola hammer. Kami mengantisipasi harga akan berbalik arah (rebound) untuk melanjutkan penguatan," tulis laporan Semesta Indovest.
Bagi investor jangka pendek, mereka merekomendasikan strategi buy on breakout pada level 236 dengan target harga di kisaran 244-246. Untuk meminimalisir risiko, level stop loss disarankan berada di posisi 230.
Baca Juga: IHSG Lanjutkan Tren Negatif di Sesi I Turun 1,60%, 682 Saham Kebakaran
Di balik bergairahnya harga saham, muncul kabar mengejutkan dari komposisi pemegang saham.
Data terbaru dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 27 Februari 2026 mengungkap bahwa nama HSBC–FUND SVS A/C Chengdong Investment Corporation (CIC) lenyap dari daftar pemegang saham di atas 1%.
Padahal, per 30 Januari 2026, lembaga investasi asal China tersebut masih tercatat memiliki lebih dari 10 miliar lembar saham BUMI melalui kustodian Bank HSBC Indonesia.
Hilangnya nama CIC ini memicu spekulasi luas di pasar, terutama terkait kemungkinan adanya pengalihan saham ke grup investor besar lain yang rumornya terus berhembus kencang belakangan ini.
Berdasarkan laporan KSEI terbaru (27 Februari 2026), struktur kepemilikan saham di emiten batubara ini masih didominasi oleh kekuatan besar berikut:
Mach Energy (Hongkong) Limited: Tetap menjadi pengendali utama dengan penguasaan 170 miliar saham (45,78%). Entitas ini merupakan kendaraan investasi milik Grup Salim.
Berita Terkait
-
Antam Borong 6 Ton Emas per Tahun dari Anak Usaha Merdeka Group
-
Saham ASII Diborong Lagi saat Harganya Murah
-
IHSG Mulai Bangkit, Pagi Ini Dibuka Melonjak 1,56%
-
Masuk Ekosistem 'Sultan' Kalsel, Pengendali Baru Emiten ASLI Gelar Tender Offer Rp 475 M
-
BEI Akui Pelemahan IHSG Imbas Perang Panas Iran vs Amerika dan Israel
Terpopuler
- Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Diperiksa Kejagung, Lodewyk Pusung dan Sony Sanjaya Ikut Diciduk
- Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Dijemput Kejagung, 2 Lainnya Dikejar untuk Ditangkap
- 5 HP dengan Kamera Telefoto Terbaik untuk Konten Media Sosial
- 3 HP Murah Samsung Terlaris Global Q1 2026: Mulai Sejutaan, Kamera Sudah OIS
Pilihan
-
Terbukti Korupsi! Immanuel Ebenezer 'Noel' Dijatuhi Hukuman 4,5 Tahun dan Denda Rp200 Juta
-
Purbaya Bantah Kabar Akan Dicopot dari Kursi Menteri Keuangan
-
Menkeu Purbaya Dikabarkan Bakal Dicopot Kamis Hari Ini
-
Wamen Imipas Silmy Karim Ditahan KPK, Terborgol Pakai Rompi Oranye Usai Drama Menyerahkan Diri
-
Mengejutkan! Ini Pesan Terakhir Wamen Imipas Silmy Karim Sebelum Dicari KPK Terkait OTT Imigrasi
Terkini
-
Emas Melesat, Perak Menggila! Ini Pemicu Lonjakan Harga Logam Mulia Hari Ini
-
Bertemu S&P, Purbaya Jelaskan Fondasi Ekonomi Indonesia Masih Kokoh
-
Viral Restoran di Bali Diduga Milik WN Israel, Bagaimana Hukum dan Aturannya?
-
Goldman Sachs Naikkan Target Indeks Pasar Berkembang, Proyeksi Cuan Besar?
-
Jangan Asal Investasi! Kenali Cara Membedakan Pialang Resmi dan Investasi Bodong
-
Day Trading atau Swing Trading? Ini yang Bisa Menguras atau Menyelamatkan Uang Anda
-
Warga Bantah Isu Eksodus di PSN Wanam, Justru Harap Ekonomi dan Lapangan Kerja Makin Tumbuh
-
UU P2SK Resmi Disahkan DPR dan Pemerintah, Ini Rincian 17 Poin Pentingnya
-
Purbaya Bela Danantara usai Diberi Outlook Negatif dari Lembaga Internasional Moody's
-
DSI Berpotensi Dongkrak Devisa dan Stabilkan Rupiah, Tapi Ada Risiko Tumpang Tindih Lembaga